Mengintip Sederet Upaya GMF AeroAsia Perbaiki Kinerja, Begini Perkembangannya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk atau GMF AeroAsia (GMFI) menjalankan sejumlah strategi untuk mengatasi kinerja keuangan Perseroan yang memburuk.

Secara garis besar, GMF AeroAsia mencatatkan penurunan jumlah pendapatan usaha dari realisasi flight hours dan event maintenance pada segmen bisnis inti Perseroan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pembatasan akibat pandemi COVID-19.

Perseroan telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalkan dampak penurunan aktivitas tersebut pada kinerja keuangan, antara lain melalui optimalisasi bisnis dari sektor maupun pasar yang tidak terlalu terdampak oleh pandemi.

Seperti penambahan volume bisnis di luar reparasi dan overhaul dari luar segmen pasar penerbangan komersial, serta penambahan volume bisnis pekerjaan non aviasi melalui proyek-proyek perawatan dan perbaikan Industrial Gas Turbine Engine (IGTE).

"Hingga saat ini, kontribusi pendapatan usaha dari segmen aviasi non-komersial, berkisar di angka 5 persen dari total pendapatan usaha dan Perseroan menargetkan segmen tersebut dapat mengisi sekitar 15 persen dari total pendapatan usaha Perseroan,” ujar manajemen Perseroan seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa, Senin (30/8/2021).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Langkah-Langkah Perseroan

Pesawat terparkir di depan bengkel pesawat atau hanggar terbesar di dunia milik PT Garuda Maintenance Facility di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Pembangunan hanggar ini menelan biaya puluhan juta dolar AS.(Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pesawat terparkir di depan bengkel pesawat atau hanggar terbesar di dunia milik PT Garuda Maintenance Facility di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Pembangunan hanggar ini menelan biaya puluhan juta dolar AS.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara untuk penambahan volume bisnis pekerjaan non aviasi, Perseroan saat ini masih terus secara intensif melakukan penetrasi pasar, serta pengembangan capability melalui kolaborasi dengan partner.

“Hingga saat ini, kontribusi segmen Industrial Services (IGTE) berkisar di angka 1 persen dari total pendapatan usaha dan Perseroan menargetkan segmen tersebut dapat berkontribusi sebesar 5 persen – 10 persen dari total pendapatan usaha dalam jangka panjang,” ujar manajemen.

Selain itu, Perseroan juga menempuh langkah efisiensi lainnya. Termasuk, penyesuaian jumlah tenaga alih daya, penyesuaian network outstation, redeployment SDM sesuai dengan beban kerja, serta penyesuaian struktur organisasi.

Saat ini, kebijakan-kebijakan terkait SDM yang telah dilakukan Perseroan antara lain, penyesuaian Benefit Pegawai, seperti Tunjangan Lembur, Konsesi Tiket Penerbangan, fasilitas asuransi kesehatan. Penundaan dan pemotongan pembayaran sebagian gaji berdasarkan level jabatan.

Lalu ada implementasi Multirole Personnel Function & Functional Career Development, dan Rightsizing Organisasi. Serta Terminasi Tenaga Alih Daya (sesuai kebutuhan minimum).

“Perseroan dalam hal ini, memiliki kebijakan SDM yang berbeda dengan induk Perseroan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA),” tutur manajemen.

Informasi saja, GIAA tengah menempuh sejumlah cara untuk menyelamatkan kondisi keuangan Perseroan yang mengalami turbulensi. Salah satu upayanya yakni menawarkan pensiun dini kepada karyawan GIAA.

Restrukturisasi Utang

Teknisi melakukan perawatan pesawat di hanggar terbesar di dunia milik PT Garuda Maintenance Facility di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Pembangunan hanggar ini menelan biaya puluhan juta dolar AS.(Liputan6.com/Angga Yuniar)
Teknisi melakukan perawatan pesawat di hanggar terbesar di dunia milik PT Garuda Maintenance Facility di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Pembangunan hanggar ini menelan biaya puluhan juta dolar AS.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perseroan saat ini juga melakukan negosiasi dengan kreditur untuk memperoleh relaksasi atau perpanjangan pembayaran kewajiban Perseroan. Adapun timeline negosiasi kreditur perbankan telah diselesaikan pada Agustus 2021. Sehingga selanjutnya Perseroan memperoleh penundaan pembayaran pokok pinjaman sampai dengan Juni 2022.

Sedangkan untuk vendor masih dilakukan negosiasi komitmen pembayaran secara berjalan sesuai perkembangan kondisi keuangan perseroan. Perseroan melakukan negosiasi secara intensif dengan vendor, termasuk melalui pendekatan manajemen, dengan lingkup negosiasi berupa Terminasi Kontrak dan Rescoping Kontrak.

"Hingga saat ini, Perseroan telah melakukan terminasi dan rescoping atas Sebagian besar kontrak berbasis flight hours untuk digantikan dengan skema retail, antara lain untuk tipe-tipe pesawat Boeing 737, Airbus A320, ATR 72, CRJ 1000. Negosiasi masih berlangsung untuk component pooling tipe pesawat Boeing 777 dan Airbus A330,” ungkap manajemen.

Di sisi lain, Perseroan menyadari risiko terbesar saat vendor tidak menyetujui negosiasi yang disampaikan perseroan dan dapat mengakibatkan hambatan operasional penyediaan material. Oleh karena itu, sebagai mitigasi, perseroan memberikan komitmen pembayaran secara minimum dan membatasi penambahan utang usaha sehingga jumlah utang usaha semakin menurun.

Serta untuk mendukung operasional perseroan melakukan pembelian secara cash in advance atau pembayaran di muka kepada vendor sesuai kebutuhan operasional perusahaan dan disesuaikan dengan kondisi keuangan perseroan.

Selain itu, untuk mendukung operasional penyediaan material dan memastikan keberlangsungan aktivitas perawatan, Perseroan menerapkan kebijakan Customer Supplied Parts (CSP) pada beberapa proyek pekerjaan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel