Mengintip wajah kerukunan Indonesia melalui Yogyakarta

Suasana tak biasa mewarnai lingkungan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di ponpes asuhan KH. Mu'tashim Billah itu, ribuan santri gegap gempita melantunkan lagu "Heal the Wolrd" yang dipopulerkan penyanyi dunia Michael Jackson.

Lagu legendaris dalam album Dangerous yang dirilis pada 1991 itu merupakan bentuk pesan Jackson yang ingin mengajak umat manusia berbuat baik kepada sesama serta makhluk hidup lainnya, termasuk kepada bumi.

Riuh rendah lantunan lagu ribuan santri mewujud sebuah atmosfer sekaligus simbol positif yang mengesankan para pemimpin berbagai agama di dunia kala mendatangi ponpes itu.

Tak hanya lagu perdamaian, para santri juga menyambut meriah tamunya itu dengan penampilan marching band, Tari Saman Aceh, hadrah Pandanaran, hingga koreografi yang memukau.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau karib disapa Gus Yahya memang sengaja membawa para peserta Forum Agama G20 (R20) mengunjungi pesantren itu pada Minggu (6/11) malam, sebagai agenda penutup perjumpaan mereka di Yogyakarta.

Dengan mantap dan penuh rasa bangga, Gus Yahya berkata bahwa pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan tradisional yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) untuk mencetak para pemimpin yang humanis dan toleran.

Di tempat semacam itulah ia bersama para pemimpin NU lain digembleng dan tumbuh.

Setidaknya ada 25.000 ponpes milik NU yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Kepada para pemuka agama dunia, Yahya menegaskan bahwa dengan latar belakang pendidikan seperti itu, Umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU yang memegang falsafah Pancasila, ikut mempertahankan negara tercinta sembari hidup harmonis di tengah keberagaman.

Zainab Zuwaij dari Kongres Islam Amerika mengaku bahagia dapat berkunjung untuk kali kedua di pesantren yang didirikan oleh KH Mufid Mas’ud pada 1975 itu.

Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) menemui ribuan santri Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu malam (6/11/2022) (ANTARA/Luqman Hakim)
Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) menemui ribuan santri Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu malam (6/11/2022) (ANTARA/Luqman Hakim)


Kendati para tokoh yang hadir pada Forum R20 berasal dari negara, akidah, hingga agama yang berbeda, perjumpaan mereka dengan para santri dan masyaikh di ponpes itu merengkuh titik temu, yaitu nilai kemanusiaan dan etika luhur.

Akhlak atau etika, merupakan dasar yang menjadi fondasi kehidupan.

Adapun pokok dari akhlak adalah saling memahami, cinta, kasih, toleransi, saling memaafkan, serta menghormati mereka, baik dari akidahnya maupun agamanya.

Forum R20 diikuti 338 peserta, berasal dari 32 negara. Mereka adalah pemuka hampir dari seluruh agama di dunia, mulai dari Islam, Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Shinto dan lainnya.


Situs Hindu di kampus Islam

Sehari sebelum tiba di Ponpes Sunan Pandanaran, peserta R20 mengunjungi kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km 14, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rektor UII Prof Fathul Wahid menyambut ramah rombongan, kemudian mengajak mereka menuju sebuah situs Hindu bernama Candi Kimpulan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Candi itu ditemukan secara tidak sengaja pada 11 Desember 2009 ketika dilakukan penggalian untuk fondasi proyek pembangunan perpustakaan UII.

Di antara rombongan, Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia, tampak antusias mengamati setiap sudut warisan sejarah itu.

Decak kagum para pemuka agama dunia tertuju pada betapa situs pemeluk Hindu dapat dirawat serta dijaga dengan baik di salah satu kampus Islam terbesar di Indonesia itu.

Menariknya lagi, desain bangunan perpustakaan UII kemudian diubah dan dirancang menyesuaikan posisi candi yang ditemukan belakangan.

Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) mengunjungi situs Candi Kimpulan di Kompleks Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (5/11/2022). (ANTARA/Luqman Hakim)
Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) mengunjungi situs Candi Kimpulan di Kompleks Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (5/11/2022). (ANTARA/Luqman Hakim)


Alih-alih menggunakan nama berbahasa Arab, Badan Wakaf UII justru mengusulkan nama lain dengan bahasa Sanskerta, yakni Pustakasala yang berarti "perpustakaan".

Candi Kimpulan di kompleks UII menjadi bukti sekaligus penegas bahwa di negara mayoritas Muslim, kehidupannya berlangsung dan berkembang dengan saling menghargai, serta sangat memberi ruang hidup yang terhormat kepada situs-situs dan komunitas non-Muslim.

Dengan saling melindungi serta menciptakan ruang berkembang untuk sesama, maka kesetaraan manusia bisa dijamin, sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Sekretaris Jenderal World Evangelical Alliance Pendeta Thomas Schirrmacher menaruh kesan bahwa kunjungan ke UII yang di dalamnya terawat sebuah Candi Hindu menjadi gambaran jelas wajah Islam di Indonesia sekaligus contoh yang baik terkait toleransi keyakinan.

Berangkat dari situ, Pendeta Thomas pun berharap pengaruh Indonesia benar-benar melesat jauh, tidak sekadar pada ajang R20, namun juga menjadi contoh bagi banyak negara lain di dunia.


Agama sebagai solusi

Selain mengunjungi Ponpes Sunan Pandanaran dan Kampus UII, para tokoh agama tersebut diajak mengunjungi Candi Prambanan, Candi Borobudur, serta Vihara Mendut.

Mengunjungi Yogyakarta setidaknya menjadi mukadimah yang baik dari perjalanan panjang Forum R20 untuk mewujudkan agama sebagai sumber solusi global, alih-alih sumber masalah.

Seruan agama sebagai sumber solusi global merupakan inti komunike atau pengumuman resmi yang disepakati dalam Forum agama G20 "Religion 20" (R20) yang mempertemukan para pemuka agama, sekte, dan tradisi dunia selama di Nusa Dua, Bali 2-3 November 2022.

Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) bercengkrama saat mengunjungi situs Candi Kimpulan di Kompleks Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (5/11/2022). (ANTARA/Luqman Hakim)
Para pemimpin agama dunia peserta Forum Agama G20 (R20) bercengkrama saat mengunjungi situs Candi Kimpulan di Kompleks Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (5/11/2022). (ANTARA/Luqman Hakim)


Dalam komunike itu, para pemuka agama dari anggota G20 dan negara lain seluruh dunia amat menyadari tantangan global, seperti kerusakan lingkungan, bencana alam dan buatan, kemiskinan, pengangguran, penggusuran, ekstremisme, hingga terorisme.

Menghadapi tantangan tersebut, dipersulit pula oleh rivalitas antara kekuatan-kekuatan utama dan merebaknya konflik berbasis identitas di seluruh dunia yang mengancam perdamaian serta keamanan dunia dan domestik, serta tergerusnya komitmen terhadap nilai-nilai etika dan spiritual yang penting untuk setiap orang dan masyarakat.

Karena itu, untuk menempatkan agama sebagai solusi dari semua itu, Forum R20 memanggil para pemimpin agama, politik, dan semua orang yang memiliki kehendak baik dari segala bangsa dan keyakinan untuk bergabung membangun aliansi global dalam nilai-nilai peradaban bersama.

Berdasar misi besar itulah, Gus Yahya, inisiator R20, memilih Yogyakarta untuk menunjukkan bahwa kehidupan yang rukun dan tenteram menjadi sebuah kewajiban yang harus dipraktikkan, dirawat, dan ditunjukkan oleh seluruh elemen bangsa di dunia dengan latar belakang apapun, baik dari sisi etnis, budaya, suku, maupun agama.

Untuk menjadi bagian solusi dari problem global, para tokoh agama di dunia tak punya waktu untuk saling berdebat apalagi menghujat.

Demikian pula saat muncul gesekan, mereka perlu segera membangun dialog, bukan malah bermonolog.