Mengirim Sepaket Kebahagiaan Anak dan Ibunda ke Penjuru Indonesia

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA, Diyan (28) baru saja tiba di kamar kostnya di Jalan Laut Aru No. 32, kota Manado sehabis bekerja. Beberapa teman kostnya sudah memejamkan mata. Rasa lelah dan mengantuk membuat Diyan ingin cepat menyusul teman-temannya larut ke alam mimpi.

Namun sebuah paket yang dari tadi berada di dalam tasnya menanti untuk dibuka. Di atas paket itu, yang dikirim menggunakan JNE, tertera alamat pengirim yang tak lain adalah rumahnya, Pos Pengumben, Jakarta Barat. Selain alamat, juga tertera nama yang sangat ia rindukan, Ibunya. Perlahan, ia buka paket itu.

“Rasanya kalau terima paket dari mamah itu lebih dari senang,” kata Diyan saat diwawancara Liputan6.com

Isi paket itu berbeda dari yang biasa dikirim Ibunya. Maklum, Diyan baru saja berulang tahun 12 Oktober lalu. Karena itu, Ibunya mengirim paket spesial berupa bunga, dan kartu ucapan.

Diyan sendiri sudah 3,5 tahun merantau di Sulawesi. Ia bekerja sebagai analis kinerja dan pelaporan manajemen di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebelum dipindah tugaskan di Manado, ia lebih dahulu dua tahun bekerja di Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Pulau Sangihe berjarak sekitar 251 kilometer dari Kota Manado. Sangihe juga termasuk salah satu pulau terluar Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina di utara.

Dari kota Manado ke Tahuna dapat menggunakan jalur udara maupun laut. Penerbangan dari Bandara Sam Ratulangi, Manado ke Naha, Tahuna memakan waktu kurang lebih 50 menit dan hanya dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WITA. Sedangkan untuk penerbangan sebaliknya dari Tahuna ke Manado pukul 08.15 WITA.

Tak Menyangka

Pemandangan kota Tahuna dari atas perbukitan jalur transportasi darat dari Bandar Udara Naha. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)
Pemandangan kota Tahuna dari atas perbukitan jalur transportasi darat dari Bandar Udara Naha. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Diyan sendiri tidak menyangka akan ditempatkan di Tahuna. Sebelum resmi menjadi karyawan, ia harus menjalani pelatihan di Sekolah Calon Perwira (Secapa) Bandung, pembidangan di Cipayung, lalu perkenalan di Manado selama 10 hari. Saat perkenalan itulah, ia menerima pemberitahuan perihal penempatannya di Tahuna.

“Waktu itu senang campur sedih. Senang karena memang ingin merantau. Sebelumnya memang sudah berdoa ingin bekerja di tempat yang bisa untuk self-healing. Namun sedih karena sudah enam bulan tidak pulang,” katanya.

Merantau di Tahuna membawa kesan tersendiri bagi wanita lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia tersebut. Cuaca ekstrim membuat sinyal telponnya tidak selalu stabil. Alhasil, percakapan lewat telpon dengan sang Ibu untuk melepas kangen tidak bisa terlalu diandalkan.

“Kangen cerewetnya,” kata Diyan sembari tertawa.

Bagi Diyan, ibunya memang begitu spesial. Diyan mengaku sangat mengutamakan sosok ibunya tersebut.

“(Dia, red) salah satu ladang pahala saya. Orang kedua dalam hidup saya yang pasti akan saya bahagiakan setelah diri saya sendiri,” katanya.

Saling berkirim paket pun menjadi solusi Diyan melepas kangen dengan Ibunya. Apalagi, ia juga terhitung jarang pulang ke Jakarta lantaran tiket pesawat yang mahal. Di Tahuna sendiri hanya ada beberapa jasa pengiriman dan JNE adalah salah satunya. Diyan mengaku kerap meminta sang ibu mengirim barang-barang kebutuhannya.

“Biasanya skin care, baju dan makanan yang biasanya ada di Jakarta,” ujarnya.

Tidak Mengalami Gangguan

Pelayanan jasa ekspedisi JNE Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Pelayanan jasa ekspedisi JNE Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Selama menggunakan jasa JNE, Diyan mengatakan tak pernah mengalami gangguan keterlambatan. Malah, ia mengaku kerap dihubungi kurir jika paketnya sudah sampai. “Kadang ditelpon, lalu saya minta tolong untuk dititip satpam kantor,” katanya.

Kini, sudah 1,5 tahun ia pindah tugas ke Manado. Dibanding Tahuna, Manado jelas kota yang lebih besar. Sinyal telpon pun lebih stabil dibanding di Tahuna. Namun demikian, Diyan mengaku masih suka berkirim paket dengan sang Ibu.

“Kirim oleh-oleh khas Manado seperti Ikan Roa,” kata Diyan.

Mukena untuk Nek Wan

16 Agustus adalah tanggal istimewa bagi Sadad (32). Hari itu, Ibundanya berulang tahun yang ke-60. Sebuah kado spesial berupa mukena pun telah disiapkan istri bersama anaknya. Sadad kini tinggal di Depok, Jawa Barat.

Di atas paket itu tertulis ucapan, “Selamat ulang tahun nek Wan,” Kata nek Wan adalah sapaan akrab yang digunakan putra Sadad untuk menyapa sang nenek. Usai dikemas dengan rapi, paket itu pun ia kirim menggunakan JNE Reguler.

Tiga hari berselang, sebuah pesan pendek muncul di ponsel Sadad. “Makasih, paketnya sudah sampai,” Pesan itu berasal dari sang Ibu yang tinggal bersama ayah Sadad di Pontianak, Kalimantan Barat.

Tinggal jauh dari orangtua, Sadad terbiasa saling berkirim paket dengan mereka. Ia sendiri sudah merantau sejak 2008 saat masih berkuliah di Yogyakarta jurusan Hubungan Internasional.

Di tengah pandemi covid-19, frekuensi orangtuanya mengirimkan paket pun sempat meningkat. Maklum, pandemi membatasi mobilitas masyarakat termasuk orangtua Sadad. Biasanya, orangtuanya berkunjung satu hingga dua bulan sekali, untuk bercengkerama dengan keluarga Sadad terutama sang cucu, Aro.

“Pas awal pandemi kan tidak ada penerbangan. Jadi dia kirim paket. ‘Aro, wan tidak bisa ke sana dulu ya,” kata Sadad menirukan pesan orangtuanya.

Orangtua Sadad biasa mengirim makanan untuknya juga sang cucu. Makanan itu pun terasa spesial lantaran jarang ditemui di Jakarta. “Kirim crackers Malaysia karena di sini mahal. Atau dia kirim lempuk (dodol, red) durian khas Pontianak. Ikan juga,” katanya.

Sadad mengakui, setelah ia berkeluarga dan memiliki anak membuat orangtuanya lebih giat mengirim paket. Kebetulan, lokasi agen JNE cukup dekat dari rumah orangtuanya di daerah Kubu Raya, Pontianak. “Selalu JNE. Bahkan dia kadang mengirim barang yang sebetulnya sudah ada di sini,” ujar Sadad, yang bekerja sebagai karyawan swasta di daerah Jakarta Barat.

Kemudahan Pengguna

President Director JNE, M. Feriadi saat menjadi pembicara dalam acara Inspirato di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (15/5). (Liputan6.com/JohanTallo)
President Director JNE, M. Feriadi saat menjadi pembicara dalam acara Inspirato di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (15/5). (Liputan6.com/JohanTallo)

Kepastian tibanya paket dan mudahnya akses untuk mengirim barang tentu menjadi prioritas pelanggan saat memilih jasa ekspedisi. “Kehadiran yang semakin dekat dengan konsumen diharap bisa mempercepat proses pengiriman. Jika jauh, tentu ini akan menjadi kendala,” kata Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi saat diwawancara Liputan6.com.

Karena hal itu pula, JNE menurut Feriadi saat ini memiliki hingga hampir 8000 agen di seluruh Indonesia. Untuk mengontrol lalu-lintas pengiriman, perusahaan yang berdiri pada 26 November 1990 itu pun memiliki SOP (Standard Operating Procedure) yang ketat.

“Kita mempunyai SOP untuk memudahkan proses, apa yang kita lakukan tentu diawasi dan diaudit untuk memastikan semua proses operasional mematuhi SOP yang berlaku,” ujarnya.

Meski telah memiliki ribuan agen, Feriadi menuturkan JNE belum mencapai garis finis. Ia mengatakan masih ada target yang harus dicapai.

“Target akhirnya tentu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tetapi kalau mengikuti visi dan misi perusahaan, visinya menjadi perusahaan rantai pasok global terdepan di dunia. Misinya memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan secara konsisten,” katanya.

Salah satu usaha memberikan pengalaman itu adalah memastikan paket aman di tengah pandemi covid-19. Feriadi menuturkan, JNE telah menerapkan protokol kesehatan agar paket tidak menjadi sarana penularan virus.

”Kita memastikan ada kenyamanan buat pelanggan mengirim lewat JNE,” kata Feriadi mengakhiri.