Mengolah sampah plastik menjadi berkah di NTB

Permasalahan sampah sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak kunjung usai. Salah satu penyebabnya, masih minimnya kesadaran masyarakat akan lingkungan.

Bayangkan saja, setiap hari ada sekitar 185 ribu ton sampah di Indonesia tapi hanya sedikit yang dikelola dengan benar. Angka itu mengacu data dari Campaign Manager of Waste4Change Saka Dwi Hanggara.

Andai sampah itu dimasukkan ke dalam tong berukuran 1 meter kubik berarti butuh 185 ribu tong. Dan jika tempat sampah ini dibariskan satu per satu maka akan berderet sejauh 185 kilometer, lebih jauh dari jarak Jakarta-Bandung.

Memang menyeramkan melihat data tersebut. Akan tetapi berdiam diri tanpa mencari solusi tentu bukan pilihan bijaksana. Kreativitas mengolah sampah oleh kelurahan dan komunitas di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, patut dijadikan inspirasi.

Pemerintah Kelurahan Monjok Timur, Kota Mataram, NTB, misalnya, melakukan uji coba pengolahan sampah plastik menjadi paving block untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Yayasan Anak Oasis di Desa Jagaraga, Kediri, Lombok Barat, juga memanfaatkan sampah plastik sebagai ecobrick untuk pengganti batu bata.

Kreativitas pengelolaan sampah plastik menjadi barang bermanfaat seperti paving block atau batu bata bisa mencontoh yang dilakukan Lurah Monjok Timur Sumanto. Pada tahap uji coba, satu paving block klasifikasi K-200 membutuhkan tiga kilogram sampah plastik atau setara dengan tiga karung sampah plastik.

Dari sampah plastik tersebut bisa dibuat tiga paving block. Dalam proses pembuatan paving block dari sampah plastik ini dilakukan secara manual dengan alat tungku pembakaran seadanya.

Adapun jenis plastik yang digunakan adalah plastik kresek, bekas mi instan, bekas bungkus permen, jajan ringan, dan plastik lainnya yang tidak terpakai, sedangkan sampah plastik jenis botol atau kaleng sudah dipisahkan karena ada pangsa pasar tersendiri.

Sampah-sampah plastik yang tidak bisa diolah itu kemudian dimasukkan ke tungku pembakaran untuk dilelehkan secara bertahap. Setelah cair, barulah dituang ke cetakan dengan campuran seperempat pasir sebagai penguat.

Selanjutnya dimasukkan ke dalam air untuk membuka hasil paving block dari sampah plastik.

Apabila program pengolahan sampah plastik menjadi paving block dapat dikembangkan, itu akan efektif mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

Apalagi sampah plastik merupakan sampah sulit terurai, sebab membutuhkan waktu ratusan tahun. "Jadi, program ini bisa menjadi solusi ke depan dalam upaya pengurangan limbah plastik," kata Sumanto.

Untuk melanjutkan program itu butuh alat pembakaran dengan kapasitas lebih besar dan ramah lingkungan agar asap pembakaran tidak mengganggu warga sekitar.

Selain itu, tentu butuh sampah plastik dan jumlah banyak. Kalau sudah ada permintaan paving block dari limbah plastik, pihaknya pasti akan kekurangan sampah.

Terkait dengan itu, program tersebut akan dilaksanakan secara bertahap sambil mengajak masyarakat lebih aktif memilih dan memilah sampah dari rumah untuk diolah di "Istana Maggot" Kelurahan Monjok Timur.

Untuk pengolahan sampah organik terutama sisa makanan, Kelurahan Monjok Timur melaksanakan melalui budi daya maggot yang mampu menyerap 1,6 ton sampah rumah tangga per bulan.

Setiap 14 hari bisa panen hingga 80 kilogram dengan harga jual Rp6.000-Rp7.000 per kilogram.

Batu bata
Yayasan Anak Oasis di Desa Jagaraga, Kediri, Lombok Barat memanfaatkan sampah plastik sebagai ecobrick untuk pengganti batu bata.

Inge, pelopor ecobrick sekaligus pendiri yayasan itu mengatakan program ini bertujuan mengolah sampah plastik jadi pengganti batu bata di Lombok.

Program ecobrick sudah berlangsung sekitar 1 tahun. Sebagian botol sudah disulap menjadi taman bunga, kursi, dan meja. Sekarang, botol ecobrick sudah mencapai seribu lebih. Rencananya, botol yang terkumpul akan dijadikan sebagai pengganti batu-bata untuk dinding toilet.

Botol ecobrick cukup kuat dan tahan lama sehingga bisa dijadikan sebagai fondasi untuk membuat toilet. Secara teknis, sampah plastik yang sudah dicuci dan dipotong kecil nantinya diisi secara padat ke dalam botol mineral 600 mililiter dengan berat minimal 200 gram.

Produksi ecobrick disebut juga sebagai program penukaran botol. Metodenya mirip dengan bank sampah. Perbedaannya, bank sampah terbuka untuk umum, sedangkan penukaran botol di sini hanya untuk anggota yayasan ini.

Setiap anggota bisa menukarkan botol ecobrick dengan berbagai hadiah yang sudah disiapkan, seperti beras, minyak goreng, pakaian, parfum, dan sabun mandi. Jenis hadiah disesuaikan dengan jumlah botol yang ditukarkan.

Adapun tujuan lain dari ecobrick untuk memancing kesadaran dari ratusan anak yayasan ini agar meninggalkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Juga membantu perekonomian keluarga mereka dengan sistem penukaran botol di tengah wabah COVID-19.

Program ecobrick sangat membantu perekonomian Gujel, staf pendamping di yayasan itu. Botol ecobrick yang sudah dibuat, kemudian ditukar dengan beras dam minyak goreng. Tujuh ecobrick bisa ditukar dengan 5 kilogram beras.

Penukaran botol dilaksanakan setiap satu pekan sekali, harinya tidak menentu. Setiap anggota hanya diperbolehkan membawa sembilan botol ecobrick. Itu dibatasi, agar anak lain kebagian untuk menukarkan botol.

"Stok hadiah terbatas, jadi harus sama rata," kata Gujel.

Dahulu, sampah plastik yang ada di rumah dibuang ke sungai atau dibakar, sekarang dikumpulkan dan dimanfaatkan menjadi ecobrick.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Sitti Rohmi Djalilah berharap pembangunan pabrik Blocks Solutions Lombok dapat menjadi solusi daur ulang sampah plastik di provinsi itu.

Pemerintah berharap supaya semua sampah plastik di NTB itu bisa terkumpul dan didaur ulang.

Sitti berharap pembangunan pabrik itu dapat segera diselesaikan pada tahun ini sehingga NTB bisa memproduksi bata/batako dari plastik sendiri.

Pemerintah akan mengawal pembangunan pabrik itu di NTB hingga nantinya beroperasi.

Sampah memang menjadi masalah. Namun, kalau tahu cara mengolahnya, sampah bisa menjadi berkah.