Menguak Tiga Air Terjun Alami Pulau Sumba

TEMPO.CO, Waingapu- Ahad, 25 November 2012 pagi, Tempo bersama rombongan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyusuri jalan berliku dan berlubang menuju Desa Kananggar, Kecamatan Paberiwai, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk mencapai desa itu, kami harus menulusuri perjalanan yang sisi kiri-kanan terbentang tebing yang curam.

Kondisi jalan yang buruk menuju desa itu membuat perjalanan ke desa itu memakan waktu hingga empat jam. Apalagi jarak tempuh dari Waingapu, Ibu Kota Kabupaten Sumba Timur sekitar 80 kilometer (km) untuk mencapai desa itu. Akhirnya kami tiba juga di Desa Kananggar. 

Namun, kami harus kembali menelusuri lereng bukit yang tidak bisa di lalui  kendaraan. Sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer (km) untuk mencapai air terjun Hiruk Manuk yang masih sangat alami. Air terjun itu berada di tengah hutan belantara dengan ketinggian mencapai 62 meter.

Air terjun ini, biasa dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk kebutuhan air minum dan mandi. Sebenarnya, air terjun Hiru Manuk  memiliki pesona yang luar biasa, jika dikelola dengan baik. "Kami hanya manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Melkianus Metaiwa, warga Kananggar.

Walaupun diakuinya ada juga wisatawan lokal dan asing yang kadang berkunjung ke daerah itu, namun jumlahnya tidak banyak. Sebab keterbasan akses jalan menuju lokasi air terjun. "Orang dari Waingapu, kadang-kadang berkujung ke air terjun ini," katanya.

Masih alaminya air terjun itu pun dimanfaatkan oleh Perusahaan Listrik Negara untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat sekitar air terjun itu. "Kami akan membangun PLTMH dengan memanfaatkan air terjun ini," kata Manager Teknik PLN wilayah NTT, Nyoman Sudjana.

Terdapat tiga air terjun di Pulau Sumba yang akan dimanfaatkan PLN untuk pembangunan PLTMH itu, yakni air terjun Hiru Manuk di Sumba Timur, Lapopu di Sumba Barat dan Lokomboro di Sumba Barat Daya. "Kami akan kunjungi tiga air terjun yang akan dibangun PLTMH," katanya.

Hari berikutnya, rombongan kembali mengunjungi air terjun di Desa Lapopu, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat. Lapopu merupakan lokasi air terjun terindah di Pulua Sumba. Berbeda dengan air terjun Hiru Manuk, lokasi air terjun Lapopu ini sering dikunjungi wisatawan lokal dan asing.

Setiap pengunjung ke lokasi air terjun yang masih sangat alami dipungut biaya sebesar Rp 10 ribu per orang. Air terjun nan indah itu pun dimanfaatkan untuk diabadikan menggunakan kamera dan handphohe (hp). Untuk mencapai air terjun itu, kami harus melintas kali yang dialiri air terjun itu, sehingga membuat basah pakaian. Warga sekitar menyiapkan jembatan darurat untuk mencapai air terjun itu, namun telah rusak diterpa banjir dan belum diperbaiki. "Wow terlalu keren," kata Toni, salah seorang wisatawan yang berkunjung ke lokasi itu.

Selain dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sumber air terjun itu juga dimanfaatkan oleh investor untuk membangun PLTMH guna membangkitkan tenag listrik untuk melayani masyarakat daerah itu. Air terjun Lapopu ini bisa membangkitkan tenaga listrik 2x800 kilowaat (kw). "Sudah dibangun PLTMH untuk pembangkit listrik 2x800 kw," kata Paul Bolla, Humas PLN wilayah NTT.

Dari lokasi itu, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Lokomboro di Sumba Barat Daya. Air terjun Lokomboro ini sudah dimanfaatkan PLN untuk membangkitkan tenag listrik dengan kapasitas 1x800 kw dan 2x200 kw. Air terjun Lokomboro ini juga sering dijadikan lokasi wisata alam, karena berada di ketinggian yang mencapai 92 meter. Air terjun Lokomboro ini berasal dari dalam gua. Hutan nan indah di sekitar air terjun itu membuat suasana semakin eksotis.

Anda ingin mencobanya? Silahkan berkunjung ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pesona air terjun masih asli ditawarkan disana, tanpa mengeluarkan biaya yang cukup besar. Namun, siap-siap capek, karena harus berjalan kaki beberapa kilometer (km). 

YOHANES SEO

Berita terpopuler travel:

DIY Minta Desa Wisata Gelar Acara 2 Kali Setahun

Tempat Berburu Kain Tenun di Bukittinggi (3)  

Pameran Tjipanas Tempo Doeloe Sedot Pengunjung  

Pelaku Wisata Desak Kereta Jaladara Dijalankan Lagi

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.