Menguatkan persatuan bangsa dengan pendidikan dan moderasi beragama

·Bacaan 2 menit

Ketua Pengurus Besar (PB Al-Washliyah) Mahmudi Affan Rangkuti memandang perlu ada penguatan nilai-nilai agama dan kebangsaan yang fundamental, khususnya dalam hal keberagaman, sejak dini melalui aspek pendidikan dan moderasi beragama.

"Pendidikan dan melalui moderasi beragama inilah yang saya kira adalah cara jitu untuk dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan untuk disampaikan kepada masyarakat agar selalu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi itu sendiri," ujar Mahmudi Affan Rangkuti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Hal tersebut, menurut dia, perlu sebagai upaya untuk mengembalikan karakter luhur bangsa terkait dengan hidup masyarakat bangsa secara bersama-sama dan saling berdampingan dalam bingkai toleransi yang ada di negeri ini, sehingga menurutnya perlu bahwa moderasi begarama diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan.

Ia menegaskan bahwa moderasi beragama perlu untuk menjadi mata ajar di sekolah-sekolah. Moderasi beragama ini sangat memiliki banyak manfaat sebagai pengungkit sifat dan naluri kemanusiaan.

"Pada dasarnya sifat dan naluri manusia ini diciptakan untuk selalu mendambakan rasa cinta, kasih, dan sayang. Ini perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi," katanya.

Menurut dia, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi itulah sangat penting untuk diajarkan tentang nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama itu kepada masyarakat.

Baca juga: Menag: Permendikbudristek PPKS komitmen kembangkan moderasi beragama

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Semua agama hidup dalam bingkai Pancasila

Setelah mereka selesai menempuh pendidikan tinggal, lanjut dia, mempertebal atau memperdalam kembali toleransi dan moderasi beragama itu. Ini agar tidak hilang begitu saja, misalnya akibat dari adanya budaya-budaya luar yang masuk yang bisa merusak budaya bangsa ini.

Pria yang juga merupakan anggota Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama BNPT RI ini menilai maraknya kasus dan praktik intoleransi di negeri ini beberapa tahun belakangan ini tidak lepas dari kurangnya rasa memahami arti nilai keluhuran atas rasa cinta dan kasih sayang.

"Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna karena memiliki akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini semua berbasis cinta, kasih, dan sayang. Maka, perbuatan kepada manusia lainnya juga semestinya atas nama tersebut. Ini yang mesti ditanamkan agar pemahaman itu makin kuat," ujarnya.

Dari sudut pandang ajaran Islam, menurut Mahmudi, sejatinya toleransi adalah keniscayaan, buah dari nilai-nilai bahwa Islam adalah agama yang damai. Konsep rahmatal lil ‘alamin, memiliki arti agama yang mengayomi seluruh alam. Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati, bukan memaksa.

Karena keragamaan umat manusia dalam beragama adalah kehendak Allah Swt., menolak keragaman maka sama halnya menolak kehendak Allah Swt.

"Maka titik temu dalam keragaman adalah toleransi dalam bentuk moderasi atau menjadi titik tengah. Tidak ke kiri dan juga tidak ke kanan," ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI).

Baca juga: JMM sebut konsep moderasi agama tingkatkan indeks toleransi Indonesia

Baca juga: KH Mohammad Dian Nafi: Ucapan hari besar agama tidak perlu diributkan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel