Mengulas Rantai Komando Jika Rusia Akan Lepaskan Senjata Nuklir

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Vladimir Putin kembali menggalakkan kemungkinan Rusia mengerahkan senjata nuklirnya di Ukraina. Pada Rabu, dia mengatakan sistem rudal balistik baru seharusnya membuat musuh-musuh Moskow berhenti dan berpikir.

Saat mengumumkan invasi Rusia di Ukraina dua bulan lalu, Putin memperingatkan Barat yang berusaha ikut campur akan menanggung akibat "yang tak pernah kalian alami dalam sejarah kalian". Beberapa hari kemudian, dia memerintahkan pasukan nuklir Rusia siaga tinggi.

Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan bulan lalu, "prospek konflik nuklir, yang tidak pernah terpikirkan," sekarang memungkinkan.

Berikut rantai komando yang akan berlaku jika Rusia meluncurkan senjata nuklir, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (22/4).

Siapa yang memutuskan untuk meluncurkan senjata nuklir Rusia?

Dokumen 2020 yang disebut "Prinsip-Prinsip Dasar Kebijakan Negara Federasi Rusia untuk Pencegahan Nuklir" menyatakan presiden Rusia mengambil keputusan untuk menggunakan senjata nuklir.

Sebuah koper kecil, dikenal sebagai Cheget, selalu berada di dekat presiden Rusia sepanjang waktu, menghubungkannya dengan jaringan komando dan kontrol pasukan nuklir strategis Rusia.

Cheget tidak berisi tombol peluncur nuklir tapi menghubungkan perintah peluncuran dengan komando militer pusat yaitu perwira staf.

Cheget bisa mengirim kode persetujuan ke komandan senjata perorangan, yang kemudian melaksanakan prosedur peluncuran.

Ada juga sistem cadangan, dikenal sebagai Perimetri, yang memungkinkan perwira staf menginisiasi peluncuran rudal darat secara langsung, melewati semua pos komando langsung.

Apakah perintah "siaga tinggi" Putin membuat peluncuran senjata nuklir sangat memungkinkan?

Setelah pada 27 Februari Putin mengatakan pasukan pencegahan Rusia - termasuk pasukan nuklir - harus siaga tinggi, Kementerian Pertahanan mengatakan Pasukan Rudal Strategis, Armada Utara dan Pasifik, dan Komando Penerbangan Jarak Jauh ditempatkan pada tugas tempur yang "ditingkatkan", dengan penguatan personel.

Istilah tugas tempur yang "ditingkatkan" ini tidak muncul dalam doktrin nuklir Rusia, membuat para ahli militer bingung tentang maknanya.

Pavel Podvig, seorang peneliti di Institut Penelitian Pelucutan Senjata PBB, mengatakan di Twitter, perintah itu kemungkinan telah mengaktifkan komando nuklir dan sistem kontrol Rusia, pada dasarnya membuka saluran komunikasi untuk perintah peluncuran nuklir. Kemungkinan lain, itu berarti Rusia menambah stafnya di fasilitas nuklir.

Apakah Rusia punya aturan dalam penggunaan senjata nuklir?

Doktrin militer 2020 memiliki empat skenario yang bisa membenarkan penggunaan senjata nuklir Rusia:

- penggunaan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal ditujukan pada Rusia atau sekutunya

- data menunjukkan peluncuran rudal balistik ditujukan pada Rusia atau sekutunya

- serangan di tempat-tempat penting pemerintah atau militer yang dapat mengacaukan kemampuan pasukan nuklir Rusia dalam merespons ancaman;

- penggunaan senjata konvensional terhadap Rusia "ketika eksistensi negara berada dalam bahaya".

Kemampuan nuklir Rusia

Apa saja kemampuan nuklir yang dimiliki Rusia?

Federasi Ilmuwan Amerika memperkirakan Rusia memiliki 5.997 hulu ledak nuklir, lebih banyak dari negara manapun. Dari jumlah ini, 1.588 dikerahkan dan siap digunakan. Rudal-rudalnya bisa ditembakkan dari darat, oleh kapal selam dan pesawat udara.

Putin mengawasi uji coba pasukan nuklir pada 19 Februari. Sarmat, rudal balistik antarbenua yang dikembangkan selama bertahun-tahun, berhasil diluncurkan dalam uji coba untuk pertama kalinya.

Pernahkan Rusia mengerahkan senjata nuklir dalam perang?

Belum pernah. Sampai saat ini, senjata nuklir digunakan hanya selama konflik pada 1945, di akhir Perang Dunia II, ketika AS menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel