Mengulik Nasib Pekerja Seks di Tengah Pandemi Menghadapi Stigma Negatif Masyarakat

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Minggu lalu, sebuah media besar menerbitkan sebuah artikel yang berisi tentang kisah seorang paramedis muda di New York City yang bekerja samping menjadi pekerja seks. Perempuan ini mengaku sangat kekurangan uang dengan pekerjaannya yang bergaji rendah, sehingga ia harus bekerja sambilan dengan menjual akses online ke foto dan video erotis dirinya.

Penulisnya memulai artikel dengan mencantumkan nama lengkap perempuan tersebut, tempat kerja, kampung halaman, usia, dan sekolah sebelumnya, disertai foto. Untuk konteksnya, perempuan yang bernama Lauren Kwei tersebut mengatakan ia tidak setuju media mengungkapkan pekerjaannya sebagai pekerja seks dengan cara seperti itu.

Lauren mengatakan bahwa ketika penulisnya melakukan wawancara, mereka tidak memberi tahu bahwa kisahnya sebagai pekerja seks akan dimuat di sebuah media besar, terlebih menggunakan namanya. Ia juga tidak menduga bahwa mereka akan mengungkapkan sebagian besar latar belakangnya.

Ellen yang juga bekerja sebagai pekerja seks buka suara

Ilustrasi seks. Sumber foto: unsplash.com/Kristina Flour.
Ilustrasi seks. Sumber foto: unsplash.com/Kristina Flour.

Pada titik ini, Elle Stanger, yang menuliskan ini di Huffpost Personal meminta para pembacanya berhenti sejenak untuk ikut berpikir, "Apakah penulis artikel di media besar tersebut memahami bahwa seorang perempuan sedang dilecehkan, diintai, bahkan menjadi sasaran dari penyerangan dan pembunuhan ketika orang-orang mempertanyakan moralitas seksualnya di depan umum dengan cara yang memalukan?" Seperti yang dituliskan oleh Erin Taylor di Twitter, label pekerja seks sebenarnya menempatkan orang-orang di dalamnya pada risiko ketidakamanan pekerjaan, rumah, peningkatan pengawasan dari pihak berwajib yang kejam, stigma kekerasan dari masyarakat, serta kehilangan dukungan dari teman dan keluarga.

Ellen sendiri sudah mulai menjadi model telanjang di media online untuk mendapatkan uang sejak usia 19 tahun, pada tahun 2005. Sejak saat itu, ia juga bekerja sebagai penari telanjang di depan umum, pembuat film porno, dan terkadang menjadi pendamping.

Ellen memilih hidup dengan nama lain, memasang pengaman di jendela rumahnya, dan membayar sistem keamanan untuk rumahnya. Menurut Ellen, banyak orang mencoba menghasilkan uang dengan bekerja sebagai pekerja seks, namun tidak memiliki pilihan seperti dirinya.

Media mendorong stigma negatif masyarakat pada para pekerja seks

Ilustrasi seks. Sumber foto: unsplash.com/Alejandra Quiroz.
Ilustrasi seks. Sumber foto: unsplash.com/Alejandra Quiroz.

Bagi Ellen, media sebenarnya tidak memiliki tujuan apapun, selain menghasilkan pembaca dan pendapatan iklan. Namun, tidak ada yang memikirkan mengapa orang-orang ini akhirnya memilih menjadi pekerja seks, jenis pekerjaan yang distigmatisasi.

Saat ini, Lauren Kwei sedang berjuang untuk membangun kembali hidupnya, setelah sebuah media besar mendorong seluruh pembaca mereka untuk menilai dan mempermalukannya. Tentu saja, seks menjual, namun daripada menerbitkan cerita-cerita seperti kejadian Lauren, menurut Ellen, lebih baik minta para pekerja seks yang mau untuk menceritakan sendiri kisah-kisah mereka.

Ellen berharap orang-orang berhenti untuk merendahkan dan merugikan para pekerja seks. Seperti yang pernah dikatakan Lauren untuk The Independent, bahwa apapun yang ia lakukan untuk menghasilkan uang, di luar profesinya sebagai pekerja medis, bukanlah urusan siapapun, kecuali dirinya sendiri. Bagaimana menurutmu?

#ChangeMaker