Mengulik Sejarah RA Kartini, Ternyata Banyak Kontroversinya

Lutfi Dwi Puji Astuti, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April setiap tahunnya. Hari tersebut diperingati untuk mengenang kelahiran seorang pahlawan nasional, RA Kartini, yang dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita yang mempelopori kebangkitan perempuan.

Dikutip dari berbagai sumber, Raden Adjeng Kartini atau biasa disebut RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Dia meninggal di usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun, pada 17 September 1904 di Rembang.

Bukan orang sembarangan, RA Kartini berasal dari keluarga bangsawan. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Sementara ibunya bernama M.A. Ngasirah, istri pertama tapi bukan istri utama.

Hingga usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School (ELS). Dari sinilah awal mula Kartini belajar bahasa Belanda. Setelah mahir berbahasa Belanda, dia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya 'Dari Kegelapan Menuju Cahaya'. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911.

Kemudian pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru.

Namun sejumlah kontroversi menyelimuti RA Kartini. Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini.

Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

Hingga saat ini, sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut Almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon juga sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dari Kartini, seperti Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain.

Kematian Kartini yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan. Seperti diketahui dalam sejarah, Kartini meninggal pasca melahirkan, tepatnya 4 hari setelah melahirkan.

Ketika Kartini mengandung bahkan sampai melahirkan, dia masih tampak sehat. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan kecurigaan. Efatino Febriana, dalam bukunya 'Kartini Mati Dibunuh', mencoba menggali fakta-fakta yang ada di sekitar kematian Kartini.

Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino Febriana berkesimpulan, kalau Kartini memang mati karena sudah direncanakan. Demikian pula Sitisoemandari dalam buku 'Kartini, Sebuah Biografi', menduga Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda, yang menginginkan Kartini bungkam dari pemikiran-pemikiran majunya yang ternyata berwawasan kebangsaan.