Mengungkap Alasan Pemerintah Naikkan Cukai Rokok untuk 2 Tahun Sekaligus

Merdeka.com - Merdeka.com - Pertama kalinya sejak 10 tahun terakhir, penetapan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok dilakukan sekaligus untuk 2 tahun. Kenaikan cukainya rata-rata untuk seluruh jenis rokok sebesar 10 persen untuk 2023 dan 2024.

Kepala Bidang Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, kenaikan tarif cukai sekaligus untuk 2 tahun ini sudah mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya tentang kesehatan untuk menurunkan konsumsi rokok bagi perokok anak dan remaja.

"Pertimbangan-pertimbangan yang kita pakai memang multi dimensi. Pertama pertimbangan adalah kesehatan kita ingin menurunkan konsumsi, khususnya perokok remaja," tutur Febrio saat ditemui di Hotel Swiss-Belinn, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/11).

Aspek utama ini kata Febrio ditujukan untuk menurunkan prevalensi perokok anak dan remaja. Mengingat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-204, harus menurunkan dari 9,4 menjadi 8,7.

"Di RPJMN kita punya target prevalensi perokok anak dan remaja harus 8, persen dari saat ini 9,4 persen," kata Febrio.

Sehingga untuk mempercepat hal tersebut pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Agar kenaikan tersebut juga berimbas pada harga rokok yang semakin tinggi. "Sehingga apa yang dilakukan kemarin itu merupakan komitemn kuat pemerintah untuk melihat prevalensi anak remaja turun sesuai target kita," kata dia.

Rincian Kenaikan Cukai Rokok

Sebagai informasi penetapan tarif cukai biasanya dilakukan pemerintah setiap tahun. Biasanya pembahasannya juga dilakukan pada awal kuartal IV-2022. Penetapan tarif cukai hasil tembakau ini juga mempertimbangkan kondisi ekonomi terkini, semisal tingkat inflasi Indonesia.

Namun, kali ini kenaikan tarif CHT langsung ditetapkan kenaikannya rata-rata 10 persen setiap tahunnya. Secara lebih rinci kenaikan tarif CHT masing-masing golongan antara lain sigaret kretek mesin (SKM) I dan II sekitar 11,5 persen sampai 11,74 persen.

Tarif CHT untuk sigaret putih mesin (SPM) I dan II yakni 11 persen - 12 persen. Sedangkan sigaret kretek pangan (SKP) I, II dan III naik 5 persen.

Selain itu, Presiden Jokowi juga meminta agar kenaikan tarif tidak hanya berlaku pada CHT, tetapi juga rokok elektrik dan produk hasil pengolahan hasil tembakau lainnya (HPTL).

Kenaikan tarif cukai rokok elektrik rata-rata 10 persen dan 6 persen untuk HTPL setiap tahun. Ketentuan ini pun berlaku selama 5 tahun, sejak tahun 2023-2027 nanti.

Tak hanya itu dalam 10 tahun terakhir sejak tahun 2022, pemerintah tidak menaikkan tarif cukai rokok di tahun-tahun politik, seperti tahun 2014 dan 2019 yang bertepatan dengan pemilihan presiden.

Selain itu, dalam 3 tahun terakhir, kenaikan tarifnya cukup tinggi. Tahun 2022 kenaikan tarif CHT sebesar 12 persen, tahun 2023 naik 12,5 persen dan tahun 2020 sebesar 23 persen. [idr]