Mengungkap Rencana NII Mau Gulingkan Pemerintahan Jokowi

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap 24 tersangka teroris kelompok Negara Islam Indonesia (NII) di Bali, Banten hingga Sumatera Barat sepanjang Maret 2022. Sebanyak 16 di antaranya dibekuk tim Densus 88 di Sumatera Barat.

Densus 88 menyebut dari hasil pemeriksaan belasan tersangka jaringan NII di Sumatera Barat terungkap bahwa kelompok ini berencana melengserkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum Pemilu 2024. Pengakuan tersebut diperkuat barang bukti ditemukan tim Densus 88 saat menangkap 16 tersangka teroris tersebut.

"Kemudian ditemukan juga dalam dokumen ya catatan mereka bisa dibilang AD/ART kalau organisasi biasa kalau organisasi biasa adanya rencana untuk melakukan aksi sebelum tahun 2024," kata Kepala Bagian Bantuan Operasi Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar saat dihubungi merdeka.com, Selasa (19/4).

Aswin mengatakan, barang bukti tersebut seperti menyiapkan skenario gerilya dengan mengorganisir latihan militer untuk melancarkan serangkaian teror. Termasuk menyiapkan logistik berupa senjata tajam seperti golok dan produsen senjata tajam atau pandai besi.

Klaim Densus 88 itu juga didasari sejarah bahwa kelompok NII tercatat sebagai organisasi teroris dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Aswin menyebut kelompok NII ingin mengubah ideologi Pancasila dan sistem pemerintahan Indonesia dengan sistem khilafah atau syariat Islam.

Kelompok ini juga disebut Aswin mempunyai struktur mulai dari anggota hingga ketua di sejumlah wilayah yang mempersiapkan sejumlah rencana teror berdasarkan pengakuan dari sejumlah anggota ditangkap Densus 88. Atas dasar temuan itulah Densus 88 melakukan upaya preventif dengan menangkap belasan tersangka teroris tersebut sebelum mengingat jaringan NII ini setara kelompok teror lain seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) maupun Jamaah Islamiyah (JI) yang dibubarkan pemerintah.

"Hampir semua para pelaku individu atau kelompok yang bergabung dengan kelompok teror mantan NII. Jadi NII seperti penyumbang calon-calon walaupun banyak mereka sendiri melakukan seperti bom buku itu kan NII pelakunya," kata dia.

Pola Rekrutmen

Selain merencanakan aksi teror menggulingkan pemerintahan Jokowi, dari penangkapan terhadap 16 anggota NII Sumbar, terkuak pola mereka dalam merekrut anggota-anggota baru. Para anggota NII ini bisa mencapai ribuan di berbagai tingkatan wilayah sejak pergerakannya terdeteksi Densus 88 pada 2007 silam.

Wilayah organisasi NII di Sumbar memiliki struktur mulai pada tingkatan cabang, kecamatan, hingga CV (istilah NII) IV/Padang dengan anggota mencapai 1.125 anggota, dengan 400 anggota aktif.

Aswin mengatakan dari pola perekrutan berjenjang NII Cabang IV/Padang yang terbagi dalam 5 ranting/ UD yang masing-masing berhasil menghasilkan anggota sekitar 200 orang.

Adapun dari jumlah total di Sumatera Barat, tercatat ada sekitar 833 orang tersebar di Kabupaten Dharmasraya dan 292 orang berada di Kabupaten Tanah Datar.

"Proses perekrutan anggota NII juga digelar secara terstruktur dan sistematis. Untuk bergabung menjadi 'warga' NII, seseorang harus melalui 4 (empat) tahap perekrutan yang disebut 'pencorakan', yaitu P1 (Pencorakan 1), P2, PL/P3, dan P4," tutur dia.

Pada keempat tahap tersebut secara berjenjang tiap calon 'warga' akan diberi materi dan nilai-nilai terkait menghafal Sapta Subaya, pemahaman syari'at Islam dan ibadahnya, sejarah perjuangan umat Islam, ma’rifatul insan, siroh nabawi, dan berbagai nilai-nilai 'keislaman' versi NII.

Selama proses perekrutan anggota NII, kata Aswin, mereka melakukan tanpa memandang jenis kelamin dan batas usia dengan adanya sejumlah anak di bawah umur yang tercatat sebagai anggota. Hal ini terbukti dengan ditemukannya 77 orang anak di bawah 17 tahun yang dicuci otak dan dibai’at untuk sumpah setia kepada NII.

Bahkan, Aswin mengatakan bahwa dari jumlah itu tercatat ada sekitar 126 orang lain yang saat ini sudah dewasa, namun dulu juga direkrut saat masih usia belasan tahun. Oleh sebab itu, dia menuturkan jika Densus 88 saat ini telah bekerjasama dengan KPAI untuk mengembangkan kasus ini berkaitan pola rekrutmen anak-anak di bawah umur.

"Jadi yang 77 itu adalah data yang kita himpun dari para tersangka yang kita tangkap. Keterangan mereka itu anak-anaknya atau anaknya temannya atau anak-anak lain yang masih terkait dalam kegiatan mereka," ujar Aswin.

Jaringan NII Tak Lebih Kuat dari JAD dan JI

Namun jaringan NII dinilai belum memiliki kekuatan setara JAD maupun JI. Terlebih merencanakan penggulingan pemerintahan Jokowi.

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Al Chaidar menilai, NII saat ini tidak sampai satu 1 persen dari penduduk Indonesia. Kondisi NII terpecah dengan beberapa faksi sehingga untuk merencanakan aksi teror bahkan menggulingkan pemerintahan belum kuat.

"Enggak ada kekuatannya ini. Enggak sampai satu persen dari jumlah penduduk Indonesia. Enggak sampai 2,7 juta orang sangat kecil dan terpecah mereka terfaksionalisasi. Terpecah dalam 14, dulu pernah juga terpecah menjadi 32 faksi sekarang ini 18," ujar Chaidar saat dihubungi merdeka.com, Selasa (19/4).

Menurut Chaidar, jumlah yang kecil dan terpecah itu tipe organisasi militarian seperti itu tak dipilih NII karena sulit berkembang untuk menggerakkan revolusi. Chaidar mengatakan, kepolisian seharusnya menjelaskan secara gamblang mengenai jaringan NII di Sumbar.

Dia juga meragukan bahwa yang ditangkap Densus 88 merupakan anggota asli NII. Keraguan itu didasari bahwa NII merupakan pergerakan yang kerap dimanfaatkan pemerintah dalam pelbagai situasi salah satunya terkait Pemilu.

"Selain itu juga pakai golok pakai pandai besi itu bukan gaya NII, NII itu orangnya parlente gitu. Dia Mujahidin flamboyan dalam pengertian kalau senjatanya bukan senjata baru, rakitan dia enggak mau ikut perang. Dia enggak mau ikut jihad. Harus senjatanya yang baru. Jadi dia enggak mau pakai yang bekas apalagi golok ya enggak mau," ujar dia. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel