Mengunjungi Museum-museum di Surabaya

Sebenarnya, saya cukup sering mengunjungi Surabaya atas nama tugas kantor. Tetapi justru karena atas nama kantor itulah, setiap ke sana saya tidak bisa menikmati kota itu sebagai pelancong. Beberapa waktu lalu, barulah kesempatan itu datang.
Salah satu karya seni di Museum Sampoerna.
Sebagai pelancong, saya direkomendasikan teman mengunjungi House of Sampoerna di Jl Taman Sampoerna. Ketika memasuki pintu gerbang, saya langsung takjub dengan empat pilar menjulang tinggi dan arsitek bangunan utama yang berfungsi sebagai museum.
Warung rokok zaman dahulu.
Di dalam museum ini tersimpan semua benda yang menjadi cikal-bakal pembuatan rokok di bawah label Sampoerna, juga dokumentasi aktivitas sosial dan pemasaran perusahaan rokok kretek ini. Selain itu, di bagian depan museum, pengunjung juga bisa menikmati foto-foto keluarga Lim Seeng Tee, lengkap dengan beberapa pakaian dan perabot rumah keluarga.
Jejeran peralatan tradisional melinting rokok dan ibu-ibu pelinting.
Bagian paling menarik di museum ini terletak di lantai dua. Pengunjung bisa menyaksikan aktivitas ibu-ibu pelinting rokok yang duduk rapi dalam satu aula luas. Seperti halnya di Kuba, aktivitas di dalam ruang linting itu juga terlihat dinamis. Jika di Kuba, ada orang yang setiap paginya akan membacakan berita-berita di koran, maka di aula luas itu pun berkumandang keras lagu dangdut. Ini tentunya diputar untuk membantu membuang rasa jenuh para ibu pelinting rokok yang kabarnya mampu melinting 325 batang per jam.
Foto keluarga Sampoerna.
Dari museum, saya meneruskan ke gedung sebelah yang lebih kecil yang merupakan galeri. Di galeri dua lantai ini sedang ada pameran kontemporer salah satu komunitas di Surabaya yang bertema "An Unexpected Object: The Disorder of Things."
Suasana asyik di dalam kafe.
Lelah mengitari galeri, saya berpindah ke kafe untuk bersantap siang. Suasana di dalam gedung restoran yang mengawinkan gaya art deco dan berbagai poster dan bentuk kreatif kegiatan pemasaran Sampoerna ini membuat saya betah bersantai. Menu makanannya pun cukup bervariasi mulai dari makanan Indonesia sampai Barat.
Bur tur keliling kota gratis.
Di depan kafe, ada sebuah bus untuk mengantar turis berkeliling di sekitar daerah kota tua Surabaya ini seperti Tugu Pahlawan dan Hotel Majapahit. Sayang, jam operasinya tidak reguler. Pelancong harus memesan sebelumnya untuk bisa menikmati fasilitas gratis ini.

Tujuan kedua saya adalah daerah di sekitar Delta Plaza yang terletak di Jalan Pemuda. Selain ada mal, ada pula dua tempat yang lumayan menarik dikunjungi.
Patung hiu dan buaya yang merupakan simbol dari kota Surabaya. (Syanne Susita)
Yang pertama, patung hiu dan buaya yang merupakan simbol dari kota Surabaya. Patung ini berada di area bermain skate board dan sepeda BMX, sehingga wajar jika area ini ramai ditongkrongi anak muda di sore hari. Saat mampir di sana, saya melihat dua grup kegiatan yang berlatih di bawah patung ini. Kelompok pencak silat dan tarian tradisional. Selain dua kelompok ini, ada beberapa pasangan yang hanya bersantai menikmati curahan air mancur dari mulut ikan hiu dan aliran sungai Ketabang.
Museum kapal selam Pasopati.
Yang kedua, kapal selam Pasopati yang kini menjadi museum. Sebenarnya, saya agak seram juga sore-sore mengunjungi museum ini. Namun, karena tidak tahu lagi kapan bisa punya kesempatan ke sini, akhirnya saya pun memberanikan diri. Jujur saja, saya juga tidak pernah masuk ke dalam badan kapal selam. Jadi, saya tidak tahu apa yang akan saya lihat di dalam nanti.
Tampak dalam Museum kapal selam Pasopati.
Harga tiket masuk sangatlah murah, hanya Rp 5 ribu. Museum yang dikelola TNI Angkatan Laut Surabaya ini ternyata buka hingga jam sembilan malam. Ketakutan saya langsung menghilang ketika melihat kapal sepanjang 76,6 meter ini ternyata masih ramai pengunjung. Agak sedikit terkejut juga begitu masuk, saya melihat beberapa turis asing sedang mengagumi kapal selam ini dan asyik berpose di bagian depan kapal.
Kolam renang kecil di belakang museum.
Di dalam kapal Pasopati ini, akhirnya saya melihat langsung panel-panel, kabel, tombol dan alat-alat navigasi kapal selam yang biasanya saya hanya lihat lewat film. Terpasang pula jajaran foto para awak kapal selam yang beroperasi hingga tahun 1987. Begitu juga dek-dek kecil yang digunakan sebagai tempat tidur para awak. Saya bisa membayangkan betapa keras kehidupan para awak kapal ini saat bertugas dan juga kagum akan daya tahan mereka.
Menikmati sore di pinggir Sungai Ketabang.
Di belakang kapal selam ini ternyata ada kolam renang kecil. Mungkin bila datang lebih cepat, saya bisa berenang di sini. Akhirnya, saya pun duduk di bangku yang berjajar mengarah ke sungai — menikmati ketenangan sungai, sementara di seberang jalan terlihat kemacetan.
Ketabang Skate and BMX Park yang bersih.
Namun, dibanding di Jakarta, kemacetan di Surabaya tentunya tidak ada apa-apanya. Dan satu lagi hal yang paling terasa berbeda: air sungai Surabaya tidak hitam dan tidak berbau tidak sedap.

Simak juga galeri berburu senja keliling Indonesia di bawah ini.

Dermaga Mamburungan, Tarakan, Kalimantan Timur, September 2012.
1 / 25
Yahoo News | Foto oleh Agus Satriawan
Rab, 7 Nov 2012 09:00 WIB

Baca juga:

[GALERI] Fenomena alam paling luar biasa
[GALERI] New Delhi dalam sehari
[GALERI] 10 tempat tujuan wisata paling menyeramkan
Pulau sebaru seindah Bunaken
Maninjau, sang pemikat perbang paralayang
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.