Mengurai Akar Masalah Al-Aqsa yang Kembali Bergejolak

·Bacaan 5 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Semua orang khawatir ini akan terjadi.

Beberapa pekan sebelum hari libur besar umat Yahudi, Kristen, dan muslim yang terjadi berdekatan, puluhan ribu orang diperkirakan akan datang ke Yerusalem untuk pertama kalinya sejak pandemi. Pejabat Israel, Palestina, dan para pemimpin Arab membahas upaya bagaimana meredam ketegangan.

Israel melonggarkan aturan ketat di wilayah yang dikuasainya secara militer selama hampir 55 tahun dengan mencabut sejumlah larangan dan memberikan ribuan izin kerja bagi warga Palestina. Polisi Israel mengatakan mereka akan memastikan semua orang bisa beribadah dengan khusyuk.

Tujuan dari upaya ini adalah untuk menghindari insiden tahun lalu ketika serangkaian unjuk rasa dan bentrokan di Yerusalem memicu perang 11 hari antara Israel dengan kelompok Hamas di Gaza.

Namun rencana tinggal rencana.

Serangkaian serangan mematikan terjadi di Israel dalam beberapa tahun belakangan. Tindakan penangkapan di daerah pendudukan Tepi Barat memicu kontak senjata. Bentrokan meletus di lokasi yang menjadi tempat ibadah kaum Yahudi dan muslim. Sedikitnya dua roket dilepaskan dari Gaza dan dibalas dengan serangan udara Israel.

Serangkaian serangan

Pada 22 Maret seorang Palestina warga Israel membunuh empat orang dengan menabrakkan mobil dan menikam pisau di Kota Beersheba. Serangan penembakan oleh orang Palestina tiga pekan kemudian, termasuk di jantung kota Tel Aviv, membunuh 10 orang.

Pihak berwenang Israel mengatakan pelaku bertindak sendirian dan meski Hamas dan kelompok militan Palestina lain merayakan serangan itu, tak satu pun dari mereka mengklaim bertanggung jawab. Sejumlah pelaku mendukung kelompok ISIS, tapi tidak ada bukti kelompok itu yang merancang serangan.

mengurai akar masalah al-aqsa yang kembali bergejolak
mengurai akar masalah al-aqsa yang kembali bergejolak

Israel melancarkan penggerebekan di Tepi Barat dan menangkap puluhan orang. Orang Palestina membalas dengan melempar batu dan bom molotov. Di Jenin, kawasan yang dikuasai kaum militan, bentrokan senjata meletus.

Sedikitnya 26 orang Palestina tewas, menurut perhitungan kantor berita the Associated Press, termasuk pelaku penyerangan dan mereka yang terlibat bentrokan. Namun mereka yang tewas kali ini termasuk seorang pengacara dan perempuan 18 tahun yang rupanya hanya pejalan kaki dan seorang perempuan tak bersenjata yang ditembak mati di pos pemeriksaan.

Israel mengambil alih Tepi Barat, beserta Yerusalem dan Jalur Gaza pada Perang Timur Tengah 1967. Palestina menginginkan tiga wilayah itu untuk menjadi bagian dari negara mereka di masa depan.

Israel menguasai lebih dari 60 persen wilayah Tepi Barat dan membangun lebih dari 130 pemukiman yang menjadi tempat tinggal hampir 500.000 orang Yahudi.

Bentrok di Yerusalem

Pada 15 April, bentrokkan terjadi saat subuh antara orang Palestina dan polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem. Polisi mengatakan orang Palestina melempari mereka batu dan ke arah tempat suci umat Yahudi sehingga memaksa mereka bertindak. Palestina mengatakan polisi menggunakan kekerasan yang berlebihan.

Lebih dari 150 orang Palestina dan tiga polisi Israel luka dalam kejadian itu. Polisi melepaskan tembakan peluru karet dan granat kejut, Palestina membalas dengan lemparan batu dan kembang api. Dalam satu momen, polisi merangsek masuk ke dalam masjid Al-Aqsa dan menangkap orang yang diduga melempar batu.

Serangkaian bentrokan terjadi sejak itu dan pada Ahad lalu orang Palestina melempar batu ke arah bus di luar Kota Tua Yerusalem.

"Seruan menghasut dari Hamas dilakukan untuk melawan Israel," kata Perdana Menteri Naftali Bennett pekan ini. "Israel melakukan semuanya agar semua orang bisa merayakan hari besar dengan aman--Yahudi, muslim, dan Kristen."

Lokasi bentrokan di Kota Tua itu adalah tempat ibadah suci ketiga umat Islam dan juga tempat suci Yahudi yaitu Kuil Bukit karena dua kuil Yahudi terletak di sana sejak zaman dulu. Lokasi itu menjadi pusat konflik berusia ratusan tahun dan menjadi titik terjadinya kekerasan belakangan ini.

Orang Palestina menilai masuknya kaum Yahudi dan orang nasionalis dengan pengawalan polisi sebagai bentuk provokasi dan menjadi pertanda Israel akan mengambil alih tempat suci itu atau mengkaplingnya. Israel mengatakan mereka tetap berkomitmen terhadap status quo.

Kota Tua adalah bagian dari Yerusalem Timur yang dicaplok Israel dan tindakan itu tidak diakui dunia internasional. Palestina ingin Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara mereka di masa depan.

Kebijakan yang diskriminatif di Yerusalem Timur mendukung perluasan pemukiman Yahudi. Sementara orang Palestina secara sistematis ditolak mendirikan bangunan sehingga banyak dari mereka membangun tanpa izin dan itu berisiko dihancurkan di kemudian hari. Puluhan keluarga Palestina kini terancam diusir dari rumah mereka karena kaum Yahudi sejak satu dasawarsa lalu gencar menyerukan perluasan pemukiman dan kehadiran orang Yahudi di Yerusalem Timur.

Orang Yahudi yang lahir di Yerusalem menjadi warga negara Israel. Kebanyakan orang Palestina menolak kewarganegaraan Israel tapi mereka yang ingin menjadi warga Israel harus melalui proses birokrasi yang lama dan tidak pasti. Orang Palestina yang menghabiskan waktu lebih banyak di luar Yerusalem Timur untuk keperluan kerja, sekolah atau alasan keluarga, bisa kehilangan status penghuni dan dilarang kembali. Kebijakan semacam itu tidak berlaku untuk Yahudi.

Israel dan Mesir memberlakukan blokade di Gaza sejak Hamas berkuasa 15 tahun lalu. Angka pengangguran mencapai 50 persen, listrik dibatasi hanya 12 jam per hari, air minum tidak layak diminum.

Israel dan Hamas sudah empat kali berperang sejak 2008, menambah penderitaan 2 juta orang Palestina yang tinggal di Jalur Gaza.

Lebih dari separuh dari 2 juta penduduk Palestina di Gaza adalah keturunan pengungsi dari apa yang sekarang adalah tanah Israel yang melarikan diri atau diusir dari tanah mereka pada 1948 saat berdirinya negara Israel.

Sekitar 60 persen warga Palestina di tiga wilayah tersebut berusia di bawah 30 tahun, tanpa ingatan sama sekali soal proses perdamaian Timur Tengah yang dilanggar lebih dari satu dasawarsa silam.

"Kita punya generasi yang sangat radikal," kata Mkhaimar Abusada, profesor ilmu politik di Universitas Al-Azhar Gaza. "Mereka tidak begitu peduli kalau kita berperang lagi dengan Israel atau tidak atas alasan karena Al-Aqsa atau hal lain." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel