Menhan Prabowo ke Korsel, Pengadaan Jet Tempur KFX untuk RI Kian Rampung?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Lawatan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto ke Korea Selatan menunjukkan sinyal kuat bahwa kerja sama pengadaan jet tempur KF-21 KFX/IFX dengan Negeri Ginseng terus berlanjut, meski negosiasi terkait dengan pembiayaan masih menjadi pekerjaan rumah bagi kedua negara.

Prabowo melaksanakan kunjungan ke Korea Selatan sejak Kamis 8 April 2021, bertemu dengan Menhan Korsel Suh Wook dan dilanjutkan dengan pertemuan bilateral pertahanan.

Puncak lawatan itu adalah ketika Prabowo menemui Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Keduanya bersama-sama menghadiri upacara peluncuran prototipe jet tempur generasi selanjutnya KF-X / IF-X di Korea Aerospace Industry (KAI) in Gyeongsangnam-do, Korea Selatan pada Jumat 9 April 2021. Menhan Prabowo hadir pada acara itu atas undangan Pemerintah Republik Korea atas nama Pemerintah RI.

Acara tersebut diresmikan secara langsung oleh Presiden Moon Jae-In, didampingi Menhan Suh Wook dan Menteri Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Kang Eun-Ho.

Proyek KFX/IFX adalah proyek pengembangan dan pembuatan pesawat tempur generasi berikut secara massal antara Korea dan Indonesia dengan modal 8,8 triliun Won dari tahun 2015 sampai 2028.

Dari pembiayaan itu, 60 persen ditanggung oleh pemerintah Korsel, 20 persen oleh industri alutsista Korsel, dan 20 persen sisanya oleh pemerintah Indonesia.

Ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman yang diteken kedua negara pada 2010 tentang pengembangan jet KF. Namun, sejumlah hambatan membuat proyek ini berlarut hingga sekarang, termasuk soal isu pembiayaan.

Isu Kendala Pembiayaan?

Presiden Korea Selatan Moon Jae- In saat peluncuran protipe KF-21 KFX/IFX 9 April 2021. (Republic of Korea Embassy Jakarta)
Presiden Korea Selatan Moon Jae- In saat peluncuran protipe KF-21 KFX/IFX 9 April 2021. (Republic of Korea Embassy Jakarta)

Surat kabar Jepang the Asahi Shimbun, mengutip sumber-sumber di Korea Selatan menyebut adanya kendala pembiayaan dari sisi Indonesia.

"Dari total biaya yang harus ditanggung oleh Indonesia, per Februari 2021, negara itu baru hanya membayar sekitar 227,2 miliar Won --masih kurang 30% dari jumlah tanggungan yang dibebankan dan telah jatuh tempo pada akhir tahun 2020," Asahi mengutip sumber-sumber tersebut.

Surat kabar Korea Selatan Dong-A Ilbo, pada 5 Mei 2021, turut melaporkan bahwa "Indonesia juga meminta agar Korea Selatan memberikan keringanan 10 persen pada akhir tahun lalu."

Korea Defense Agency membantah, namun mengatakan bahwa "kami memahami kedua negara masih terus membahas isu biaya yang belum dibayarkan," seperti dikutip dari the Asahi Shimbun.

Kwon Tae-hwan, Presiden Korea Defense Diplomacy Association dan anggota dewan penasihat Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Korea Selatan mengatakan, "Prototipe telah rampung dan kita bukan ditahap untuk membicarakan lagi skema pembiayaan," menambahkan bahwa produksi massal pesawat itu sangat diperlukan oleh Negeri Ginseng "untuk menghadapi ancaman nuklir dan misil Korea Utara" --the Asahi Shimbun melaporkan.

Pemerintah Indonesia, melalui juru bicara Menhan Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak menolak berkomentar soal isu kendala pembiayaan, namun menjelaskan bahwa "Indonesia melalui ahli-ahli kita juga terlibat sejak awal secara teknis dan mekanis pembuatan pesawat tersebut," ujarnya kepada Asahi pada 9 April.

Pihak Korea Selatan pun masih optimis bahwa proyek ini akan terus berlanjut bersama dengan Indonesia.

"Menhan Prabowo telah menunjukkan keinginan yang kuat terhadap kesuksesan proyek KFX/IFX dalam pertemuan dengan Presiden Moon Jae-in. Hal ini dinilai sebagai sesuatu yang berarti," kata siaran pers Kementerian Luar Negeri Korea Selatan yang diterima Liputan6.com, Sabtu 10 April 2021.

Dan Prabowo mengatakan,"proyek kerja sama dengan Korsel, termasuk proyek KFX/IFX harus berhasil," melanjutkan bahwa "kami akan berusaha untuk mengatasi hambatan dan kesulitan."

Simak video pilihan berikut: