Menhub Budi Karya Sumadi Ungkap Biaya Logistik Indonesia Termahal di Asia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa aktivitas logistik di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sangat besar. Namun sayangnya biaya logistik di Indonesia tergolong mahal, bahkan masih menjadi yang termahal di kawasan Asia.

"Saat ini Jabodetabek merupakan kawasan akomodasi yang terbesar di Asia, ditambah dengan keberadaan lebih dari 10 kawasan industri besar. Sehingga dapat kita bayangkan besarnya aktivitas logistik di sana," kata Budi Karya Sumadi, dalam acara webinar "Membangun Logistik Perkotaan Berkelanjutan di Jabodetabek" yang diselenggarakan oleh BPTJ, Selasa (28/9/2021).

Budi menjelaskan, Kementerian Keuangan mencatat bahwa biaya logistik di Indonesia menjadi yang termahal di kawasan Asia yaitu 23,35 persen dari produk domestik bruto. Dari persentase tersebut, 8,5 persen adalah biaya logistik di darat.

Jika dibandingkan dengan Singapura, luas wilayah Indonesia jauh lebih besar, ditambah kondisi geografis yang kepulauan. Kondisi tersebut membuat biaya logistik bisa lebih mahal.

Terkait wilayah aglomerasi, Menhub Budi menyebutkan masalah logistik mulai dari kemacetan hingga permasalahan emisi gas buang.

"Jangan sampai logistik perkotaan menjadi salah satu permasalahan yang berlarut karena tak kunjung diatur dan dibenahi," ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

BPTJ Targetkan Penurunan Biaya Logistik

Foto udara kendaraan pemudik tujuan Sumatera antre memasuki kapal Roro di Pelabuhan Merak, Banten, Rabu (5/5/2019) dini hari. Satu hari sebelum larangan mudik diberlakukan pada 6 Mei 2021, para pemudik yang akan menuju Pulau Sumatera mulai memadati Pelabuhan Merak. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Foto udara kendaraan pemudik tujuan Sumatera antre memasuki kapal Roro di Pelabuhan Merak, Banten, Rabu (5/5/2019) dini hari. Satu hari sebelum larangan mudik diberlakukan pada 6 Mei 2021, para pemudik yang akan menuju Pulau Sumatera mulai memadati Pelabuhan Merak. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B Pramesti menjelaskan berbagai permasalahan logistik di Jabodetabek.

"Pertumbuhan penduduk di wilayah Jabodetabek terbilang sangat masif dibandingkan kota besar lainnya di Indonesia. Hal ini salah satunya tercermin dari tingginya jumlah mobilitas dan kemacetan lalu lintas yang semakin parah. Maka, tidak dapat dipungkiri kalau beban Jabodetabek semakin hari semakin besar," kata Polana.

Berbagai perubahan lingkungan juga mempengaruhi logistik perkotaan, di antaranya adalah revolusi industri telah menciptakan tren baru dalam berbelanja yang mulai jamak dipraktekkan oleh kaum urban , hingga adanya pelanggaran dimensi kendaraan angkutan barang, menurut Polana.

"Jabodetabek memilih masalah logistik yang cukup kompleks," ungkap Polana.

"Melalui beberapa pembenahan sistem logistik di darat, yang telah digagas dan tertuang di dalam rencana induk transportasi jabodetabek, BPTJ menargetkan penurunan biaya logistik menjadi 20 persen dari PDB," bebernya.

Ditambahkannya juga bahwa, "Hal ini tentunya tidak dapat dilaksanakan sendiri, BPTJ membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan sektor".

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel