Menhub: KNKT Masih Cari CVR Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Bayu Nugraha, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVAMenteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa Cockpit Voice Recorder (CVR) pada pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu masih belum ditemukan.

Budi mengatakan, alat yang akan sangat membantu dalam pengungkapan penyebab terjadinya kecelakaan itu masih dilakukan pencarian oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi hingga saat ini.

Hal tersebut dia sampaikan saat rapat kerja dengan Komisi V DPR RI terkait penjelasan musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang digelar di Gedung Parlemen, Rabu, 3 Februari 2021.

"KNKT juga masih melakukan pencarian Cockpit Voice Recorder yang akan sangat membantu mengungkap penyebab terjadinya kecelakaan, dengan mendirikan homebase di Pulau Lancang," ucap dia.

Meski demikian, Budi memastikan, Tim Gabungan telah berupaya keras menangani musibah ini dengan proses penanganannya terbuka. Terutama saat pencarian korban dan pemenuhan hak-hak mereka.

"Proses penanganannya juga kami sampaikan secara terbuka kepada media dan publik. Kami akan terus mengawal penyelesaian santunan kepada keluarga korban," tegas Budi.

Berkaca pada kejadian itu, Budi menilai sektor transportasi udara tetap merupakan sektor transportasi yang di satu sisi paling aman tetapi di sisi lain berisiko tinggi dan menjadi sorotan masyarakat banyak.

Oleh karena itu, ia memastikan Kementerian Perhubungan beserta pemangku kepentingan di sektor penerbangan akan terus berkomitmen meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Adapun upaya meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan nasional disebutkannya seperti melakukan pemeriksaan terhadap kelaikan pesawat yang beroperasi di Indonesia baik secara rutin maupun sewaktu-waktu.

Kemudian, melakukan bimbingan teknis tentang penanganan gangguan teknis yang berulang pada pesawat udara maupun penguatan kapasitas organisasi Kantor Otoritas Bandar Udara.

Selain itu, juga melakukan pembenahan struktur organisasi regulator melalui pemisahan fungsi-fungsi pembinaan terhadap keselamatan, pembangunan, dan pengusahaan atau pelayanan.

Melakukan percepatan implementasi ICAO Annex 19 tentang safety management serta pembentukan forum komunikasi nasional keselamatan penerbangan yang sinergi dengan komite keamanan nasional penerbangan.

Dengan upaya-upaya tersebut, Budi mengklaim indonesia diakui oleh lembaga penerbangan sipil internasional, sebagai penerbangan dengan keselamatan yang tinggi se-kawasan Asia.

Dia menyebutkan salah satunya seperti Index Effective Implementation for Safety Oversight dari hasil audit International Civil Aviation Organization (ICAO) meningkat dari sebelumnya 51,61 persen menjadi 80,84 persen.

"Indeks keselamatan penerbangan Indonesia berada di atas rata-rata negara Asia dan hal ini juga diikuti dengan indeks kecelakaan pesawat Indonesia yang menunjukkan perbaikan sejak 2016," tuturnya.

Baca juga: Akta Kematian 53 Korban Sriwijaya Air Sudah Diterbitkan