Menikah di Usia 42 Tahun, Kuyakini Skenario Tuhan Selalu yang Terindah

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Agung Dewi

Masa lalu memang tidak akan pernah hilang dan tidak juga bisa disembunyikan. Tapi apa yang aku lakukan adalah memperbaiki masa depan sekalipun membutuhkan proses yang panjang.

Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap sendiri sembari menyembuhkan luka di hati. Tapi Tuhan tak pernah salah dengan menyiapkan skenario lain. Aku kembali memberanikan diri mengambil langkah baru berharap cahaya inilah yang terbaik bagi masa depan.

Dia melamarku walau tahu aku pernah gagal dalam pernikahanku yang sebelumnya. Usianya lebih tua 5 tahun dariku. Namun, dia belum pernah menikah sebelumnya. Kami telah dekat selama enam tahun tapi tak satu pun mengetahui hubungan kami.

Pada akhirnya aku dibuat menyerah, dia membuat hatiku berani untuk melangkah bertemu orang tuanya dalam acara keluarga. Keraguanku pun berangsur-angsur hilang karena kemantapannya dalam menyampaikan keinginannya untuk menjalani hidup bersamaku.

Dia mapan, hidup berkecukupan dengan kerja kerasnya, keluarganya berasal dari orang yang terpandang. Namun keraguanku kembali datang. Bagaimanakah aku dalam pandangan orang tua juga keluarganya? Apakah aku cukup pantas bagi putra mereka dengan masa laluku yang pernah gagal?

Sempat Ragu untuk Melangkah Lagi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta

Pernikahanku sempat tertunda karena keraguan di hatiku. Aku kembali merasakan trauma yang mencekam dalam pikiranku entah mengapa hal itu muncul. Selama 6 bulan mengisolasi diri, aku terus menerus bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah siap membina bahtera rumah tangga untuk yang kedua kalinya?

Apakah kini akan bertahan untuk selamanya? Apakah aku sudah cukup menjadi orang yang baik untuk calon suamiku dan keluarganya? Akankah mereka menerimaku dengan cela itu? Namun aku salah paham, menilai secara berlebihan semua hal dengan rasa takut dalam benakku.

Membuat Hati Kembali Utuh

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tawanlubfah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tawanlubfah

Akhirnya calon suamiku datang untuk meyakinkan bahwa keraguanku hanyalah bayangan masa lalu yang belum hilang. Calon ibu mertuaku menemuiku dan mengatakan bahwa tak ada yang bisa diubah dengan masa lalu. Namun masa depan bisa dipersiapkan dengan usaha yang terbaik.

Kami melangkah perlahan menyiapkan pernikahan kami. Calon suami juga calon mertuaku memberikan keleluasaan mengatur segala persiapannya sesuai dengan yang kami inginkan. Kami disibukkan dengan mengurus vendor, tempat pelaksanaan dan tentunya mengosong tema adat istiadat calon suamiku.

Dengan kesederhanaan dan penuh khidmat acara berlangsung tepat di hari ulang tahunku. Di usia ke 42 tahun, usia yang tidak lagi muda, dua hal yang paling membahagiakan terjadi di hari yang sama.

Sungguh indah rencana Tuhan yang mengatur kerumitan ini justru membuatku melangkah kedalam babak baru. Keluarga baru menjadi harapan baru yang menuntunku menuju tujuanku selama ini. Keluarga yang rukun, hidup sederhana apa adanya dan dipenuhi dukungan untuk setiap langkahku. Percayalah dengan jalan Tuhan, apa yang Tuhan kehendaki memang terlihat rumit namun semua akan penuh hikmah untuk mengubahmu menjadi lebih baik jika kau meyakini-Nya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel