Menikmati kemudahan pembayaran nontunai saat naik angkot

Sebagai sopir angkutan kota jurusan lurus dengan rute Pasar Baru- Pasar Raya Padang adakalanya di pagi hari Syaiful menjumpai penumpang yang membayar ongkos dengan uang pecahan besar.

Sontak karena baru membawa angkot, jelas saja ia tak punya uang kembalian karena baru menjajal trip pertama di hari itu.

Adakalanya karena kesal, ia terpaksa menggratiskan ongkos penumpang tersebut karena tak ada kembalian.

Namun dipikir-pikir jika terus menerus menggratiskan berdampak pada setoran angkot kepada juragan akan berkurang yang artinya pendapatannya pun akan kurang.

Menjalani profesi sebagai sopir angkot sejak 15 tahun terakhir, tidak sekali dua kali ia jumpai penumpang yang membayar ongkos Rp3.500 dengan uang pecahan Rp100 ribu.

Awalnya ia mencoba meminta penumpang membayar dengan uang pas saja, namun karena penumpang mengaku tak punya uang pas ia pun rela dibayar berapa saja uang kecil yang ada.

Jika tak juga ada uang kecil, akhirnya terpaksa ia menggratiskan penumpang tersebut dan mesti pun nilainya kecil bagi Syaiful uang Rp3.500 itu besar di tengah terus menurunnya jumlah penumpang angkot.

Terkadang ia sengaja menyiapkan stok uang kembalian saat akan berjalan di pagi hari namun tentu saja tak selalu ada karena uang tersebut sudah terpakai untuk kebutuhan harian keluarganya.

Dalam sehari jika sedang ramai penumpang Syaiful bisa membawa uang pulang hingga Rp75.000 sampai Rp100.000. Namun jika sepi penumpang seperti saat pandemi bisa bawa pulang Rp40.000 saja ia sudah bersyukur.

Akhirnya persoalan yang dihadapi Syaiful dan para sopir angkot lainnya di Padang pun mendapatkan solusi jitu.

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Perhubungan menyiapkan fasilitas pembayaran nontunai untuk ongkos angkutan kota lewat aplikasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Pada peluncurannya Wali Kota Padang Hendri Septa mengatakan pembayaran angkot menggunakan sistem nontunai tersebut terselenggara bekerja sama dengan BRI, Organda dan Dinas Perhubungan.

Menurutnya dengan penggunaan QRIS pembayaran ongkos akan langsung masuk ke rekening sopir dan pada sisi lain tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian karena berapa pun ongkos akan langsung ke rekening

Ia melihat warga Kota Padang sudah tidak harus lagi menyiapkan uang untuk membayar ongkos angkot. Dan sopir pun tak lagi susah memikirkan kembalian uang untuk penumpang.

Menurut Regional Consumer dan SME Banking Head BRI Regional Padang Srirahayu Eka Yudaningsih penggunaan QRIS BRI dalam pembayaran angkot tersebut merupakan salah satu wujud nyata BRI dalam mendukung kota pintar dengan mengusung pembayaran nontunai sebagai sarana transaksi.

Masing-masing angkot diberikan kode batang yang berbeda dan penumpang angkot saat melakukan pembayaran tinggal langsung memindai menggunakan BRImo dan Dompet Digital yang dimiliki seperti melalui Gopay, Shoppe Pay, Ovo, Link Aja dan fitur scan barcode lainnya.

Jemput bola

Sejalan dengan itu Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang Yudi Indra Sani menyampaikan jemput bola untuk mengajak sopir dan pengusaha angkut kota atau angkot menggunakan pembayaran secara non tunai melalui QRIS.

Ia menyebutkan berdasarkan data terakhir ada 1.800 angkot di Padang dan tahap awal pembayaran menggunakan QRIS diprioritaskan untuk rute angkot ke kampus karena pasar pembayaran non tunai ini kebanyakan mahasiswa.

Ia mengatakan tetap membuka peluang bank-bank lain untuk ikut bergabung dalam pembayaran nontunai.

Menurut dia, pembayaran nontunai ini bentuk dukungan program pemerintah untuk beralih pada pembayaran nontunai khususnya dalam bidang transportasi.

Lebih lanjut, BRI cabang Padang pun bersinergi dengan Organisasi Angkutan Daerah (Organda) setempat guna mewujudkan sistem pembayaran nontunai menggunakan aplikasi QRIS untuk membayar ongkos angkot.

Sekretaris Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Kota Padang Yan Heri menilai penggunaan QRIS untuk membayar ongkos angkot membuat sopir tidak perlu lagi memegang uang tunai dan mencegah terjadinya pemalakan, kata di Padang, Selasa.

Menurut dia, program pembayaran ini juga membuat para sopir lebih praktis karena tidak perlu menyiapkan uang kembalian ongkos penumpang.

Organda Padang mendukung program tersebut karena sudah saatnya ada perubahan dalam pembayaran ongkos angkot mengikuti perkembangan teknologi.

Apalagi, lanjut dia, masyarakat sudah tidak banyak lagi memegang uang tunai terutama generasi muda.

Ia menyebutkan saat ini terdapat sekitar 2.200 unit angkot di Padang dan yang beroperasi tinggal 1.000 unit dengan 20 trayek.

Sejalan dengan itu Konsumer Bisnis Manajer BRI Padang Mury Wijaya mengatakan penggunaan QRIS untuk membayar angkot merupakan salah satu terobosan terbaru dalam sistem pembayaran nontunai karena dapat dimonitor langsung oleh pemilik angkot secara langsung.

Ia menyebutkan saat ini baru 10 angkot yang telah melayani pembayaran ongkos dengan QRIS dan pada hari ini ada 40 lagi pengajuan untuk diimplementasikan.

"Secara bertahap akan dipasang di semua angkot dan pada tahap awal sebagai percontohan," katanya.

Bagi sopir angkot yang ingin menerapkan pembayaran dengan QRIS, syaratnya cukup mudah karena hanya dengan membuka rekening BRI kemudian akan diberikan kode batang yang ditempel di angkot.

Syaiful dan rekannya pun kini lebih tenang dan tak perlu lagi rumit memikirkan uang kembalian karena semua langsung masuk ke rekening.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa di Padang, Katrine menyambut baik pembayaran ongkos angkot dengan sistem nontunai ini karena lebih praktis.

"Selagi ada telepon pintar, ada pulsa dan saldo di rekening semua beres dan simpel, karena cukup memindai," katanya.

Dengan demikian, ia juga tak perlu khawatir lagi bepergian jika tak membawa uang tunai.

Pada sisi lain Bank Indonesia perwakilan Sumbar melihat laju akseptasi penggunaan QRIS terus meningkat, serta kolaborasi berbagai pihak, BI bersama industri bersinergi mendorong perluasan QRIS menuju 12 juta merchant di seluruh Indonesia.

Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama mengatakan komitmen tersebut juga dilakukan melalui sejumlah langkah peningkatan dan perluasan jaringan dan fasilitasi penggunaan QRIS melalui merchant serta terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan QRIS dan manfaatnya bagi masyarakat,

Ia menyampaikan pada masa pandemi COVID-19 ini juga, telah dikembangkan QRIS Tanpa Tatap Muka (QRIS TTM).

Selain itu, QRIS juga telah diterapkan sebagai salah satu metode pembayaran di berbagai sektor, sehingga mendorong efisiensi perekonomian.

Manfaat yang diperoleh tidak terbatas untuk transaksi perdagangan ritel di berbagai komunitas baik di pasar tradisional maupun modern dan universitas, namun juga digunakan untuk e-ticketing pariwisata, pendidikan, pesantren, transportasi, parkir, e-retribusi Pemda, donasi sosial dan keagamaan.

Implementasi QRIS yang telah diterapkan di berbagai sektor untuk transaksi pembayaran telah memberikan manfaat guna mendorong efisiensi perekonomian, mempercepat keuangan inklusif, dan meningkatkan daya saing industri, termasuk memajukan UMKM.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel