Menikmati Seni Pertunjukan Karya Melati Suryodarmo di Museum Macan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Mengisi aktivitas akhir pekan, Sahabat Fimela bisa mengunjungi Museum Macan yang kini sudah kembali dibuka. Untuk menobati kerinduan akan seni performa, maka Museum Macan menggandeng Melati Suryodarmo.

Pameran tunggal pertama Melati Suryodarmo berjudul ‘Why Let the Chicken Run?’ yang diangkat dari salah satu karya tahun 2001 dengan judul yang sama. Memamerkan 20 karya seni termasuk dalam medium seni performans, fotografi, dan video performans, dokumentasi historis, dan seni performans terjadwal.

Dalam menciptakan karya, Melati banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman pribadi. Setiap kaya memiliki kisah tersendiri. Bagi Melati, tubuh adalah subjek dan sumber gagasan yang menyatu dengan elemen kehidupan, dan mencetuskan sebuah karya.

TERKAIT: Menyaksikan Why Let the Chicken Run? dan Manifesto, 2 Pameran Besar Museum Macan di Tahun 2020

TERKAIT: Kembali Dibuka, Museum Macan Persiapkan Gelaran Seni Present Continuous Sekarang Seterusnya

TERKAIT: Melati Suryodarmo Siap Suguhkan Kejutan di Hari Jadi ke-4 Museum MACAN

Seni performans berdurasi panjang

Melati Suryodarmo - Transaction of Hollows
Melati Suryodarmo - Transaction of Hollows

Pameran ini menyajikan karya-karya Melati yang berdurasi panjang, menantang ketahana tubuh baik fisik dan psikologis dalam mencari kesadaran spiritual yang lebih dalam. Lebih jauh lagi, dengan menghadirkan beberapa praktik artistik yang berpengaruh terhadap Melati Suryodarmo serta arsip pribadinya, pameran ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh dari proses kreatif sang perupa.

Presentasi seni Melati Suryodarmo berlangsung sejak Oktober hingga 14 November 2021 nanti. Setiap akhir pekan, deretan karya akan disuguhkan. Pada Sabtu (6/11/2021) yang lalu, tim Fimela melihat seni performa bertajuk Transaction of Hollows.

Sebuah pertunjukan berdurasi 4 jam menggunakan 800 anak panah. Dengan menggunakan sebuah busur panah Jawa, Melati melepaskan ratusan anak panah di ruangan yang dibuat khusus, dengan kehadiran para penonton di dalamnya. Panah melesat di udara dan menembus dinding, dan menghasilkan suara yang sangat keras.

Melalui karya ini, ia bermeditasi tentang arah masyarakat kita yang hilang. Membidik sesuatu bisa berarti harfiah dan metaforis - pemanah membidik target yang menyerupai mata banteng, sebagai cerminan dari orang yang bermaksud meraih tujuan atau pencapaian tertentu. Panahan Jawa mengajarkan bahwa proses juga sama pentingnya, atau bahkan lebih penting daripada target itu sendiri.

Deretan seni performans karya Melati Suryodarmo

Melati Suryodarmo: Exergie - Butter Dance
Melati Suryodarmo: Exergie - Butter Dance

Pencarian dalam masyarakat untuk hal yang serba lebih besar, lebih baik dan lebih banyak, bagi Melati merupakan tujuan utopis yang tidak dapat dicapai secara nyata. Melati bertujuan menampilkan hubungan yang lebih langsung dengan dunia di sekitar kita, menunjukkan bahwa berurusan dengan proses kehidupan itu sendiri adalah yang paling penting karena keinginan untuk mencapai 'utopia' pada akhirnya akan sia-sia.

Selain Transaction of Hollows, akan ada seni performans lainnya yang dipertunjukkan seperti Behind the Light, Exerhie - Butter Dance, Kleidung Safe, The Black Ball sebagai pertunjukan penutup di tanggal 4 hingga 14 November 2021.

Bagi Sahabat Fimela yang ingin menyaksikan langsung seni performans Melati Suryodarmo, cek segera jadwal lengkapnya di www.museummacan.org atau aku media sosial @museummacan.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel