Menilik 26 Tahun Kiprah R.G.B. dalam Kancah Musik Punk Ibu Kota

·Bacaan 5 menit

VIVA – Tak lengkap rasanya bila seorang musisi atau sebuah band tidak menghasilkan karya. Apalagi sebelum era digital, menelurkan album fisik menjadi sebuah keharusan. Tapi dalam menghasilkan karya itu butuh effort dan finansial yang memadai. Mungkin bagi band major label hal itu tidak menjadi kendala, bagi band indie lain cerita.

Namun pada momen ini, kita tidak membahas band indie secara keseluruhan. Pembahasan hanya tertumpu dalam scope punk rock saja, khususnya di Ibu Kota Jakarta. Di Jakarta, embrio skena punk rock sudah ada sejak akhir 80-an, yang pelopori oleh The Stupid salah satu band dari komunitas Pid Pub.

Namun sayang, baik band-band eksponen Pid Pub maupun Young Offender, tidak ada yang sempat menghasilkan produk rekaman. Kebanyakan dari mereka tak lebih dari sebatas cover band.

Baru memasuki tahun 1996 mulai ada progres atau semacam transisi, dari era dimana komunitas masih menyukai membawakan lagu dan bangga mengoleksi album band-band import, ke era dimana komunitas mulai percaya diri menulis dan membawakan lagu sendiri.

Diketahui band punk rock Ibu Kota yang pertama kali, merilis karya atau mini album di tahun 1996, adalah Rage Generation Brothers (R.G.B.). Pada saat itu R.G.B. beranggotakan Kelly (bass), Botak (vokal), Andre Bhoker (vokal), Rino (gitar) dan Alley (drum). Pada awalnya kuintet ini memainkan musik hardcore punk.

Dari arsip foto dan kesaksian beberapa orang pelaku skena era tersebut, menyebutkan bahwa band ini telah eksis di tahun 1995. Berbeda dengan klaim Rino, yang mengukuhkan R.G.B. berdiri sejak 1996, karena ingin mensejajarkan dengan hadirnya diskografi band.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh penuturan Alley “R.G.B. berdiri pada pertengahan 1995, jadi saya nongkrong di Sid Gank, yang awalnya saya nongkrong di Bermis, Subnormal, lalu berlanjut untuk membentuk sebuah band. Trigger-nya Rino dan Kelly pada waktu itu, yang ingin membuat band hardcore punk lalu mereka menarik saya untuk jadi drummer”.

R.G.B. live at GOR Saparua, Bandung. Foto doc Nicken
R.G.B. live at GOR Saparua, Bandung. Foto doc Nicken

R.G.B. live at GOR Saparua, Bandung. Foto doc Nicken

Terkait mini album tersebut, Alley mengungkapkan “yang mendorong R.G.B. bisa produktif dengan cara memproduksi album, itu idenya dari saya. Saya mendorong mereka, karena saya melihat pada waktu itu kecenderungan musisi DIY –maksudnya dalam skena punk -lebih banyak meng- cover lagu orang…”

“Mini album tersebut berisi empat lagu doang sih, rekamannya di Tebet kalo ngga salah, saya lupa nama studio-nya apa” terang Alley. Produksinya dilakukan secara DIY dan hanya digandakan sebanyak 300 kaset.

Secara packaging mini album tersebut terbilang sederhana, sampul depan hanya dihiasi tulisan R.G.B. dengan dominasi warna hijau. Sementara pada bagian dalam sampul, terdapat foto band berwarna hitam putih.

Alley menambahkan “untuk cover kita ke percetakan, kaset –kosong– kita beli, kita rekam one by one, kita rekam langsung dari master yang sudah kita copy ke kaset gitu, lalu kita transfer (gandakan) menggunakan double-tape. Cuman ya itu, karena ga ada controlling dan terburu-buru jadi ada yang kosong ngga ada isinya. Tapi gue merasa di Jakarta sudah pecah telur, dengan adanya R.G.B. menelurkan mini album”.

R.G.B. formasi awal. Kiri-kanan; Botak, Bhoker, Alley, Kelly, Rino. Foto doc Nicken
R.G.B. formasi awal. Kiri-kanan; Botak, Bhoker, Alley, Kelly, Rino. Foto doc Nicken

R.G.B. formasi awal. Kiri-kanan; Botak, Bhoker, Alley, Kelly, Rino. Foto doc Nicken

Tak sebatas memproduksi, dengan modal seadanya mereka juga mengadakan pesta perilisan mini album tersebut di Harley Davidson Cafe, Polumas, pada Desember 1996 berbarengan acara Subnormal dan Sid Gank. Di acara tersebut kasetnya tidak diperjualbelikan, melainkan sebagai komplemen pembelian tiket masuk.

Hengkangnya Alley dan Bhoker, membuat R.G.B. bermain diluar domain hardcore punk. Alley kemudian membentuk band Burning Inside. Posisinya lalu digantikan oleh Genta dari band Keotik. Pada formasi ini sound R.G.B. cenderung ke oi! dan mereka juga mulai memainkan musik ska, dua tiga lagu dalam setiap pertunjukan.

Menariknya, sebelum skena mengenal pengkategorian yang lebih spesifik dari pohon keluarga punk rock, R.G.B. menjadi salah satu band yang turut menggembar-gemborkan istilah “melodic” dengan membawakan lagu Jo’anna versi Not Available, di Poster Cafe, Jakarta. Menurut Rino (wawancara, Januari 2020) “…soalnya tagline (kita) saat itu kan skoink core, (jadi) bisa masuk kemana aja…dan melodic bisa kemana aja”.

Seolah tak ingin hanya jadi epigon, selain menggagas produksi album, R.G.B. juga mengukuhkan penggunaan maskot. Adapun maskot badak yang terpampang dalam setiap album mereka (kecuali pada mini album) sudah mereka gunakan sejak tahun 1997, karakter tersebut hasil pengejawantahan nama Rino sang gitaris.

Menjelang era milenium, R.G.B. memutuskan berlabuh ke label major dan menghasilkan debut album Our Lifestyle di tahun 2000. Sebetulnya selain mereka, ada band UFO yang juga merapat ke Musica’s Studio dan menghasilkan album Brutal Pop, di tahun yang sama. Jadi R.G.B. bukan band punk rock satu-satunya, yang bernaung di bawah label major pada periode tersebut.

Langkah kontroversial ini ditempuh Rino bukan tanpa alasan. Rino mengaku muak terhadap anggapan orang-orang yang menilai punk itu musik sampah. Sehingga dia ingin membuktikan bahwa, punk rock juga layak diapresiasi dan diterima oleh masyarakat. Tak ayal keputusan ini membuat R.G.B. di cap sell out oleh komunitas underground Ibu Kota.

Kendati demikian R.G.B. tetap berjalan. Hingga pada tahun 2003, Botak memutuskan keluar dan membentuk band Tenholes. Lalu posisi vokal diambil alih oleh aktor FTV era 2000-an, Ferry Fernandez.

Sepanjang karirnya, R.G.B. telah menghasilkan satu mini album dan empat album penuh, serta mengalami cukup banyak bongkar pasang personil. Menyisakan Rino satu-satunya personil asli yang masih bertahan. Sesungguhnya masih banyak ide yang ingin direalisasikan Rino, namun takdir berkata lain.

Pada 4 Juni 2020, Rino menghembuskan nafas terakhir, menyusul Kelly dan Botak yang sudah pergi lebih dulu. Kepergiannya praktis membuat status R.G.B. menjadi tidak jelas. Namun, Genta mengungkapkan “RGB saat ini officially bubar, biar kita semua mengenang karya-karyanya saja”.

Rencana tinggal rencana, beberapa materi baru yang sempat dibuat Rino jadi menguap begitu saja. R.G.B. mungkin telah selesai, namun dalam rentang waktu 26 tahun eksistensinya tak dipungkiri, kalau mereka sudah memberi sumbangsih dan turut mewarnai kancah musik underground di Tanah Air dan Ibu Kota pada khususnya. (Norman Saputra, Pengamat Musik)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel