Menilik Klinik Asih Sasama, Wujud Kasih Ahmadiyah untuk Gunungkidul

·Bacaan 12 menit

Liputan6.com, Gunungkidul Hampir dua bulan mbah Pariyo (80) mengeluh sakit luar biasa pada tangan kirinya. Bagian lengan bawah hingga telapak tangannya bengkak sebesar betis orang dewasa. Di tengah rasa sakitnya, ia masih bisa berjalan ke Klinik Asih Sasama yang berjarak sekitar 1.5 kilometer dari rumahnya.

Pagi itu, Sabtu(23/10/2021) Mbah Pariyo bertemu dengan dokter langganannya, Gianne Panji Putri. Sang dokter mengindikasikan adanya fraktur pada tangannya. Gianne pun langsung merencanakan tindakan radiografi ke rumah sakit terdekat, RSUD Saptosari.

Menggunakan ambulans klinik, Gianne mengajak mbah Pariyo untuk mengetahui penyebab rasa sakitnya selama ini. Gianne menyetir sendiri ambulans bersama mbah Pariyo di sampingnya. Jarak klinik ke RSUD Saptosari hanya 3.8 kilometer dengan 5 menit perjalanan.

Ketika tiba hasilnya, rupanya kedua tulang lengan kiri bawah mbah Pariyo patah. Ia membutuhkan tindakan operasi secepatnya. Setelah kembali ke klinik, Gianne memberi catatan pada secarik kertas untuk diberikan pada keluarga mbah Pariyo. Pesan ini berisi apa yang harus dilakukan agar mbah Pariyo bisa mendapat tindakan operasi.

Mbah Pariyo pamit pulang. Ia menyerahkan kantong plastik berisi uang Rp 24 ribu sebagai biaya berobat. Gianne menerimanya dengan lapang. Padahal biaya berobat, obat-obatan, dan tindakan radiografi, lebih dari jumlah tersebut. Namun, kesehatan mbah Pariyo-lah prioritasnya.

Dua minggu berselang, tangan mbah Pariyo sudah mendapatkan tindakan operasi di RSUD Wonosari. Biaya operasi mbah Pariyo dijamin oleh BPJS. Hanya hitungan hari, sakit mbah Pariyo berkurang. Bengkak di tangannya juga mulai mengempis. Ia pun merasa sangat berterima kasih pada klinik yang sudah cekatan menangani dan memandu agar bisa mendapat tindakan operasi di rumah sakit yang lebih besar.

"Kula maturnuwun sanget kaliyan Klinik Ngloro (Asih Sasama), sak niki tangan kula bisa mari (saya sangat berterima kasih pada Klinik Ngloro (Asih Sasama), sekarang tangan saya bisa sembuh)" ujar mbah Pariyo saat ditemui di rumahnya, Kamis(11/11/2021).

Mbah Pariyo adalah satu dari kurang lebih 22 ribu pasien yang sudah dilayani Klinik Asih Sasama selama 7 tahun terakhir. Klinik swasta yang berada di desa Ngloro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul ini menjadi cercah harapan warga setempat untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Wujud kasih Ahmadiyah

Ruang periksa Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Ruang periksa Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Klinik Asih Sasama merupakan klinik pratama rawat jalan yang dibangun oleh organisasi non-profit, Humanity First Indonesia. Humanity First sendiri adalah sayap organisasi dari Jemaat Ahmadiyah. Organisasi ini termasuk badan amal internasional yang memberikan bantuan bencana dan pembangunan jangka panjang, salah satunya di Gunungkidul.

Asih Sasama berarti cinta untuk semua. Nama ini terinspirasi dari semboyan Ahmadiyah, yaitu “Love for all, hatred for none” (cinta untuk semua, tiada kebencian untuk siapapun). Meski dibangun oleh sayap organisasi Ahmadiyah, dalam beraktivitas, tidak ada sedikit pun kepentingan Ahmadiyah yang dibawa ke klinik ini. Semua yang dilakukan untuk klinik, murni untuk tujuan sosial dan kemanusiaan.

Klinik Asih Sasama berdiri tidak besar, tapi cukup untuk melayani pasien rawat jalan. Bangunan berarsitektur Joglo ini memiliki ruang tunggu, ruang periksa dokter umum, dan ruang konsultasi. Ada juga ruang untuk pemeriksaan gigi. Pada akhir 2020 lalu, Klinik Asih Sasama juga baru membuka layanan bidan. Di sini warga bisa mengecek kandungan, konsultasi kehamilan, KB, dan pijat bayi.

Tak terlihat satupun atribut Ahmadiyah ketika masuk ke dalamnya. Humanity First Indonesia memang memisahkan kepentingan keyakinan dengan aktivitas kemanusiaan yang mereka jalankan. Di sini, semua pasien dilayani apapun keadaan dan latar belakangnya.

"Klinik sebagai pelayanan yang dibentuk oleh Humanity First membentuk klinik di tempat yang masih sedikit layanan kesehatannya." ujar dr. Raden Hari Ahmad Muhsin selaku pimpinan di Klinik Asih Sasama, Kamis(11/11/2021).

Hari menjelaskan, menurut WHO, dalam standar pelayanan minimal kesehatan, rasio dokter dalam memberikan pelayanan adalah 1:2500. Satu dokter idealnya menangani 2500 jiwa. Namun, jumlah dokter di wilayah ini masih belum memenuhi jumlah ideal pemenuhan layanan kesehatan yang ada. Inilah yang menjadi alasan Humanity First Indonesia membangun klinik pertamanya di Gunungkidul.

Dalam Ahmadiyah sendiri, kemanusiaan merupakan hal yang begitu ditekankan. Membantu meringankan beban sesama manusia merupakan nilai-nilai yang wajib diterapkan tanpa melihat perbedaan yang ada.

Humanity First sendiri memiliki tagline "serving mankind" yang berarti melayani umat manusia. Konsep Humanity First berasal dari keinginan untuk memberikan bantuan atas dasar kebutuhan, terlepas dari ras, agama, warna kulit atau politik.

Awal berdiri

Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Gianne Panji Putri merupakan sosok yang mengawali berdirinya Klinik Asih Sasama. Sebelumnya, Gianne merupakan seorang dokter umum yang praktik di ibu kota. Namun, Gianne merasa kota bukanlah tempatnya. Ia punya mimpi lebih besar untuk bisa berguna bagi orang yang sangat membutuhkan.

"Ada rasa dibutuhkan sama yang butuh, ketika kerja di rumah sakit di kota, itu yang butuh aku, aku butuh untuk cari uang." ujar Gianne saat ditemui di klinik Rabu(10/11/2021).

Gianne melihat warga di Gunungkidul masih sangat membutuhkan pelayanan kesehatan yang terjangkau. Kala itu, Gianne memulai klinik bersama satu perawat, satu bidan, dan dua tenaga administrasi. Tiga tahun kemudian, Hari yang juga dokter umum, bergabung ke klinik.

Alasan Hari bergabung di klinik juga sama seperti Gianne. Ia ingin membantu orang-orang yang masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan. Para dokter, perawat, dan admin di Klinik Asih Sasama hadir bukan karena paksaan atau bujukan. Semua bergabung benar-benar atas panggilan dari hati yang sudah penuh niat.

"Seperti ada gaya tarik menarik antara Allah dan kita di sini. Ketika kita berniat untuk mengabdi, Allah memberi jalannya" ujar Gianne.

Disambut baik masyarakat

Klinik Asih Sasama, Gunungkidul berdampingan dengan Balai Desa Ngloro (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Klinik Asih Sasama, Gunungkidul berdampingan dengan Balai Desa Ngloro (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Sejak berdiri, Klinik Asih Sasama mendapat sambutan hangat dari warga dan pemerintah setempat. Tak pernah ada yang mempermasalahkan latar belakang klinik yang dibangun oleh sayap organisasi Ahmadiyah. Perangkat desa setempat pun tidak mempermasalahkan sepanjang semua berjalan sesuai koridor.

"Dari kegiatan-kegiatan pun selama ini tidak pernah ada menyinggung tentang ke Ahmadiyahannya. Jadi pure masih dalam koridor pelayanan (kesehatan) sesuai dengan tupoksinya." jelas lurah desa Ngloro, Heri Yulianto saat ditemui di kantornya Kamis(11/11/2021).

Klinik Asih Sasama berdiri berdampingan dengan Kantor Kepala Desa Ngloro. Saban hari, Heri menyaksikan secara langsung aktivitas klinik. Menurutnya, selama ini kegiatan klinik sangat profesional sebagai fasilitas kesehatan.

Menurut Heri, kegiatan yang sesuai koridor inilah yang pada akhirnya membuat klinik bisa diterima oleh masyarakat setempat. Klinik pun tak pernah membeda-bedakan pelayanan. Semua pasien diterima terlepas dari latar belakang dan kondisinya. Hal ini juga yang membuat citra Ahmadiyah baik di mata warga setempat.

"Kita menjaga setiap perbedaan dan memberikan rasa toleransi terhadap setiap keyakinan masing-masing." ujar Heri.

Heri juga tak pernah membatasi tiap pemeluk keyakinan untuk beraktivitas, terutama berkegiatan sosial. Menurutnya, berkeyakinan adalah hak masing-masing. Sebagai perangkat desa, Heri berkewajiban melindungi dan menjamin hak warga atau siapapun yang berada di wilayah berkaitan dengan keyakinan.

"Karena sekali lagi itu kan prinsip, itu pilihan, yang tidak boleh atas nama apapun ada unsur saling memengaruhi atau memaksakan kehendaknya." jelas Heri.

Beri jangkauan layanan kesehatan

Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Hadirnya Klinik Asih Sasama membantu warga sekitar untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Sebelum ada Klinik Asih Sasama, warga harus menempuh jarak 8 kilometer untuk mendapatkan layanan kesehatan di Puskesmas Saptosari. RSUD Saptosari pun baru diresmikan pada 2020 lalu. Hal ini tentunya menjadi penghambat melihat terbatasnya transportasi karena masih banyak warga yang berjalan kaki.

"Dengan adanya Klinik Asih Sasama di wilayah kita, memang cukup membantu. Bukan hanya wilayah kami untuk warga Ngloro, tapi juga untuk warga kelurahan sebelah" kata Heri.

Lokasi Klinik Asih Sasama yang strategis, membuatnya mudah dijangkau warga desa. Kebanyakan pasien Klinik Asih Sasama tinggal pada radius 4-5 kilometer dari klinik. Tak sedikit yang menuju klinik dengan berjalan kaki. Namun, jaraknya tentunya tak sejauh jika harus ke puskesmas induk atau RSUD Saptosari.

Saat ini ada dua dokter umum, dua perawat, satu bidan, dan satu admin. Di hari tertentu, ada juga dokter gigi yang praktik di klinik tersebut. Selama berdiri, Klinik Asih Sasama memberikan program-program yang membantu warga mendapat layanan kesehatan yang terjangkau. Klinik yang juga sudah terdaftar pada layanan BPJS ini sering menggratiskan atau memberi diskon biaya pengobatan bagi warga yang kurang mampu.

Tak cuma pelayanan di klinik, para dokter dan perawat juga sering jemput bola ke rumah pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Kegiatan seperti ini jarang dilakukan oleh fasilitas kesehatan lainnya di kawasan Ngloro maupun Saptosari. Selain layanan kesehatan, Klinik Asih Sasama juga turut andil dalam edukasi seputar kesehatan di Ngloro dan sekitarnya.

Suyat (71) adalah salah satu pasien di Klinik Asih Sasama. Sudah setahun Suyat berobat di Klinik Asih Sasama dan tidak pernah ke klinik lain. Suyat memiliki masalah pernapasan yang sudah lama ia derita. Berkat bantuan klinik, Suyat bisa mendapat pengobatan untuk meringankan sesak napasnya. Pengobatan Suyat digratiskan oleh klinik. Beberapa kali, Klinik juga sempat melakukan home visit untuk memeriksa keadaan Suyat.

"Kalau bukan orang baik, tidak mungkin mereka bisa membantu saya seperti ini" ujar Suyat.

Mengasuh bersama kala pandemi

Klinik Asih Sasama sering berkolaborasi dengan Kelurahan Ngloro terkait dengan pelayanan kesehatan warga. Lurah desa Ngloro, Heri Yulianto mengaku sangat terbantu dengan adanya para nakes di Klinik Asih Sasama.

Program rutin yang kini dilakukan kelurahan Ngloro dengan Klinik Asih Sasama adalah koordinasi bersama kader kesehatan desa terkait pola kembang dan tumbuh anak serta kesehatan lansia. Para dokter di Klinik Asih Sasama, rutin memberi edukasi dan penyuluhan pada kader kesehatan di Ngloro.

Selain itu, pada masa pandemi, klinik juga turut berperan terhadap pencegahan dan penanganan Covid-19. Di awal pandemi, Kelurahan Ngloro bersama Klinik Asih Sasama membentuk Satgas Covid-19 untuk melakukan tracking, tracing, dan testing untuk tiap orang yang akan masuk ke pemukiman warga. Posko satgas ditempatkan di depan klinik yang berhadapan dengan balai desa Ngloro.

"Kita tutup semua akses dengan hanya meberikan satu akses untuk masuk ke wilayah basis pemukiman. Kita mendetek yang bergejala pada saat itu dan itu intensi dilakukan setiap harinya dengan klinik selama kurun waktu 6 bulan." papar lurah Heri.

Hasilnya, Desa Ngloro menjadi desa percontohan kebijakan penanggulangan pencegahan Covid-19 saat itu. Jumlah warga yang positif juga tidak signifikan. Klinik Asih Sasama juga turut membantu percepatan vaksinasi di desa Ngloro.

"Justru malah pelaksanaan vaksin di keluarahan kemarin itu support utamanya dari Klinik Asih Sasama, baik dari nakesnya dan segala sesuatunya." ujar Heri.

Berkat program percepatan vaksinasi yang dibantu oleh Klinik Asih Sasama, kini 92 persen warga Ngloro sudah mendapatkan vaksinasi.

Satu tujuan, satu hati

Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Tak mudah untuk mengajak para nakes baik itu dokter maupun perawat untuk mau mendedikasikan diri di daerah seperti Gunungkidul. Menurut Gianne, para nakes yang ada di Klinik Asih Sasama merupakan orang-orang yang memiliki satu tujuan dan kemantapan hati.

Yuyun Yunarsih misalnya, ia merupakan bidan yang bergabung di Klinik Asih Sasama sejak 2020 lalu. Tiga tahun sebelumnya, Yuyun memang pernah mengunjungi klinik. Ia merasa ada tarikan kuat yang membuatnya ingin mendedikasikan dirinya di klinik ini. Yuyun yang sebelumnya adalah seorang supervisor di rumah sakit swasta di Tanggerang akhirnya mantap bergabung membantu Klinik Asih Sasama.

"Kemanusiaan itu kan amalan reaksi dari keimanan kita. Jadi kalau keimanan sudah kuat, ya harus diwujudkan dalam bentuk kemanusiaan." ujar Yuyun ketika ditanya alasannya mau bergabung ke klinik Rabu(10/11/2021).

Yuyun juga merasa hatinya lebih tenang ketika bekerja di Gunungkidul. Hal yang sama juga dirasakan oleh Hari ketika bergabung di Klinik Asih Sasama. Ia merasa, selama berinteraksi dengan pasien di Klinik Asih Sasama, dirinya merasa lebih damai dan bersyukur.

"Kalau ditanya betah, saya betah, kalau ditanya cukup, sudah sangat cukup, kalau ditanya senang atau tidak, sangat senang. Mau sampai kapan ada di sini? ya mau selamanya di sini." ujar Hari dengan penuh kemantapan.

Klinik Asih Sasama juga membuka lebar kesempatan untuk tenaga kesehatan yang ingin bergabung, terlepas dari apapun latar belakangnya. Beberapa nakes merupakan bagian dari Jemaat Ahmadiyah, tapi ada juga yang dari luar Ahmadiyah. Karena memiliki satu tujuan yaitu melayani kesehatan masyarakat, perbedaan-perbedaan ini kemudian bersatu dan saling menguatkan.

Edy Maryanto salah satunya, sudah setahun Edy turut membantu jalannya klinik. Edy bukanlah jemaat Ahmadiyah. Menurutnya, membantu sesama tak perlu memandang agama atau aliran. Jika sudah ada niat untuk mengabdi pada kemanusiaan, perbedaan jadi hal yang tak penting lagi.

"Dari awal masuk saya nggak ada hubunganya soal organisasi, saya hanya fokus di klinik. Kerjaan nggak bisa disangkut pautkan organisasi" jelas Edy ketika dihubungi Senin (14/11/2021).

Selama bekerja di klinik, Edy mendapat banyak pengalaman baru yang tidak ia dapatkan di pekerjaan sebelumnya. Ia juga merasa kekeluargaan di klinik sangat nyata adanya tanpa melihat perbedaan yang ada.

Tantangan yang masih dihadapi

ilustrasi fasilitas kesehatan (sumber: freepik)
ilustrasi fasilitas kesehatan (sumber: freepik)

Menurut Gianne saat ini masih banyak tantangan yang dihadapi di bidang kesehatan di Gunungkidul. Dalam hal membangun fasilitas kesehatan sendiri, tenaga kesehatan yang mau bekerja di Gunungkidul masih cukup minim. Hal ini bukan hanya berlaku di Klinik Asih Sasama, tapi juga di banyak fasilitas kesehatan di Gunungkidul.

"Inilah tantangan mengembangkan rumah sakit atau faskes di Gunungkidul. Masih kekurangan SDM. Ketika kita mau mengembangkan faskes, SDM-nya ada dulu baru kita sediakan fasilitasnya." ujar Gianne.

Selain minimnya tenaga kesehatan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kemiskinan. Menurut Gianne, penyakit sesungguhnya bukanlah virus atau bakteri, tapi kemiskinan itu sendiri.

Dari kemiskinan, masyarakat akan kesulitan memenuhi gizinya. Akibat kemiskinan pula pengetahuan tentang kesehatan menjadi rendah. Kemiskinan pula yang membuat masyarakat tidak mampu membayar biaya pengobatan. Beruntung, kini ada BPJS dan KIS yang bisa meringankan beban berobat.

Pemberdayaan masyarakat dan edukasi kesehatan juga masih terus dibutuhkan. Tantangan yang juga muncul saat ini adalah mengedukasi masyarakat untuk menjaga kesehatan dari penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

"Kalau tiap sakit berobat, sembuh, lalu sakit lagi dengan penyakit yang sama terus-terusan dan itu sebenarnya bisa dicegah, berarti sebenarnya yang dibutuhkan adalah edukasi dari pencegahan penyakit itu sendiri" jelas Gianne.

Apresiasi atas dedikasi

Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).
Klinik Asih Sasama, Gunungkidul (Liputan6.com/Anugerah Ayu).

Hadirnya Klinik Asih Sasama begitu diapresiasi pemerintahan setempat, khususnya Kelurahan Ngloro. Heri Yulianto selaku lurah Desa Ngloro begitu mengapresiasi dokter dan tenaga kesehatan di Klinik Asih Sasama.

"Karena untuk ukurannya, dr Gianne dan dr Hari itu mestinya mudah untuk mendapatkan job di kota besar atau tidak berada di wilayah yang cenderung berada di pinggir. Tapi mereka dari awal memang berusaha mendedikasikan apa yang bisa dilakukan untuk kemanusiaan. Prinsip inilah yang kami sangat apresiasi" ujar Heri.

Gianne, Hari, dan tenaga kesehatan di Klinik Asih Sasama memiliki dedikasi besar untuk melayani masyarakat Gunungkidul. Materi, keuntungan, bahkan sorotan bukanlah hal yang dicari oleh klinik ini. Memanusiakan manusia lah yang menjadi prioritas Klinik Asih Sasama.

"Kita harus bisa menghapus air mata mereka, ketika melakukan pelayanan kita harus berada di posisi 'kalau saya jadi dia, bagaimana?' Posisi seperti itu membuat kita akan melayani sebanyak yang kita bisa. Karena kita harus memperlakukan pasien seperti kita ingin diperlakukan." ujar Gianne.

***

Liputan ini merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan Norwegian Embassy untuk Indonesia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel