Menilik makna "Jeda" di Djakarta Teater Platform 2020

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 2 menit

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta kembali menggelar Djakarta Teater Platform (DTP) sebagai ruang pertemuan, pertukaran gagasan, distribusi pengetahuan, dan medium penciptaan karya, dengan tahun ini mengusung tema "Jeda".

"Menghadapi perubahan yang masif, kami perlu menarik jarak dan melihat lebih luas melalui 'jeda'. Kata 'jeda' sendiri merupakan situasi henti yang tidak pasif sepenuhnya," kata Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Danton Sihombing melalui konferensi pers virtual, Jumat.

"Dalam 'jeda', kita menarik nafas, melakukan refleksi panjang yang sekaligus mempersiapkan hal yang akan dilakukan ke depan," ujarnya menambahkan.

Baca juga: Deretan pertunjukan teater di Jakarta pekan ini

Baca juga: Pekan ini ada Sinema Musikal Rama dan Sinta & Opera Merah Putih

Para penggiat seni pertunjukan hari ini berlomba-lomba untuk tetap ‘bernafas’ dengan memanfaatkan ruang-ruang digital agar produksi karya tetap berjalan.

Tak hanya itu, ruang digital, menurut Danton memungkinkan sebuah karya atau kerja artistik menembus batas-batas lama dan beradaptasi dengan hal-hal baru yang perlu ditimbang untuk pemulihan keadaan dunia kesenian pascapandemi.

DTP membentang wacana dalam "Jeda" yang diturunkan dalam rangkaian presentasi proses karya, presentasi karya panggung luar dan lokakarya yang menjadi program utama tahun ini.

Melalui sejumlah programnya, DTP 2020 mengajak para seniman, penggiat teater, pengamat, produser, birokrat dan publik seni untuk memanfaatkan momentum guna memperkuat jaringan dan kerja artistik, menelusuri dialektika perwajahan kesenian hari ini yang kerap memanfaatkan media digital.

Adapun sejumlah rangkaian acara di Djakarta Teater Platform kali ini. Pertama adalah "Ruang Presentasi Proses Karya", menghadirkan Unlogic Theatre, rokateater, Teater Selembayung, Sun Community, Language Theatre, dan Kolaborasi Abdi Karya (Indonesia) dengan Theatr na nOg (Inggris) untuk proyek Work in Progress.

Selanjutnya, "Presentasi Karya Panggung Luar", yang merupakan ruang uji bentuk karya di masa pandemi. Seniman dan grup terpilih akan menginisiasi sebuah proyek presentasi langsung dengan sejumlah pementasan baru di ruang dan media baru.

Program ini menampilkan Teater SIM dengan karya “Pembajak Makan Malam” dan Teater Ghanta dengan karya “Musim Ketiga: Tempat Terbaik di Dunia”.

Lebih lanjut, ada "Diskusi Buku: Drama Berakhir Dengan Diskusi (63 Kumpulan Esai Wiratmo Soekito)", yang merupakan kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dengan Institut Kesenian Jakarta.

Selanjutnya, "Lokakarya Pencitaan Teater", ditujukan sebagai ruang belajar bersama para sutradara teater dari kelompok-kelompok di lingkungan Festival Teater Jakarta (FTJ) yang tergabung dalam 5 asosiasi teater di Jakarta.

Seluruh rangkaian Djakarta Teater Platform “Jeda” 2020 dilangsungkan secara daring dan luring mulai tanggal 21–29 November 2020.

Daring akan disiarkan melalui kanal YouTube Dewan Kesenian Jakarta, sedangkan luring akan dilangsungkan di Humaark yang merupakan alternatif art center non-profit dengan protokol kesehatan.

Seluruh agenda Djakarta Teater Platform “JEDA” 2020 dapat diakses melalui situs dkj.or.id.

Baca juga: "Padusi", pementasan dengan unsur kebudayaan Minang

Baca juga: Noah padukan teater dan seni visual di konser perayaan delapan tahun

Baca juga: Tantangan Sha Ine Febriyanti perankan Bawang Merah & Bawang Putih