Menilik Sejarah Gerakan 30 September yang Telan Korban Jiwa dan Diabadikan dalam Film G30S

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Banyak peristiwa terjadi sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Bahkan ketika Indonesia sudah dinyatakan merdeka, sederet peristiwa pilu dan duka masih terjadi. Salah satunya adalah peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan G30S/PKI.

Gerakan 30 September sendiri merupakan peristiwa terjadinya penculikan terhadap sejumlah jenderal yang menjabat di Indonesia. Peristiwa ini akhirnya pecah pada 30 September-1 Oktober 1965 dan menjadi salah satu peristiwa kudeta terbesar di Indonesia.

TERKAIT: Telusur Sejarah G30S PKI Lewat 5 Novel Ini

TERKAIT: Peringati G30 SPKI, Netizen Doakan Pahlawan Revolusi

Peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah bangsa ini, selalu dikenang setiap 30 September. Berikut sejarah terjadinya peristiwa 30 September 1965 yang menelan banyak korban jiwa.

Peristiwa 30 September ini terjadi dengan maksud menggulingkan pemerintahan Presiden Soeharto. Setiap peristiwa yang terjadi di momen ini masih cukup membekas bagi bangsa Indonesia.

Sejarah Gerakan 30 September

Ilustrasi perang. Sumber foto: shutterstock/Zef Art.
Ilustrasi perang. Sumber foto: shutterstock/Zef Art.

Gerakan 30 September dipimpin oleh DN Aidit. Kala itu ia menjabat sebagai ketua Partai Komunis Indonesia. Mereka yang mengikuti gerakan ini disebut ingin mengubah paham, konsep, dan dasar negara Indonesia yang sudah terbentuk menjadi komunis.

Gerakan 30 September dimulai pada 1 Oktober 1965 dini hari di bawah pimpinan Letkol Untung. Kala itu, Letkol Untung tercatat sebagai anggota Cakrabirawa atau pasukan pengawal istana yang dipilih sebagai pemimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI.

Target dari gerakan ini menyasar pada perwira TNI AD. Setidaknya ada tujuh nama yang mencari target incaran oleh anggota PKI. Tiga di antaranya dibunuh di tempat dan sisanya dibawa menuju Lubang Buaya.

Enam perwira TNI Angkatan Darat yang menjadi peristiwa Gerakan 30 September, di antaranya Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jendral Raden Soeprapto, Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jendral Siswondo Parman, Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan, dan Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo.

Jadi Pahlawan Revolusi dan Pahlawan Nasional

Sebenarnya operasi ini menyasar satu target utama, yakni Panglima TNI AH Nasution. Beruntung dirinya berhasil melarikan dan akhirnya selamat. Sayangnya, putri kecilnya yang bernama Ade Irma Nasution harus menjadi korban keganasan peristiwa ini.

Ade Irma meninggal akibat timah panas yang ditembakkan oleh pihak PKI. Selain itu, Lettu Pierre Andreas Tendean juga menjadi korban dari peristiwa. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah sebelum diculik dan dibunuh di lokasi Lubang Buaya.

Menurut UU No. 20 Tahun 2009, ketujuh Jenderal yang menjadi korban dari peristiwa Gerakan 30 September dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi sekaligus Pahlawan Nasional. Mereka dianggap berjasa bagi bangsa Indonesia bahkan setelah meraih kemerdekaan.

Ada tiga nama lain yang menjadi korban dari Gerakan 30 September, yakni Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun, Kolonel Katamso Darmokusumo, dan Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto.

Diabadikan menjadi film

Untuk mengingat momentum dari peristiwa ini, Gerakan 30 September akhirnya diabadikan dalam sebuah film berjudul G30SPKI. Film ini bergenre dokudrama propaganda yang dirilis pada 1984 dan diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara saat Presiden Soeharto masih menjabat.

Brigjen G. Dwipayana menjadi sosok di balik penggarapan film G30SPKI. Saat ini ia masih menjabat sebagai ketua PPFFN sekaligus staf kepresidenan. Untuk memproduksi film ini dikabarkan menghabiskan biaya sebesar Rp800 jta.

Penggarapan dan penayangan film inipun menuai kontroversi. Di mana penayangan film G30SPKI diduga menjadi alat propaganda politik di tengah situasi yang saat itu terjadi. Film tersebut menjadi tayangan wajib anak sekolah untuk diputar setiap 30 September malam.

Setelah Presiden Soeharto lengser paada 1998, film garapan Arifin C. Noer ini tidak lagi tayang di TVRI. Alasannya cerita yang digarap dalam film tersebut tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Simak video berikut ini

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel