Menilik Sejarah Indonesia Lebih Dalam Lewat Sketsa Lukisan Karya S. Sudjojono pada Pameran Seni Mukti Negeriku

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Masih dalam suasana Kemerdekaan RI di bulan Agustus ini, Tumurun Private Museum yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah menggelar pameran seni yang berjudul “Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S. Sudjojono” per tanggal 28 Agustus 2021 hingga 6 bulan ke depan.

Pameran seni ini akan menampilkan salah satu reproduksi mahakarya S. Sudjojono yakni lukisan pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen pada tahun 1973, yang lukisan aslinya berada di Museum Sejarah Jakarta. Namun meski begitu, pameran ini akan menghadirkan 38 sketsa asli yang dibuat Sudjojono dalam mempersiapkan pembuatan lukisan tersebut.

Hal ini merupakan kali pertama Tumurun Private Museum memamerkan seluruh sketsa asli secara lengkap dari suatu karya, dan ini juga kali pertama terjadi di Indonesia.

“38 sketsa asli ini baru pertama kali dipamerkan secara lengkap di Indonesia. Hal ini kamu lakukan agar masyarakat dapat memahami arti penting dari perjuangan Sultan Agung dalam menolak Belanda ada di Indonesia, dan kehebatan Maestro Sudjojono dalam menghasilkan karya yang masterpiece,” ujar Iwan Kurniawan Lukminto, yang merupakan pemilik dari Tumurun Private Museum dalam virtual press conference peluncuran Pameran Mukti Negeriku, Jumat (27/8).

Eksistensi Lukisan Sudjojono

Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)
Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)

Dalam konferensi pers peluncuran pameran ini, Iwan mengatakan bahwa tujuan dari pameran ini adalah untuk mengenalkan masyarakat, khususnya kaum muda pada sejarah Indonesia, dan juga sejarah seni rupa Indonesia lewat karya dari sang maestro, yakni S. Sudjojono.

Dirinya juga menjelaskan, pameran ini nantinya akan diadakan selama 6 bulan sejak Agustus 2021 hingga Februari 2022. Meski saat ini kita masih dilingkupi kondisi pandemi, namun hal ini tak menyurutkan niat dari Tumurun Private Museum untuk mengadakan pameran seni rupa bersejarah ini.

“Pandemi tidak membatasi kita untuk bisa mengadakan pameran ini. Pameran ini merupakan sebuah kesempatan untuk menyemangati anak-anak dan generasi muda agar mereka bisa belajar banyak tentang art sekaligus history dari sosok Sudjojono dan Sultan Agung itu sendiri,” ujarnya menjelaskan tujuan dibuatnya pameran ini.

Selain itu, target utama dari pengadaan pameran ini adalah untuk memberikan wawasan bagi masyarakat, terutama dari eksistensi lukisan Sudjojono itu sendiri. “Jika masyarakat sudah bisa aware terhadap suatu karya, maka karya itu akan bisa lebih dilestarikan lagi nantinya. Ketika masyarakat sudah lebih memerhatikan karya tersebut, maka nantinya diharapkan pemerintah juga akan bisa memberikan perhatian khusus untuk bisa mengkonservasi lukisan masterpiece ini agar kaum muda dapat lebih mengenal sosok Sultan Agung dan Sudjojono di masa yang akan datang,” tambahnya.

Alasan Pemilihan Sketsa S. Sudjojono

Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)
Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, nantinya pameran ini akan lebih berfokus pada karya dari Sindudarsono Sudjojono yang memang mengangkat tema perjuangan dari Sultan Agung.

Walaupun terdapat banyak karya dari Sudjojono, namun pemilihan karya lukisan perjuangan Sultan Agung satu ini bukan tanpa alasan. Maya Sudjojono yang merupakan anak dari Sudjojono mengungkapkan alasan di balik pemilihan tema pameran ini.

“Karena di pameran ini, kita lebih memamerkan dan memfokuskan pada sketsa dari Sudjojono, menurut kami sketsa yang paling kompleks dan memiliki arti paling bersejarah adalah sketsa coretan dan tulisan tangan tentang lukisan ini,” ujar Maya Sudjojono dalam konferensi pers peluncuran pameran ini.

Sudjojono merupakan seseorang yang detil, dan sangat serius ketika membuat suatu karya. Maka dari itu, dalam satu lukisan, khususnya Lukisan Perjuangan Sultan Agung ini, Sudjojono memiliki 38 sketsa yang terdiri dari coretan-coretan tangannya, dan juga tulisan hasil riset dan penelitiannya sehingga mendapatkan penggambaran yang riil ketika melukis lukisan tersebut.

“70% dari lukisan ini adalah fakta berdasarkan riset-riset yang ia lakukan, dan 30% sisanya adalah imajinasinya berdasarkan laporan dan fakta-fakta yang ia dapatkan melalui riset,” ujar kurator dari pameran tersebut, Santy Saptari.

Sketsa AdalahBukti Keseriusan Seorang Seniman

Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)
Pameran lukisan dan sketsa karya S. Sudjojono di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah (Foto: dok. Tumurun Private Museum)

Semasa hidupnya, Sudjojono mengatakan bahwa sketsa adalah suatu hal yang sangat penting, khususnya dari para seniman. Hal tersebut dijelaskan langsung oleh Maya Sudjojono dalam menjelaskan alasan pemilihan ke-38 sketsa tersebut menjadi fokus pameran.

“Waktu Bapak masih ada, Bapak selalu bilang, ‘Untuk melihat sebuah keseriusan seorang pelukis, lihatlah sketsa-sketsanya’, maka dari itu sekarang sketsa dari Bapak kami pamerkan kepada seluruh masyarakat Indonesia di pameran ini,” ujar Maya.

38 sketsa lukisan dari satu karya besar Sudjojono ini menggambarkan kemampuan teknis dari seorang seniman. Tidak ada karya Sudjojono lainnya yang memiliki sketsa sebanyak ini. Hal inilah yang merefleksikan diri Sudjojono hanya lewat coretan-coretan bermaknanya yang akhirnya bisa melahirkan karya masterpiece yang masih dikenang hingga saat ini.

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel