Menilik Sejarah Rempah Sebagai Kekayaan Indonesia

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Betapa pentingnya menumbuhkan kesadaran jika Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya memiliki beragam suku dan budaya, harus diingat juga apabila Nusantara merupakan penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Inilah yang menjadi motivasi bangsa Eropa di masa dulu untuk menghidupkan perdagangan di Nusantara.

Melihat betapa pentingnya peran rempah sebagai identitas bangsa yang sekarang banyak dilupakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menggagas program rekonstruksi perdagangan rempah bernama Jalur Rempah. Ada berbagai hal yang penting diketahui dari program ini, lho!

Sudah dimulai sejak ribuan tahun sebelum masehi, perburuan rempah terbesar di dunia baru terjadi di abad ke-15. Perjalanan ini dimulai oleh bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda yang berlomba-lomba mencari pusat penghasil rempah.

Persaingan sengit hingga rela menghabiskan banyak dana untuk berlayar selama bertahun-tahun hingga terlibat perang, demi mendapatkan rempah-rempah yang nilainya lebih tinggi daripada emas. Manfaatnya yang diburu, bukan hanya sebagai penyedap rasa tapi juga mengawetkan bahan pengawet, obat, hingga pewangi ruangan.

Rempah Menjadi Daya Tarik Bagi Negara Eropa

Ilustrasi rempah/copyright shutterstock
Ilustrasi rempah/copyright shutterstock

Pencarian rempah oleh bangsa Eropa awalnya dipelopori oleh Christopher Colombus, tapi baru Vasco Da Gama asal Portugis yang berhasil menjadi pelaut yang mencatatkan tinda emas di abad ke-15. Jalur komoditas rempah ini pun melintasi berbagai area dan pelabuhan di dunia, terutama di Asia, Afrika hingga Eropa.

Punya posisi yang strategis, Indonesia pun dikenal sebagai surganya beberapa jenis rempah. Seperti cengkeh yang tumbuh di Pulau Ternate dan Tidore, pala yang tumubuh alami di Pulau Banda atau Sumatra yang dikenal sebagai penghasil kemenyan, kayu manis dan lada. Bukan hanya itu saja, Jalur Rempah di masa lalu ini pun jadi cikal bakal perdagangan komoditas yang melibatkan beragam suku dan membentuk Nusantara.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya ikut menggaungkannya melalui program jalur rempah sebagai koridor interaksi antarbudaya dalam lintas daerah di Indonesia dan lintas negara. Program ini ingin menghidupkan jalur rempah dengan kerjasama, sinergi, gerak serentak dalam memajukan kebudayaan bersama ribuan orang yang memiliki ketersambungan budaya di ratusan titik rempah, mulai dari pemberdayaan komunitas budaya rempah, pengembangan eduwisata jalur rempah, hingga pertunjukan seni, gastronomi, pengetahuan dan pengobatan tradisional, residensi pelaku budaya, workshop, dan lainnya.

Tak ketinggalan, pemerintah lewat berbagai kementerian pun membuat berbagai program. Seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menawarkan paket pariwisata Jalur Rempah, Kementerian Pertanian yang akan melakukan peremajaan ladang-ladang rempah, juga Kementerian Kesehatan yang mendorong industri obat yang mengolah rempah-rempah asli Indonesia. Begitu juga pengembangan industri kreatif, seperti fashion berbasis rempah yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada bulan November ini, Indonesia akan mengusulkan Jalur Rempah ke UNESCO sebagai world heritage atau warisan dunia. Harapannya, program ini bukan hanya berperan dalam kemajuan kebudayaan, tapi juga mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Setidaknya ada 20 titik awal rekonstruksi Jalur Rempah yang tersebar dari Raja Ampat hingga Pesisir Selatan (Mandeh). Apabila program Jalur Rempah berhasil mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan dunia, maka dapat memperkuat diplomasi Indonesia, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Ingin mempelajari lebih banyak tentang Jalur Rempah? Yuk, klik di sini!

#ChangeMaker