Meninggalkan Lingkungan Kerja yang Beracun demi Menjaga Kewarasan Diri

Fimela.com, Jakarta Tak pernah ada yang bisa baik-baik saja saat terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic relationship). Baik dalam hubungan keluarga, kerja, pertemanan, hingga hubungan cinta, terjebak dengan seseorang yang memberi kita luka jelas membuat kita menderita. Namun, selalu ada cara dan celah untuk bisa lepas dari hubungan yang beracun tersebut. Selalu ada pengalaman yang bisa diambil hikmahnya dari hal tersebut. Simak kisah Sahabat Fimela berikut yang diikutsertakan dalam Lomba Let Go of Toxic Lover ini untuk kembali menyadarkan kita bahwa harapan yang lebih baik itu selalu ada.

***

Oleh: MI

Di era milenial ini sering kali kita mendengar kata toxic. Orang toxic seringkali di gambarkan dengan orang egois yang bar-bar dan selalu mencela orang lain, dan terkadang dia juga bisa saja menyakiti orang lain baik secara fisik maupun verbal. Dan bahkan orang jenis ini bisa muncul di mana saja di kehidupan kita sehari-hari. Dari teman yang toxic, mertua yang toxic, ipar toxic, bahkan sampai seorang toxic worker. Sudah banyak artikel yang bahkan membahas ciri-ciri seorang toxic worker. Dari beberapa artikel itulah dapat kusimpulkan bahwa selama ini aku bekerja di lingkungan kerja yang toxic.

Bagaimana tidak? Selama ini aku bekerja dengan orang yang selalu mencari kesalahan rekan kerjanya. Berpura-pura baik lalu menjatuhkan rekan kerjanya di depan atasan bahkan bos besar. Sering mencela hasil hasil kerja rekan yang lain bahkan meskipun dia tidak pernah tau seberapa keras orang lain berusaha agar terselesaikan dengan baik.

Tak jarang si toxic worker ini membandingkan dirinya dengan rekan yang lain. Beberapa kali dia sempat membuatku tersudut hanya karena aku tidak pernah mendengar bualannya yang selalu membanggakan diri. Aku dibuat seolah sebagai kambing hitam atas sebuah kesalahan kecil yang kemudian dia manipulasi seolah jadi masalah besar. Lalu di waktu lain ketika aku tertimpa sebuah masalah dia menjadi orang pertama yang menguatkan, tetapi di belakang dialah orang yang paling menggebu-gebu ingin membuatku terpuruk.

 

Mengundurkan Diri

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah kejadian waktu itu, ketulusanku bekerja untuk atasanku yang baik hati sedikit memudar. Aku masih bertahan meskipun rasanya aku menjadi seperti orang munafik yang harus terlihat baik-baik saja saat berharap muka dengan si toxic worker ini. Benci? Aku tidak benci, hanya saja rasa sakit hati ini tidak lagi bisa terhapuskan. Selama aku mempersiapkan diri untuk melepaskan diri dari lingkungan toxic ini aku berusaha untuk meminimalisir urusan dengannya. Jika pun harus berurusan aku harus mengatur emosiku sedemikian rupa demi sebuah profesionalisme.

Aku sudah memantapkan hati, mempersiapkan segalanya lalu kuserahkan surat pengunduran diriku pada atasan. Beliau memberiku waktu untuk berpikir ulang. Sedikit negosiasi dan memberikan opsi lain agar aku tetap bertahan. Namun, hatiku sudah mantap dan impianku untuk lepas dari lingkungan ini dan membangun usaha di bidang konveksi busana syar'i harus terwujud demi masa depan keluarga kecilku kelak. Dan aku tidak ingin jika aku tetap bertahan ketika aku pulang dan si kecil menyambut jadi kecewa karena emosi di siang hari karena si toxic worker belum mereda.

Aku memutuskan pergi bukan karena aku kalah, aku pergi demi menjaga kewarasanku dan mewujudkan impianku. Memulai dari nol tidak masalah, semua prosesnya akan aku nikmati, yang kelak akan kuceritakan pada anak cucu di waktu santai nanti.

#ChangeMaker