Meningkatkan kemandirian pangan melalui “urban farming”

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang bisa dipenuhi langsung maupun tidak langsung, antara lain, dengan menangkap hasil laut, berburu, atau bercocok tanam.

Begitu penting kebutuhan pangan sehingga komoditas ini menjadi salah satu indikator ketahanan negara termasuk di Indonesia seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2022 tentang Ketahanan Pangan.

Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercipta dari ketersediaan pangan yang cukup baik dari jumlah, mutu, keamanan, kemerataan, serta terjangkau.

Sumber pangan dapat dihasilkan tidak melulu secara konvensional dengan menggunakan lahan luas, namun dapat bersifat adaptif, memanfaatkan lahan atau sumber daya yang ada di sekitar.

Apalagi, lahan yang tersedia bagi masyarakat perkotaan sangat terbatas sehingga pertanian perkotaan (urban farming) menjadi solusi untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan lahan yang terbatas namun dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Terdapat sejumlah contoh pertanian perkotaan yang dapat dilakukan di lahan terbatas di rumah, yakni hidroponik, aquaponik, vertikultur yang dapat dilakukan di rooftop, atau di samping tembok rumah secara vertikal.

Berkaca dari manfaat yang dihasilkan dari pertanian urban, salah seorang pekerja perusahaan pelat merah, Mochamad Cipta, pun mulai terjun di bidang ini.

Rutinitas menyaksikan hiruk pikuk perjalanan dari Jakarta Pusat menuju kawasan Cibubur seakan terbayarkan ketika berada di rumah Cipta. Betapa tidak, setibanya di rumah salah seorang pegiat urban farming ini, tamu disambut rimbun dan hijaunya sayur-mayur yang nampak dari rooftop.

Terpikir memanfaatkan lahan yang ada di rumah serta berkeinginan meningkatkan kemandirian pangan, Cipta yang terpaksa beraktivitas di rumah (work from home) saat virus COVID-19 merebak di wilayah Ibu Kota, mulai memanfaatkan lahan di rumahnya dengan menanam sayur secara hidroponik pada November 2021.

Pria 26 tahun ini mengaku terpikir memanfaatkan lahan di lantai atas rumahnya (dak) yang berukuran 6x4 meter untuk menanam sejumlah tanaman sayuran saat beberapa kali melihat tayangan tentang hidroponik melalui platform video daring.

Munculnya ide

Cipta mengisahkan bahwa ide muncul saat awal pandemi, ketika banyak kantor menerapkan WFH. Kala itu ia iseng-iseng lihat Youtube muncul hidroponik.

Selain itu, merebaknya kasus COVID-19 turut membuat khawatir keluarga kecilnya tertular virus sehingga terpikir cara mengurangi aktivitas belanja rutin termasuk belanja sayur-mayur secara tatap muka dengan pedagang.

“Waktu itu pemerintah juga mendorong urban farming untuk ketahanan pangan, ya. Jadi, ya sudah dicoba,” tutur Cipta saat ditemui di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Mulai menanam sejumlah sayur seperti pakcoy, selada romaine, selada keriting, bayam, hingga kangkung, ia mengaku modalnya saat itu sebesar Rp8–Rp9 juta, yang dipakai untuk membeli peralatan atau instalasi hidroponik jenis gully trapesium hingga benih sayur.

Saat panen pertama, ia mengucapkan rasa syukur. Sebab, saat itu harga bahan pangan melonjak, namun berkat usaha urban farming yang digeluti, istri pun turut merasakan manfaat dari sisi ekonomi.

“Ikut senang ya, soalnya bisa ngirit, mau masak tinggal petik, nggak perlu keluar rumah cari tukang sayur. Apalagi waktu itu lagi ramai-ramainya COVID, kan. Jadi, ya terbantu banget,” ujar Desi, istri Cipta.

Mulanya, sayur hasil panen hanya dikonsumsi sendiri, namun seiring banyaknya hasil panen, ia pun mulai berbagi ke tetangga hingga pekerja kebersihan sekitar kompleks perumahan.

Karena sering berbagi, tetangga sekitar rumah hingga kompleks sebelah pun perlahan mengenal dirinya menanam sayur secara hidroponik. Tak ayal, lambat laun ia pun sering kali mendapatkan “terror” berupa pesan dari tetangga-tetangganya yang menanyakan kapan sayur yang ditanamnya dipanen.

"Sering banget ditanyain kapan panen, kapan panen, gitu. Jadi, ya alhamdulillah, berarti orang pada tertarik," ungkapnya semringah.

Berlat dikenal menanam sayuran hidroponik yang lebih terjamin kebersihannya, sayur yang dilabeli Andesta Farm ini perlahan ramai pesanan sekitar 2-3 bulan percobaan, baik dari warga sekitar rumah, rekan kantor, maupun dari e-commerce dan platform jual beli online lainnya.

Sayur hasil panen seperti pakcoy dan kangkung dibanderol dengan harga Rp10-20 ribu per 250 gram, tergantung jenis sayuran. Dari hasil hobinya ini, Cipta mampu mengumpulkan omzet hingga Rp3-5 juta rupiah per bulan.

Ketika mencicipi tumis kangkung dari hasil panen sayurannya, terasa begitu segar. Rasa sayur yang baru dipetik lalu dimasak memang terasa berbeda. Lebih terasa kesegaran dan rasa asli sayurnya.

Ayah satu anak ini turut berpesan kepada masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan lahan yang ada di rumah, seperti balkon, sisi samping rumah, maupun halaman rumah yang masih kosong untuk bercocok tanam demi mendukung ketahanan pangan.

Ruang atau lahan terbuka di rumah tersebut, saran dia, bisa dimanfaatkan secara maksimal sepanjang ada cahaya Matahari yang masuk.

Cipta lalu menceritakan suka duka saat mulai menanam sayuran secara hidroponik.

Waktu itu ia sudah menanam kemudian ditinggal pergi keluar kota selama 2 minggu. Ia mengira bakal tidak tumbuh, namun ternyata pas sampai rumah, sayuran sudah lumayan layu.

Sempat sedih, namun ia ambil pelajaran dari pengalaman tersebut bahwa kalau menanam harus rajin mengecek dan merawatnya.

Berbekal pengalaman tersebut, ia berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk menyediakan waktu setidaknya 30 menit setiap pagi hari sebelum berangkat kerja dan 30 menit sepulang kerja untuk mengecek kondisi tanaman.

Melihat tanaman sebelum kerja pada pagi hari, bagi dia malah bisa menambah mood.

Menanam sayur ini serasa merawat anak-anak. Pertumbuhannya pelan bagaikan tahapan yang dinanti-nantikan.

Pertanian perkotaan merupakan salah satu tren gaya hidup sehat karena sebagian besar pertanian urban memilih menggunakan sistem penanaman organik yang tidak menggunakan pestisida sintetis sehingga mampu menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat.

Sistem pertanian ini bisa jadi peluang bisnis dengan target pasar masyarakat yang mengedepankan gaya hidup sehat.

Apabila proses penanaman sayur sudah dimulai maka siklus penanaman dapat lebih mudah dilakukan dan diterapkan di area yang terbatas.

Apabila pertanian urban dapat diikuti masyarakat luas, ini bakal menjadi kegiatan produktif yang mampu memberdayakan masyarakat sekaligus menunjang perekonomian.

Lebih dari itu, masyarakat juga bisa mendapatkan sayuran yang lebih sehat.