Menit yang Tak Terekam di CCTV Usai Baku Tembak Brigadir J dan Bharada E

Merdeka.com - Merdeka.com - Hampir sebulan misteri tewasnya Brigadir J belum terpecahkan. Polri, Komnas HAM tengah menyelidiki kematian ajudan Kadiv Propam Nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo tersebut.

Kasus ini menyedot perhatian publik. Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun telah memerintahkan untuk bekerja transparan. Mengungkap kasus tersebut terang benderang.

"Kita ingin semuanya ini bisa tertangani dengan baik. Oleh karena itu, saya telah membentuk tim khusus," kata Sigit saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (12/7).

Semenjak pernyataan itu, tiga instansi Polri dengan Tim Khusus Kapolri bersama Kompolnas, dan Komnas HAM yang secara independen bergerak mengungkap insiden berdarah sesama ajudan di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (8/7).

Sumber merdeka.com yang tahu kasus ini mengungkap sejumlah fakta. Dirunut dari kronologi rekaman CCTV yang dilihatnya. Setiap rekaman mempertontonkan aktivitas Irjen Ferdy Sambo, sang Istri, Putri Candrawathi, Brigadir J, sampai Bharada E di hari adu tembak.

Kedatangan di Rumah Jl. Saguling

Sumber ini bercerita, di awali dengan kedatangan awal terlihat sosok Irjen Pol Ferdy Sambo. Dia berpakaian Polri lengkap. Memasuki rumah di Jalan Saguling yakni rumah pribadinya.

Belum diketahui dari mana arah Sambo datang. Namun dia terlihat memasuki rumah melalui garasi ditandai adanya sejumlah mobil terparkir di dalam pagar tersebut.

Hitungan detik, Sambo melintas bersama sosok ajudan Brigadir Deden diikuti seorang wanita berjilbab sebagai petugas medis. Mereka hendak melakukan test PCR. Mereka semua melintas ke arah kanan untuk selanjutnya masuk ke dalam rumah.

Pukul 15.40 WIB

Selang sekitar 11 menit, atau sekitar pukul 15.40 WIB, rombongan Putri, istri Irjen Ferdy Sambo datang memakai switer hijau celana legging diikuti rombongan. Yakni Bharada J, Bharada E dan sejumlah asisten rumah tangga (ART). Rombongan Putri ini baru tiba dari Magelang, Jawa Tengah.

"Itu dia datang," singkat sumber tersebut sambil memperlihatkan rekaman CCTV tersebut.

Rombongan Putri melintas melewati pintu masuk garasi yang sebelumnya dilalui Sambo. Terlihat sosok Brigadir J yang memakai kaos putih dengan tegap berjalan memasuki rumah disusul Bharada E dengan baju biru bergaris.

Kedua ajudan itu datang dengan santai, hal itu terlihat dari pakaian kasual yang mereka kenakan. Dari Bharada E yang sempat berjalan ke lorong sebelah kiri, lalu keluar kembali dan berjalan masuk ke lorong kanan seperti rombongan yang lain.

Lakukan PCR

Rekaman kembali dilanjutkan dengan memperlihatkan rekaman sudut proses tes PCR yang dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan berjenis kelamin wanita. Selayaknya proses pengambilan PCR pada umumnya, Putri, Brigadir J, Bharada E terlihat secara bergantian duduk di sebuah sudut ruangan.

"Ini proses yang dikatakan PCR," ucapnya.

Mereka melakukan proses tes PCR, dengan duduk bersandar di tembok yang terlihat seperti sisi halaman rumah. Dengan baju yang masih sama ketika mereka kenakan setibanya dari Magelang.

Pukul 16.07 WIB

Namun, selama proses PCR itu berlangsung, tidak terlihat Irjen Ferdy Sambo dalam rekaman tersebut. Bahkan sampai scene sekitar pukul 16.07 Wib Sambo tetap tak terlihat di lokasi pengambilan PCR.

Menuju Rumah Dinas

Setelah proses PCR rampung, scene kembali memperlihatkan rekaman CCTV garasi yang memperlihatkan Putri bersama rombongan bersiap untuk keluar dari rumah di Jl. Saguling tersebut.

Usai proses PCR yang terbilang singkat, sumber merdeka.com yang ikut menyelidiki kasus ini, membenarkan, apabila keberangkatan rombongan Putri yang turut dikawal Bharada E, serta Brigadir J itu hendak menuju rumah dinas yang berada di Komplek Polri, Duren tiga.

Hal itu senada keterangan dari Kapolres Metro Jakarta Selatan nonaktif Kombes Budhi Herdi yang dalam rilis Selasa (12/7). Dia mengatakan, jika rumah yang jadi tempat kejadian perkara (TKP) baku tembak bukan rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo.

"Perlu rekan-rekan ketahui bahwa rumah tersebut adalah rumah singgah. Jadi selama pandemi, rumah tersebut dipakai oleh keluarga tersebut untuk melakukan isolasi mandiri," ujar Budhi.

"Apabila anggota keluarganya yang baru saja keluar pulang dari luar kota melakukan test PCR, sambil menunggu hasil PCR keluar, maka akan melakukan isolasi di rumah tersebut adalah rumah persinggahan," tambah Budhi.

Menuju Rumah Penembakan

Pukul 17.09 WIB

Keberangkatan rombongan Putri sekitar pukul 17.09-17.12 Wib dengan memakai mobil yang terlihat bagus, tak ada kerusakan sedikit pun. Untuk kemudian berangkat bersama Bharada E dan Brigadir J menuju lokasi yang tak jauh dari rumah pribadi di Jl. Saguling.

Tak lama hanya sekitar hitungan menit, Ferdy Sambo baru kembali terlihat dalam sudut rekaman CCTV di garasi, sejak tiba di awal tadi. Jenderal Bintang Dua itu terlihat keluar menuju mobil yang terparkir di luar bersamaan dengan terlihat personel Polisi Patroli dan Pengawalan atau Patwal yang memakai motor.

Usai Sambo meninggalkan rumah di Jl. Saguling tanpa tujuan yang belum diketahui dan disebut berbeda dengan arah rombongan Putri yang pergi ke rumah singgah.

Scene rekaman CCTV langsung terpotong atau blank dan melompat ke rekaman CCTV dari salah satu rumah memperlihatkan personel Patwal memakai motor berhenti. Dengan tolehan ke arah belakang, seraya berkomunikasi kepada kendaraan di belakangnya.

Petugas Patwal yang mengawal rombongan Ferdy Sambo itu terlihat memutar balik ke arah sebaliknya. Momen putar balik itu diduga terjadi ketika Sambo menerima telepon dari Putri akibat insiden baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E yang ditengarai adanya dugaan pelecehan oleh Brigadir J.

Irjen Sambo Putar Balik

Pukul 17.23 WIB

Rekaman scene rombongan Ferdy Sambo hendak memutar balik untuk menuju ke rumah singgah di Komplek Polri Duren Tiga, terjadi sekitar pukul 17.23 Wib. Dari rangkaian scene keberangkatan Putri sampai momen berbaliknya rombongan Sambo terbilang singkat.

Dalam serangkaian kronologi berdasarkan rekaman CCTV yang diperlihatkan, terjadi blank spot dengan tidak terekamnya peristiwa apa yang terjadi di rumah singgah. Hingga akhirnya rekaman berlanjut menunjukan scene Putri yang kembali ke rumah pribadi di Jl Saguling dengan ekspresi sedih didampingi ART.

Tidak adanya rekaman pada momen belasan menit itu, disebutkan berdasarkan keterangan kepolisian lantaran CCTV di rumah singgah dua lantai yang jadi lokasi baku tembak ditemukan rusak.

"CCTV yang rusak, ini CCTV yang di TKP (rumah)," klaim Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo usai melakukan pra rekonstruksi di kediaman Ferdy Sambo, Jakarta, Sabtu (23/7).

Hal itu sesuai dengan yang disampaikan Kapolres Jakarta Selatan nonaktif Kombes Budhi Herdi Susianto soal kasus penembakan Brigadir J terkait kronologi kejadian. Sedangkan untuk rekaman sekitar lokasi TKP baku tembak berhasil diamankan.

"Tapi CCTV yang sepanjang jalur ini, di sekitar tempat kejadian perkara (TKP), sudah ditemukan oleh penyidik," tegas Dedi.

Tiba di RS Polri

Pukul 20.00 WIB

Setelah itu, scene rekaman memperlihatkan ambulans yang membawa diduga jenazah Brigadir J bergerak dari rumah singgah di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga menuju Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati.

Terlihat momen itu terjadi sampai dengan sekitar pukul 20.00 Wib, merekam situasi RS. Polri ketika mobil ambulans itu tiba, sejak momen memutar baliknya Ferdy Sambo, serta kembalinya Putri dari rumah singgah.

Waktu scene rekaman CCTV kedatangan ke RS. Polri, sempat disinggung oleh Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam yang menyebut jika rangkaian peristiwa di RS Kramat Jati jadi catatan penting.

"Constraint waktu yang penting di video ini salah satunya adalah soal Kramat Jati. Jadi kalau ditanya waktu dengan Kramat Jati sesuai atau tidak, kalau lihat dengan sekilas ya sesuai, nanti kita akan cek lagi," kata Anam, Rabu (27/8).

Komnas HAM Dapatkan Cell Dumb

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berhasil mengantongi data berkaitan dengan jejaring komunikasi guna menjelaskan titik lokasi di sekitar rumah dinas Kadiv Propam Nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo ketika baku tembak Jumat (8/7) lalu.

"Salah satu tindakannya adalah cell dump, menarik jaringan komunikasi itu. kami juga dikasih bahannya termasuk disediakan printnya," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam saat jumpa pers, Rabu (27/7).

Cell dump merupakan data mentah buangan ponsel yang diterima Komnas HAM dari Siber Bareskrim Polri sebagai data dokumen digital. Yang diperoleh dari Base Transceiver Station atau disingkat BTS di empat titik lokasi sekitar Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) sore.

"Itu (cell dump) bahan raw (mentah) material yang nanti kami analisis, untuk menentukan titik-titik mana komunikasi apa yg terjadi di wilayah-wilayah yang terekam dalam cell dump itu," ucapnya.

Adapun cell dump itu nantinya akan memberikan keterangan siapa saja pihak yang berada di sekitar lokasi. Hal itu berdasarkan penentuan titik lokasi ponsel atau gawai setiap orang dalam jangkauan area tertentu.

"Cell dump untuk menentukan Hp Nya siapa di area mana. Signifikan sekali untuk saling melengkapi, kamu mengatakan tidak disitu tapi hp mu disitu kan ketahuan," ucap Anam.

Dengan begitu, Komnas HAM telah memiliki bekal sebagai bahan konfirmasi yang kuat dalam menentukan siapa saja orang yang berada dalam area tkp baku tembak, termasuk jika dikaitkan dengan titik keberadaan Bharada E; Brigadir J; Irjen Ferdy Sambo; sampai Putri (Istri Sambo) melalui gawai.

"Menentukan siapa saja yang ada di area itu walaupun ada banyak klaster penjelasan detailnya. Tapi cell dump secara sederhana untuk melihat HP siapa saja yang ada di situ," ungkap dia.

Bahkan Anam dalam pemaparan pasca pemeriksaan Siber Bareskrim Polri sempat memperlihatkan data cell dump yang tergambar dalam kertas putih. Dimana terlihat gambaran berupa denah dengan tarikan-tarikan garis di dalamnya.

"Makanya tadi itu yang kertas panjang itu (cell dump), itu hasil cell dumpnya mereka. Apakah kami cuma dikasih itu? tidak, kami juga dikasih raw ( bahan mentah) materialnya. Jadi ditarik itu banyak banget nomer Hp dan sebagainya di empat titik," tuturnya.

Kendati demikian, Anam belum bisa menjabarkan terkait empat titik yang dimaksud. Dia hanya mengatakan jika cell dump itu telah merekam keterhubungan antara data komunikasi dengan komunikasi.

"Itu artinya komunikasi antara teknologi dan teknologi, bukan orang dengan orang. Bukan (bentuk percakapan), jadi kaya tadi itu jaring laba-laba begitu. Jadi siapa menghubungi siapa atau siapa terhubung dengan siapa itu ada. Yang tadi kami tunjukkan itu," ujarnya.

Sementara untuk bentuk percakapan komunikasi orang per orang, lanjut Anam, pihaknya akan kembali mendalami data yang lain yaitu call data record atau CDR yang juga telah Komnas HAM.

"Ada mekanisme yang lain, namanya call data record utk mengecek, gsm siapa dengan siapa. Ada lagi mekanisme yang lain untuk mengecek hubungan tapi bukan gsm dengan gsm," kata dia.

Forum Tertawa Sebelum Baku Tembak

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menemukan bukti dari hasil pemeriksaan. Diketahui jika, Brigadir J masih hidup ketika tiba di Jakarta pada hari sebelum insiden baku tembak, Jumat (8/7).

"Forum tertawa-tawa itu forum antara ADC (ajudan) ya, sebelum kematian, lokasinya di Jakarta," kata Komnas HAM Choirul Anam kepada wartawan, Rabu (27/7).

Anam mengungkap jika temuan suasana riang penuh tawa yang berlangsung di Jakarta itu berlangsung antar sesama rekan dari ajudan Irjen Ferdy Sambo dalam sebuah pertemuan.

"Itu ngobrol nyantai begini dan tertawa-tawa, siapa yang tertawa? Termasuk J," ucapnya.

Menurutnya, temuan itu setidaknya telah bisa membantah spekulasi terkait kematian Brigadir J yang diduga terjadi ketika perjalanan Magelang - Jakarta.

"Jadi kalo ini seolah-olah dibunuh dengan tertawa-tawa antara Magelang dan Jakarta sudah, itu salah," tambah dia.

Meski demikian, Anam belum bisa membeberkan hasil temuannya lebih jauh. Karena hal tersebut masih perlu dilakukan pendalaman sebelum Komnas HAM mengeluarkan hasil kesimpulan. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel