Menjadi Ayah Rumah Tangga: Pergeseran Peran Suami-Istri?

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 4 menit

Di sebuah taman bermain di tengah Kota, Bonn Jerman, Alfred Kiel membuka kotak makan siang, memberikan sepotong roti cokelat kepada putrinya yang berusia enam tahun, Suzanne dan mereka makan bersama-sama.“Enak,“ kata putrinya yang menggelayut manja di lengan sang ayah,“Papa yang panggang rotinya,“ lanjutnya sambil tersenyum dan lari ke arah perosotan, bermain dengan anak-anak lainnya.

Sejak awal pandemi COVID-19, Alfred mengalami pemotongan kerja sebagai koki di restoran tempat ia mencari nafkah. Pria berusia 33 tahun itu masih menerima tunjangan 67% gaji selama pandemi, namun dirumahkan. Istrinya, Mandy yang telah setahun bekerja sebagai perawat, kini menjadi tulang punggung keluargamereka.

“Kini saya sepenuhnya yang mengurus Suzanne, mulai dari memandikannya, mengajak bermain, menemani belajar, sampai urusan mencuci baju hingga masak, karena kalau tidak, kasihan istri saya yang sudah membanting tulang harus mengerjakan lagi tugas domestik,“ ujar Alfred sambil melambaikan tangan ke arah seorang pria lain yang baru datang ke taman bermain yang sama dengan dua putrinya. Kedua anak yang dibawa Alex langsung menghambur ke arah perosotan di taman itu bergabung dengan Suzanne dan anak-anak lainnya, tertawa-tawa bergembira.

“Kami berkenalan di taman ini. Namanya Alex, dia juga tidak bekerja. Hanya mengurus rumah dan anak-anak. Istrinya yang mencari nafkah sebagai guru di sebuah sekolah menengah. Hampir setiap sore kami play date, sesama ayah mengajak anak-anak bermain di taman ini,” papar Alfred.

Menyesuaikan diri, memberi kesempatan maju bagi istri

Di Kota Berlin, Stefan Arifin yang baru pindah dari Indonesia, baru membiasakan diri untuk play date, membawa putrinya bermain di taman pada akhir pekan, bersama para ayah lain yang juga membawa anak-anaknya, guna memberi kesempatan pada istri-istri mereka agar punya waktu bagi diri mereka sendiri.”Kita lagi coba tiap akhir pekan,” ujar Stefan Arifin yang bekerja di sektor otomotif di sebuah perusahaan Turki. ”Saya pergi berdua sama anak saya Sabine, biar mamanya di rumah, break begitu ya dari mengurus anak," ujarnya.

Stefan dan istrinya yang merupakan mantan koreografer tari, Canari Ayufadjrina, tidak merasa ada yang aneh dengan besarnya peran suami dalam mengurus rumah tangga mereka. Sebab menurut mereka, ketika sempat tinggal di Australia, lingkungan mereka pun terbiasa dengan pembagian peran yang setara antara suami dan istri. Apalagi menurut Canari, meski sudah menikah, masing-masing perempuan dan laki-laki sepatutnya masih punya waktu untuk melakukan hobinyamasing-masing. “Lebih untuk kewarasan masing-masing saja,” papar Canari.

Canari sendiri punya hobi menari dan sering pergi kursus menari di Berlin maupun kursus bahasa Jerman. Selama ia melakukan hobi yang disukainya, suamilah yang mengambil tanggung jawab penuh mengurus anak mereka. Canari bercerita: “Stefan yang ganti popok, memandikan anak, semuanya Stefan melakukannya, sehingga itu membuat saya jadi lebih well-balanced as a person. Tidak semuanya ibu yang ngerjain.”

Stefan menambahkan ia selalu siap untuk menangani anak sendiri supaya istrinya juga punya waktu buat dia sendiri,”Supaya tetap aktif, belajar hal-hal baru, tetap kreatif dan mencoba untuk selalu mencari inspirasi buat kreatif. Ibu saya sendiri orang Jerman dan dia sangat independen, sangat bekerja keras. Menurut saya dari dulu selalu perempuan punya kesempatan yang sangat besar untuk mencapai apa yang mereka mau, tidak pernah ada halangan. Apalagi anak saya perempuan jadi saya sangat mendukung apapun untuk ia berkembang,“ ujar Stefan yang juga merupakan vlogger YouTube, Papa di Jerman.

“Kalau pekerjaan ganti popok, mengurus anak, dari dulu kan kesannya itu cuma pekerjaan ibu ya, atau mungkin ada asisten yang bantu. Menurut saya, bapak harus lebih aktif untuk turun tangan, berani kotor mandiin anak, ya ganti popok dan bawa anak jalan, aktif ajak dia main,“ tambah Stefan yang kini juga sangat mendukung niat istrinya, Canari yang ingin mengembangkan keahlian di bidang teknik dengan studi di malam hari. Ia juga tidak berkeberatan menjadi bapak rumah tangga, sebagaimana Alfred dan Alex.

Tren menjadi bapak rumah tangga

Hampir 30 persen lelaki Jerman mengambil cuti untuk ayah yang baru punya anak. Dan banyak di antaranya yang memilih untuk terus menjadi bapak rumah tangga.

Entah karena cuti ayah, pekerjaan lepas atau istrinya yang menjadi pencari nafkah keluarga semakin banyak ayah memilih untuk tinggal di rumah mengurus anak-anak.

Di Prenzlauer Berg, Berlin, Jerman, bahkan sejak tahun 2007 didirikan Pusat Ayah (Väterzentrum). Pendirinya adalah Eberhard Schäfer. Selain mengkoordinasikan beragam aktivitas ayah dan anak, Väterzentrum berfungsi sebagai pusat berkumpul para ayah yang membutuhkan dukungan empati dengan inisiatif seperti acara mingguan, Papa-Laden. Di sini mereka bisa saling tukar pengalaman dan berbagi informasi.

Dikutip dari exberliner, menurut penelitian yang dilakukan Allensbach Institute for Opinion Research (IfD) tahun 2016, hanya 17 persen pasangan di Jerman masih mengikuti model stereotipe di mana ibu yang dianggap berbakti adalah yang mengganti setiap popok, memasak, menyeka hidung yang beringus, dan membuat janji mulai dari pemeriksaan dokter hingga tukang ledeng.

Suaminya, pencari nafkah, sama sekali absen dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Dalam laporan itu disebutkan tampaknya model itu mengalami perubahan. Bahkan, beberapa pria telah memilih untuk menjadi "househusband" alias ayah rumah tangga.

*tambahan informasi dari situs exberliner.com