Menjadi Guru, Tersesat di Jalan yang Benar

Dian Lestari Ningsih, Wadji
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sejak pandemi Covid-19 saya akhirnya tahu mengapa anak-anak saya mengidolakan guru A, dan tidak begitu nyaman dengan guru B. Memang di sela-sela kesibukan saya yang juga sebagai guru, saya selalu menyempatkan diri mendampingi anak-anak saat belajar daring.

Saya pun ikut mengintip guru dari anak-anak saya sewaktu mengajar secara virtual. Peran sebagai guru kedua saya lakukan demi anak-anak saya agar semangat belajar mereka tidak menurun selama belum dilakukan pembelajaran tatapmuka di sekolah.

Menjadi guru adalah panggilan hidup. Sebagai panggilan hidup, cita-cita menjadi guru bisa bermula sedari kecil, bisa jadi dalam perjalanan panjang ketika mencari jati diri. Namun, bisa juga karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu, dan juga karena memaksa diri sendiri oleh sebab kondisi yang membuatnya harus menjadi guru.

Menjadi guru tidak hanya mengerahkan tenaga dan pikiran semata, tetapi juga mencurahkan perasaan, sehingga perilaku yang penuh rekayasa dan dibuat-buat pasti akan dirasakan juga oleh murid-muridnya.

Tiap kali saya berbincang-bincang dengan mahasiswa saya, pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada mereka adalah: “Apakah menjadi guru memang cita-cita sejak kecil?” Rata-rata mereka menjawab: “Tidak.”

Begitu pula tiap kali saya bertanya kepada anak kecil tentang cita-citanya kelak kalau sudah besar ingin menjadi apa, pasti kata “guru” jarang meluncur dari bibir mungil mereka. Jawaban yang bisa ditebak dari mereka biasanya adalah menjadi dokter, tentara, polisi, pilot, hakim dan sejumlah profesi yang mereka anggap hebat.

Guru biasanya tidak masuk dalam daftar manusia hebat di dalam pikiran anak-anak kita. Kalau begitu, berarti guru tidak hebat ya? Nanti dulu. Banyak mereka yang saat ini menjadi guru lantaran terdampar. Setelah malang-melintang mengejar cita-cita tak tercapai, sebagian di antara mereka berlabuh di dunia pendidikan.

Dulu pada saat persyaratan menjadi guru harus memiliki Akta Mengajar, banyak Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diserbu oleh lulusan Sarjana S1 untuk mendapatkan akta tersebut.

Itu artinya ada sekian banyak orang yang terpaksa “banting setir” dari cita-cita semula yang memang bukan menjadi guru beralih kepada harapan baru mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan. Mereka rela harus menambah kuliah lagi selama dua semester untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Kepada mereka yang terpaksa “banting setir” saya selalu katakan bahwa sekalipun mereka tampaknya tersesat, tetapi sebenarnya adalah tersesat di jalan yang benar. Profesi guru barangkali jauh dari godaan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, terutama godaan untuk mendapatkan kekayaan berlimpah tetapi dengan cara yang salah, seperti suap-menyuap dan korupsi.

Dibandingkan dengan profesi lain, menjadi guru memiliki peluang yang sangat kecil untuk masuk dalam lingkaran perebutan “uang haram” itu. Memilih menjadi guru adalah memilih untuk menjadi contoh bagi peserta didik dan masyarakat. Menjadi guru, lebih-lebih guru di pedesaan akan menjadi sorotan masyarakat.

Jika guru melakukan tindakan tidak terpuji, pasti akan menjadi bahan pergunjingan orang se-desa. Lho, Pak Guru kok .... Lho, Bu Guru kok .... Beruntunglah kita para guru, perilaku kita selalu dikontrol oleh berbagai pihak dan dipantau oleh sekian ribu pasang mata.

Memilih menjadi guru adalah memilih untuk mengabdi tanpa pamrih. Memilih menjadi guru adalah memilih menjadi hakim yang adil, karena tiap saat harus memberikan penilaian yang objektif dan tidak berat sebelah. Memilih menjadi guru adalah memilih menjadi pencetak manusia-manusia hebat di negeri ini.

Para guru telah menghasilkan para penegak hukum yang adil di negeri ini. Bila ada penegak hukum yang terjerat suap-menyuap, itu semua bukanlah kesalahan para guru, karena tidak ada seorang guru pun yang mengajari muridnya untuk melakukan suap-menyuap.

Para guru telah melahirkan para pejabat yang bijak di negeri ini. Jika ada pejabat yang melakukan tindak korupsi, itu semua bukanlah kesalahan para guru, karena tidak seorang pun guru di negeri ini yang mengajari muridnya untuk mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Para guru telah menghasilkan para pemuka agama yang santun, bertutur kata lemah lembut dan selalu menganjurkan perdamaian. Jika ada pemuka agama yang menebar kebencian terhadap sesama manusia dan melakukan huru-hara serta berbuat anarkis atas nama membela agama, itu semua bukanlah kesalahan para guru, karena tak seorang pun guru di negeri ini yang mengajari murid-muridnya untuk membenci sesamanya.