Menjadi perempuan berdaya di tengah pandemi COVID-19

D.Dj. Kliwantoro
·Bacaan 7 menit

Menjadi perempuan berdaya dan mandiri di tengah ketidakpastian pandemi COVID-19 dapat ikut memperkuat perekonomian keluarga.

Hal ini tentunya tanpa mengesampingkan kodrat sebagai seorang ibu rumah tangga yang memiliki tugas pokok mengurusi suami dan anak-anak.

Di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sebagian dari ibu-ibu rumah tangga berhasil menjawab tantangan pandemi menjadi peluang ekonomi.

Saat penerapan pembatasan sosial dilakukan pemerintah demi menyelamatkan nyawa masyarakat dari paparan COVID-19, kaum ibu nyatanya tetap produktif memanfaatkan teknologi menjadi ladang penghasilan di rumah.

"Asal ada handphone dan kuota internet, itu sudah cukup buat meraup pundi-pundi rupiah dari rumah," kata Ruchi Ramanda Deri, ibu rumah tangga di Tanjungpinang, Sabtu (7/11).

Ruchi, sapaan akrabnya, semula menggeluti usaha jasa jahit aneka perlengkapan bagi wanita yang baru melahirkan, misalnya kasur dan bantal bayi. Usaha ini sudah ditekuninya sejak tahun 2001 atau selang setahun dia dan suami pindah dari Padang, Sumatera Barat ke Tanjungpinang, persisnya di Jalan Sri Andana, Kilometer 8.

Baca juga: ILUNI FHUI : Perlu payung hukum bagi notaris saat pandemi

Sekitar awal Maret 2020 atau pertama kali pandemi melanda di Tanjungpinang, ibu dua anak itu juga membuka jasa jahit masker kain dengan melibatkan sejumlah mahasiswa dan ibu-ibu rumah tangga sebagai pekerja lepas.

Hasilnya sangat memuaskan, dalam sehari ratusan hingga ribuan buah masker berhasil diproduksi dan habis terjual. Pembeli rata-rata dari kantor instansi pemerintahan, pedagang, dan masyarakat umum

Namun, di awal Mei 2020 atau seminggu menjelang puasa, dia memutuskan berhenti produksi masker dengan alasan sulit mendapatkan bahan kain kualitas premium. Di sisi lain, produksi/penjual masker sudah banjir di Tanjungpinang.

Demikian pula produksi perlengkapan bayi, pun dia putuskan berhenti buat sementara waktu karena beberapa alasan situasional menyangkut COVID-19.

"Habis Lebaran 2020, saya putuskan berhenti produksi dulu. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir, produksi dilanjutkan lagi," ujar Ruchi.

Berhenti produksi menjahit lantas tidak membuat Ruchi duduk berleha-leha. Dia memutar otak bagaimana tetap berpenghasilan dari rumah kala wabah masih menjarah negeri ini.

Ruchi rupaya cukup jeli membaca peluang, dia melihat pada masa pandemi sejumlah UMKM kerajinan mulai merambah ke bisnis kuliner online. Namun, secara branding dan desain kemasan produk, UMKM tersebut tampak belum siap bergelut dalam bisnis daring.

Wanita yang memiliki pengalaman bekerja sebagai tukang layout atau tata letak di perusahaan pers Riau Pos Grup itu pun akhirnya membuka kelas daring edit foto dan video menggunakan handphone. Tujuannya agar kemasan produk UMKM Tanjungpinang memiliki branding dan kemasan yang dapat menarik minat konsumen.

"Karena pertama kali yang dilihat pembeli itu adalah branding dan kemasan, bukan produk," katanya menjelaskan.

Baca juga: Inggris luncurkan skema baru bantu pengangguran kembali bekerja

Lulusan S-1 Sosiologi itu mempromosikan kelas online-nya via Facebook atau lebih banyak menyebar luaskan kepada pemilik-pemilik UMKM melalui jaringan pribadi WhatsApp.

Peserta yang ingin ikut kelas daring cukup membayar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu untuk 5 hari pelatihan.

Materi pelatihan, misalnya bagaimana menggunakan Canva, aplikasi desain grafis online yang mudah digunakan bagi pemula untuk membuat foto maupun video bergerak.

"Pelatihan dilakukan melalui grup WhatsApp. Saya siapkan bahan dalam bentuk video lalu disebarkan ke dalam grup, peserta yang tidak paham tinggal bertanya melalui voice note atau pesan suara," katanya.

Dalam sebulan, Ruchi biasa membimbing tiga hingga empat kelas daring. Peserta yang ikut kelas sampai saat ini sudah mencapai ratusan orang. Mereka lebih banyak dari luar daerah, seperti Jakarta dan Medan.

Kalau untuk sasaran pemilik UMKM di Tanjungpinang yang ikut kelas, justru sangat minim. Dibuka kelas gratis sekalipun mereka enggan untuk ikut, apalagi berbayar.

"Kalau dari luar Tanjungpinang itu lebih banyak pemilik online shopping yang ikut karena mereka sangat butuh materi bagaimana membuat kemasan suatu produk melalui aplikasi foto dan video," tutur Ruchi.

Sejalan dengan kelas daring, Ruchi juga menjual produk template, yakni dokumen predesain yang dapat digunakan untuk membuat dokumen baru dengan lebih cepat.

Buah dari hasil karyanya itu dijual kepada pemilik UMKM maupun online shopping seharga sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

Penjual tinggal memasukkan foto atau video produk jualannya ke dalam tampilan template yang sudah ada, bahkan Ruchi turut mendampingi penggunanya sampai mahir.

Tidak berhenti sampai di situ, selama pandemi ini dia juga aktif menjual produk-produk kesehatan secara daring di berbagai daerah, meliputi Tanjungpinang, Medan, hingga ke Palembang. Apalagi, permintaan produk kesehatan meningkat selama pandemi ini.

Wanita berusia 34 tahun itu pun merasa usaha yang dilakoninya saat ini sudah cukup untuk membantu sang suami mewujudkan rumah dan kendaraan impian. Di satu sisi, kegiatan tersebut dilakukan secara daring dari rumah, tanpa melibatkan kontak fisik dengan orang lain.

Hal ini tentunya sejalan dengan kondisi pandemi ini. Semua lapisan masyarakat diimbau tetap menjaga jarak dan menghindari kerumunan demi memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Buat ibu rumah tangga jangan mengeluh, banyak model bisnis yang bisa dilakukan dari rumah, intinya beradaptasi dan baca peluang.

Baca juga: Dampak pandemi, karyawan hotel di Puncak-Cipanas bekerja paruh bulan


Peluang Usaha

Setali tiga uang, Asmira (25), ibu muda asal Kelurahan Kampung Bugis pun menggeluti bisnis daring. Selama pandemi, dia fokus menjual masker dan pakaian anak-anak hingga orang dewasa.

Pekerjaan ini jauh dari kata repot. Pembeli/pemesan barang dilayani melalui pesan WhatsApp atau Facebook.

Pesanan yang masuk tinggal diteruskan ke yang empunya barang, umumnya berada di wilayah Jakarta dan Pulau Jawa.

Biasanya pesanan 3 hari sudah sampai ke rumah melalui jasa pengiriman barang. Pembeli tinggal datang, lalu ambil.

Dari hasil jualan itu, Asmira memperoleh keuntungan yang yang cukup lumayan. Misalnya, menjual masker seharga Rp5.000,00 per buah, sementara modal yang dikeluarkan Rp3.500,00/buah sehingga keuntungan yang didapatkan sebesar Rp1.500,00/buah.

"Alhamdulillah, dapat menambah penghasilan sehari-hari. Jualan bisa sambil jaga anak di rumah," katanya.

Tidak hanya berjualan secara daring, ibu satu anak ini pun merupakan seorang agen Lakupandai, yang merupakan perpanjangan tangan salah satu bank di Tanjungpinang.

Bermodal ATM mini dari pihak bank, sehari-hari Asmira melayani berbagai transaksi keuangan warga setempat di kediamannya.

Hal itu sangat membantu masyarakat sekitar sebab mereka tidak perlu lagi bertransaksi ke kantor pusat di Tanjungpinang. Apalagi, harus menyeberang laut, lalu naik ojek menuju lokasi, atau waktu tempuh perjalanan darat sekitar 30 menit.

Dari tiap-tiap transaksi, dia memperoleh honor sebesar Rp10 ribu. Dalam sebulan Asmira bisa membukukan pendapatan Rp3 juta sampai Rp4 juta.

Untuk warga yang datang betransaksi di rumahnya, wajib pakai masker dan cuci tangan. Kalau tidak, wanita yang akrab Mira ini menolak mereka demi mencegah pandemi COVID-19.

Baca juga: Bekerja secara digital jadi solusi usaha atasi sulit saat pandemi

Ibu rumah tangga lainnya, Erna Susanti (27), mengambil hikmah di balik bencana COVID-19. Dia terjun ke dunia bisnis kuliner rumahan untuk membantu perekonomian keluarga karena sang suami yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah itu mengalami penurunan pendapatan/gaji akibat pandemi.

Erna, sapaan akrabnya, memiliki hobi memasak. Dia lantas emanfaatkan keahliannya untuk membuat produk makanan ayam geprek.

Pandemi membatasi ruang gerak. Jadi, berbisnis saja di rumah sambil jaga anaknya.

Perlahan tetapi pasti, usaha yang digeluti dalam beberapa bulan terkahir itu mulai digandrungi masyarakat sekitar.

Dalam sehari, produk masakannya itu terjual rata-rata 30 sampai 50 porsi per hari. Satu porsi dibanderol Rp15 ribu. Penghasilannya antara Rp450 ribu dan Rp700 ribu per hari.

Tidak jarang pula, instansi pelayanan kesehatan seperti puskesmas di daerah setempat memesan dalam jumlah porsi yang banyak.

Selama pandemi ini, wanita lulusan S-1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) ini membatasi pelanggan datang langsung membeli di rumah.

Ia memanfaatkan sosial media, seperti Facebook, Instagram, dan Whatsapp untuk mempromosikan jualannya.

Pembeli tinggal pesan via Whatsapp atau telepon, kemudian dia yang akan antar langsung ke rumah/tempat pembeli.

Baca juga: Mana yang lebih stres selama pandemi, anak atau orang tua?

Bagi istri dari Rio Julianto ini, bisnis rumahan sangat menyenangkan. Tidak butuh modal besar, tetapi mencatatkan keuntungan yang sangat menggembirakan, asal berani mencoba dan mampu membaca selera pasar.

Apalagi perkembangan teknologi makin canggih, menurut dia, tidak sedikit ibu rumah tangga yang sukses meraup pundi-pundi rupiah, padahal hanya bermodalkan smart phone.

Jualan apa saja sesuai dengan keahlian atau hobi. Jual makanan dan minuman, pakaian, aksesoris, dan sebagainya.

Sekelumit cerita di atas membuktikan bahwa para wanita mampu bertahan dan bangkit di tengah badai COVID-19. Sebagian wanita lainnya barangkali masih tengah membangun optimisme untuk menatap pandemi yang entah sampai kapan. Semoga saja segera berkahir.