Menjadi Perempuan yang Lebih Berani, Menjadi Pribadi yang Makin Baik

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

***

Oleh: Maria Regina

Saya memang sering mendengar sosok ayah untuk seorang anak, terutama anak wanita itu memegang peranan sangat penting, ayah adalah cinta pertama seorang anak wanita, dan saya merasa itu benar. Dari cerita yang saya dengar sejak kecil saya memang sangat dekat dengan ayah saya, bahkan kalau ayah saya pergi keluar kota saya akan tidur dengan bantal yang diberi sarung kaos ayah saya, supaya saya bisa tidur.

Hobi ayah saya yaitu bernyanyi dan musik juga menurun ke saya. Sejak kecil saya sangat suka menyanyi, kalau ada pestau ulang tahun, saya biasanya ditunjuk untuk bernyanyi, dan sampai sekarang saya tidak bisa melepaskan musik dari kegiatan sehari-hari saya. Saya mengenal banyak lagu mulai dari lagu generasi ayah saya sampai angkatan saya sekarang.

Seperti pada umumnya, sosok ayah adalah sosok pahlawan bagi anaknya, serba bisa, serba tahu, sangat kuat dan terpercaya. Ketika saya menjalani operasi amandel waktu SD, saya tidak merasa takut karena ditemani oleh ayah saya.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin dewasa dan punya pemikiran sendiri, mulailah terasa ada perbedaan pemikiran dan pendapat dengan ayah saya, dan mulai sering timbul adu argumentasi dan perselisihan. Saya sering merasa kesal dengan ayah saya yang saya anggap selalu merasa benar sendiri dan kurang mendengar pendapat orang lain. Tetapi kalau saya pikirkan sekarang, ayah saya tidak marah waktu saya membantah pemikirannya dan menjuluki dia si “benar” itu berarti dia cukup demokratis juga ya.

Belajar Lebih Berani

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Chaninnon
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Chaninnon

Waktu lulus SMP, saya punya keinginan berbeda dengan keluarga. Saya ingin melanjutkan ke SMA Negeri, karena saya merasa cukup bosan bersekolah di sekolah yang sama sejak SD, dan saya merasa dasar pendidikan saya sudah cukup kuat untuk mencoba bersekolah di luar sekolah Katholik (karena keluarga kami adalah Katholik).

Awalnya keluarga kurang setuju, tetapi saya berusaha sendiri untuk tes masuk dan ketika sudah diterima, baru saya memberitahukan kepada orang tua, ternyata ayah saya tidak menentang, dan memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalani pilihan saya.

Begitu pula waktu saya melanjutkan kuliah di luar kota. Sebenarnya ada paman saya yang memang tinggal di sana, tetapi saya merasa ingin mandiri dan tingal di kos saja. Keluarga juga menyarankan saya tinggal di rumah paman saya saja, tetapi saya berkeras mencari kos, dan lagi-lagi ayah saya memberikan kepercayaan pada saya untuk menjalani pilihan saya.

Walaupun sekarang ayah saya sudah tiada, tetapi banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari ayah saya. Salah satunya keberanian mengungkapkan apa yang kita inginkan dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri. Kalau kita merasa benar dan tidak merugikan orang lain, kita harus berani mengutarakan pilihan kita agar kita tidak menyesal dan menyalahkan orang lain karena kita merasa terpaksa menjalani hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel