Menjaga pasokan beras hingga ke perbatasan Laut China Selatan

Royke Sinaga
·Bacaan 6 menit

Garda terdepan di perbatasan laut China Selatan itu bernama Natuna, sebuah pulau di ujung utara Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah, dari cadangan migas, perikanan, hingga pariwisata bahari nan elok dan rupawan.

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Perairan daerah itu menjadi rebutan banyak negara, bahkan smapai ada yang berani melanggar batas wilayah zona ekonomi ekslusif (ZEE) demi mengeruk primadona hasil lautnya.

Secara administratif Kabupaten Natuna masuk dalam wilayah Provinsi Kepri bersama enam kabupaten/kota lainnya. Meliputi Kabupaten Anambas, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kota Tanjungpinang dan Kota Batam.

Khusus Natuna dan Anambas, merupakan dua pulau terluar dibanding lima kabupaten/kota lainnya. Rentang kendali kedua pulau itu dengan ibu kota Provinsi Kepri di Tanjungpinang sangat jauh.

Lebih dekat ketika kita berpergian dari Tanjungpinang ke negara tetanga Singapura. Dibanding dari Tanjungpinang ke Natuna atau Anambas.

Jarak tempuh Tanjungpinang ke Natuna menggunakan transportasi laut/kapal cepat sekitar delapan jam, kalau nail kapal PT Pelni sekitar 11 hari.

Tak ada transportasi udara dari Tanjungpinang tujuan Natuna. Bagi yang ingin ke daerah itu harus menyeberang dulu ke Kota Batam. Dari sana baru ada penerbangan ke Natuna.

Kalau memasuki musim angin utara, kapal rute Tanjungpinang-Natuna ada kalanya tidak beroperasi. Sebab, ketinggian gelombang di perairan itu bisa mencapai tujuh hingga sembilan meter.

Pasokan kebutuhan pokok warga Natuna pun kebanyakan didatangkan dari Tanjungpinang, selebihnya Jakarta. Kebutuhan itu diangkut menggunakan kapal tol laut hingga kapal-kapal milik pihak perusahaan swasta.

"Kalau menggunakan kapal tol laut, sekitar 15 hari sekali baru tiba di Natuna. Kapal swasta, dua hingga empat hari sudah sampai," kata seorang warga Natuna, Cherman, Kamis (22/4).

Rentang kendali menjadi salah satu pemicu mengapa harga kebutuhan pokok di sana lebih mahal dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepri.

Kebutuhan pangan utama seperti beras di Ibu Kota Natuna di Pulau Ranai. Harga tertinggi bisa mencapai Rp18 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram. Sementara kelas menengah di kisaran Rp14 ribu per kilogram.

"Kecuali beras dari Bulog, sekitar Rp10 ribu per kilogram. Paling murah itu kalau di Natuna," ujar Cherman.

Ironinya lagi, ada pula warga Natuna membeli beras hingga ke negeri jiran Malaysia. Persisnya warga Pulau Serasan, yang berbatasan dengan Malaysia Barat dan Timur.

Pada saat musim pandemi COVID-19, kegiatan jual beli dilakukan di tengah-tengah laut. Biasanya warga setempat langsung membeli ke Malaysia menggunakan kapal pompong.

Jarak tempuh Serasan dan Malaysia hanya sekitar empat sampai enam jam. Sementara dari Ranai ke Serasan memakan waktu sekitar 14 jam.

Masyarakat Serasan juga mengklaim beras yang dibeli di Malaysia lebih murah dan berkualitas tinggi.

"Beras bulog dan merek lainnya ada yang masuk ke Serasan dari Ranai, tapi jumlahnya terbatas. Apalagi jarak tempuh jauh, alhasil warga lebih memilih beli di Malaysia," tutur Cherman.

Bulog hadir

Memang bukan perkara mudah mendistribusikan kebutuhan pokok dari pusat ibu kota Kepri ke Kabupaten Natuna. Rentang kendali ditambah resiko gelombang tinggi yang dapat mengancam keselematan pelayaran tentu jadi pertimbangan tersendiri bagi pihak distributor.

Maka jangan heran kalau harga barang pokok di sana lebih tinggi dari daerah lain, karena akses pengirimannya yang tidak mudah dan beresiko. Ini tentu berdampak pada biaya operasional distributor barang.

Tapi tidak bagi Bulog, perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang logistik ini tetap berkomitmen menjawab kebutuhan pangan terutama beras di kepulauan paling utara di Selat Karimata itu dengan harga murah dan berkualitas.

Bulog yang dapat penugasan langsung dari pemerintah itu hadir sebagai "penstabil harga" dalam rangka menjaga daya beli masyarakat khususnya ekonomi menengah ke bawah.

Bulog menjual beras medium yang merupakan cadangan beras pemerintah (CBP). Harganya jika beli di gudang Bulog Rp8.600 per kilogram. Kalau di mitra Bulog seperti RPK dan distributor Rp9.950 per kilogram.

Bulog juga menjual beras kualitas premium dan harganya fluktuasi mengikuti persaingan pasar. Tapi, beras premium tidak begitu laku karena bersaing dengan produk-produk beras swasta lainnya.

Kepala Bulog Subdivre Cabang Tanjungpinang Parluhutah Siregar mengatakan bahwa beras medium bulog jadi primadona di Natuna.

Stigma sebagian masyarakat Natuna yang selama ini menganggap beras Bulog kurang layak dikonsumsi, perlahan berangsur hilang. Sekarang justru mereka banyak beralih membeli beras Bulog.

Hal ini dapat dibuktikan, hampir semua warung kelontong, kedai sembako hingga swalayan menjual beras Bulog.

Di Natuna sendiri, Bulog telah membangun dua gudang beras bulog (GBB), masing-masing di Ranai dengan kapasitas penyimpanan 7.000 ton, dan di Sedanau 7.000 ton. Jarak tempuh antara Ranai dan Sedanau sekitar 1 jam perjalanan laut.

Bulog memasikan stok beras Bulog di wilayah itu selalu aman dan mencukupi. Tidak ada kendala yang berarti terkait stok maupun pendistribusiannya.

Musim angin utara yang dikhawatirkan dapat menghambat distribusi maupun harga bahan pokok ke daerah itu tidak jadi soal. Bulog sejak jauh-jauh hari sudah mengantisipasi agar tidak terjadi kelangkaan atau kenaikan harga beras di Natuna.

Kebutuhan beras Bulog di Natuna per bulan rata-rata mencapai sekitar 130 ton. Sementara stok yang ada saat ini mencapai 300 ton, artinya persediaan yang ada mencukupi keperluan masyarakat selama dua bulan ke depan.

“Untuk lebaran Idul Fitri dipastikan aman. Kita juga sedang memesan beras lagi ke pusat,” tutur Parluhutan.

Selain Natuna, empat kabupaten/kota lainnya yang masuk ke wilayah kerja Bulog Subdivre Tanjungpinang, juga dipastikan aman hingga tiga bulan ke depan.

Bulog Subdivre Tanjungpinang diketahui membawahi lima wilayah kerja, Kabupaten Natuna, Kabupaten Anambas, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan, dan Kota Tanjungpinang.

“Totalnya beras yang ada saat ini di wilayah Bulog Tanjungpinang sekitar 2.480 ton. Rata-rata bertahan sampai tiga bulan ke depan, dalam arti kata persiapan menyambut Idul Fitri aman,” ujar Parluhutan.

Bulog selain menjual beras, juga menjual daging beku, tepung terigu, gula, dan minyak goreng kepada masyarakat.

Pola bisnis Bulog tidak mencari keuntungan semata. Tapi bagaimana menjaga kebutuhan dan stabilisasi harga agar masyarakat merasa terbantu apalagi di tengah situasi ekonomi sulit imbas pandemi COVID-19.

Sinergi

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Natuna Marzuki mengapresiasi peran Bulog dalam memenuhi kebutuhan pokok terutama beras daerah itu.

Dari pantauan pihaknya, gudang beras bulog di Ranai maupun Sedanau selalu menyimpan stok beras yang cukup untuk warga setempat.

Distribusi beras Bulog ke daerah yang notabane pulau-pulau itu pun berjalan lancar. Meski dihadapi dengan persoalan angin utara dan gelombang tinggi.

Selain itu, harga jual beras Bulog sangat terjangkau bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Bulog sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) terhadap produknya di pasaran.

Kalau ada kenaikan sembilan barang pokok pada hari-hari besar atau keagamaan tertentu. Bulog biasanya menggelar operasi pasar murah, yang fokus menjual beras.

Gubernur Provinsi Kepri Ansar Ahmad mendorong Pemda melalui Desperindag gencar berkomunikasi dengan Bulog guna menjaga pasokan dan stabiliaasi harga kebutuhan pangan masyarakat.

Ansar yang awal April lalu datang meninjau ketersediaan beras gudang Bulog di Tanjungpinang memuji kinerja Bulog semakin hari makin baik sebagai bagian urusan logistik.

Bulog Tanjungpinang memiliki gudang yang sangat besar, khususnya di Tanjungpinang. Kapasitas ruangannya mampu menampung sekitar 100 ton beras.

"Kualitas beras Bulog juga makin bagus," kata Ansar yang kala itu sempat mencicipi beberapa butir beras Bulog mentah.

Pemerintah daerah menaruh harapan besar agar Perum Bulog tidak hanya menyediakan beras, daging, gula dan minyak goreng.

Perum Bulog diharapkan dapat menyediakan kebutuhan pangan lainnya, khususnya untuk komoditas-komoditas yang sering kali menjadi penyumbang inflasi di wilayah itu, seperti cabe, bawang, dan sebagainya.

Baca juga: Panen raya, DPR: Bulog serap beras petani lokal semaksimal mungkin
Baca juga: Bulog pastikan stok cadangan beras di NTT sangat aman
Baca juga: Bulog Malang pastikan stok beras aman jelang Ramadhan