Menjelaskan popularitas Harry Styles: mantan anggota _boyband_ yang menjadi nama besar di dunia pop

  <span class="attribution"><span class="source">Lillie Eiger/ Sony</span></span>
Lillie Eiger/ Sony

Kamu mungkin tahu Harry Styles. Dia merupakan fenomena luar biasa di industri musik populer.

Tapi bagaimana mantan anggota boy band terkenal , bisa menjadi musisi besar yang menang berbagai penghargaan musik – dan apakah dia pantas mendapatkan semua pujian ini?

Hype Harry Styles dimulai pada tahun 2010 saat Harry memulai karirnya sebagai anggota grup boyband One Direction. Paul McCartney jelas mengakui band tersebut sebagaimana mereka sebagai penerus The Beatles

Meski vacuum sejak 2016, One Direction masih memecahkan rekor. Video musik mereka yang dirilis tahun 2015, Drag Me Down baru-baru ini ditonton lebih dari satu miliar di YouTube – tujuh tahun setelah dirilis.

Sejak bersolo karier, Harry telah memukau penonton sebagai salah satu ikon fesyen dan seniman. Dia baru saja merilis album solo ketiganya, Harry’s House.

Single terbaru Harry, As It Was, memecahkan rekor dunia sebagai video yang paling banyak ditonton setiap harinya di berbagai platform. Di minggu pertama, single tersebut sudah diputar 43,8 juta.

Sebagai artis solo, ia telah memenangkan banyak penghargaan internasional bergengsi, termasuk Grammy, Brits, dan ARIA.

Albumnya tahun 2019, Fine Line, yang bisa bertengger di nomor satu tangga lagu Billboard dan merupakan album terbarunya yang masuk ke daftar 500 Album Terbesar Sepanjang Masa Rolling Stone.

Sementara Styles memiliki kelompok penggemar wanita muda sejak dirinya menjadi anggota One Direction, jumlah penggemarnya saat ini jauh lebih besar, yang sama-sama menyukai musiknya.

Substansi serta gaya

Banyak orang menganggap gaya Harry mirip dengan musisi ikonik David Bowie dalam konteks gender dan fluiditas genre. NPR menggambarkannya sebagai artis yang “berpakaian dengan nuansa warisan musik rock”. GQ mengakuinya sebagai “salah satu pria berpakaian terbaik di dunia” dengan “pilihan elegan dan berani”.

Pada tahun 1970, Bowie muncul di sampul albumnya yang berjudul The Man Who Sold the World in a “man dress” (pakaian pria yang berbentuk gaun panjang). Pada tahun 2020, Styles mengenakan gaun renda Gucci yang dibuat khusus untuk sampul Vogue.

Publik telah menyoroti kehidupan pribadi Harry Stles dengan sangat ketat. Harry berulang kali ditanya tentang orientasi seksualnya. Dalam tanggapannya, dia bilang pertanyaan-pertanyaan ini “ketinggalan zaman”.

Responsnya tersebut menunjukkan gaya kepemimpinan yang kuat untuk anak muda. Dia pada dasarnya mengatakan siapapun tidak perlu menjelaskan siapa yang mereka cintai.

Musik menjadi sesuatu sangat kuat ketika pernyataan artis diikuti dengan aksi. Harry menunjukkan ini secara terang-terangan dalam lagu Treat People With Kindness, yang dia bawakan dengan membawa bendera lambang LGBTQA+. Ini adalah tindakan yang jelas yang memberi tahu penggemar, bahwa Harry Styles mendukung mereka.

Tentu saja, Styles memiliki hak istimewa dalam hal uang, ras, dan jenis kelamin – dan ini berarti dia dapat mengambil sedikit risiko ketika membuat karya seni dibanding lainnya.

Seperti Billy Porter mengingatkan kita, kelompok minoritas LGBTQA+ telah mengangkat isu representasi selama beberapa dekade, yang mereka anggap penting.

Lire la suite: Friday essay: will the perfect men's dress ever exist – and would men wear it?

Tindakan pribadi dan komunal

Selain kemampuannya menulis lagu yang bagus, yang dia lakukan dengan beberapa artis lainnya, Harry juga mengambil pengaruh dari berbagai kelompok.

Artis ikonik Stevie Nicks merujuk Harry Styles sebagai “anak yang tidak pernah saya miliki”. Sebagai gantinya, Styles berkata lagu Nicks “membuat kamu sakit, merasa di atas dunia, membuat kamu ingin menari, dan biasanya merasakan ketiga hal ini sekaligus”.

Di Coachella pada April 2022, ia mengundang Shania Twain untuk tampil bersamanya. Dia memperkenalkan Shania, sambil mengatakan bahwa: “Ketika saya masih kecil dan di di dalam mobil bersama ibu saya, perempuan ini (Shania) mengajari saya bernyanyi”.

Minggu berikutnya dia mengundang Lizzo di atas panggung, dan bersama-sama mereka menampilkan I Will Survive, sebagai apresiasi mereka atas kecintaan mereka terhadap musik tahun 1970-an.

Kolaborasinya dengan seniman lain – terutama seniman dengan perspektif yang berbeda – menunjukkan Styles terbuka untuk menjelajahi wilayah yang berbeda.

Hal ini menunjukkan musik pop tidak harus memiliki satu “suara” dari waktu ke waktu - ia berubah dengan mode, teknologi, dan budaya. Menjadi tetap relevan berarti mampu merangkul berbagai hal.

Harry’s House

Album barunya, Harry’s House, menunjukkan evolusi lain dalam karir musik Styles.

Album tersebut menyajikan latar belakang musik pop tahun 70-an dan juga berbagai era musik dansa. Liriknya ditulis mulai dari yang implisit – “Saya membawa pop, kamu membawa bioskop” – hingga eksplisit – “jika kamu membuat diri kamu basah untuk saya, saya kira kamu semua milik saya”. Semuanya mendapat pujian dari kritikus musik.

Musik pop penting karena berhasil menyatukan orang. Harry Styles, dan musiknya melakukan ini dalam skala massal. Apakah gayanya adalah selera kamu atau bukan, yang pastinya nilainya tidak hanya ditunjukkan dalam nilai penjualan album yang jumlahnya jutaan, tetapi juga kemampuannya dalam membangun koneksi dengan para penggemarnya.

Lire la suite: That’s what makes them beautiful: why One Direction fans are smarter than you

Arina Apsarini dari Binus University menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel