Menkes: Belanja alkes dalam negeri tingkatkan ketahanan sektor farmasi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengharapkan produksi dan belanja alat kesehatan dalam negeri dapat dimaksimalkan guna meningkatkan ketahanan sektor kefarmasian dan alat kesehatan.

Menkes dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, menyampaikan pada 2022 Kementerian Kesehatan menganggarkan belanja alat kesehatan dan obat-obatan sekitar Rp38 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp17 triliun dialokasikan untuk belanja obat, vaksin dan alat kesehatan produksi dalam negeri. Alokasi belanja itu saat ini sudah mencapai Rp8 triliun.

Saat ini, disampaikan, lebih dari 90 persen total pasar alat kesehatan Indonesia merupakan produk impor.

Baca juga: Menkes: Faktor risiko terbesar ginjal akut dipicu keracunan obat

Baca juga: Menkes: Kasus gagal ginjal akut sudah menurun drastis

"Pasar kita sangat besar sekali. Kalau belanja sektor kesehatannya sebagian besar masuk ke Indonesia dan tidak keluar negeri maka pertumbuhan ekonomi kita akan tertopang tinggi dengan ini," tuturnya.

Menkes mengatakan untuk mencapai target belanja kesehatan yang sebesar Rp17 triliun itu, pemerintah memerlukan dukungan serta komitmen dari para pelaku usaha dalam upaya mewujudkan kemandirian industri alat kesehatan terutama setelah pandemi COVID-19.

Dukungan ini, salah satunya hadir dari PT Astra Komponen Indonesia (ASKI) yang telah mampu memproduksi alat-alat kesehatan dalam negeri. Di antaranya produk USG 2D, Antropometri Set, dan Autoclave (sterilization unit) yang resmi diluncurkan pada Selasa (2/10).

Dengan kemampuan produksi yang dilakukan oleh ASKI, Menkes berharap diikuti dengan peningkatan kapasitas produksinya, dan pengembangan alkes tidak hanya fokus pada alat-alat kesehatan untuk upaya pelayanan kesehatan kuratif, namun juga layanan promotif dan preventif.

"Ke depan Astra bisa memproduksi alat kesehatan yang sifatnya untuk pemeriksaan dini, seperti alat tes diabetes, hipertensi, tekanan darah dan lain-lain, jadi tidak perlu ke lab. Jadi bidang promotif preventif banyak sekali kesempatannya," kata Menkes.

Dalam proses produksinya, Menkes menyarankan agar perusahaan turut menjalin kerjasama dengan UMKM-UMKM di daerah.

"Nanti yang susah-susah bisa diproduksi di Astra, integrasinya di Astra, tapi komponen-komponennya bisa dibuat di daerah. Itu saya minta agar ekosistemnya bisa terbentuk, bersama-sama industri dalam negeri bisa meningkat terutama dalam lima tahun ke depan," kata Menkes.*

Baca juga: Menkes apresiasi perusahaan yang mampu produksi alkes di dalam negeri

Baca juga: Menkes: 'Tri Hita Karana' prinsip kebersamaan pulih dari pandemi