Menkes Budi Gunadi Sadikin Akui Indonesia Kekurangan Vaksin Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui bahwa jumlah vaksin Ccvid-19 yang saat ini dimiliki oleh pemerintah maish sangat terbatas. Dari hitungan Budi, vaksin Covid-19 yang harus tersedia sampai Juni 2021 sebanyak 363 juta dosis. Namun baru terpenuhi sekitar 120 juta dosis vaksin.

"Kenyataanya memang keterbatasan di jumlah vaksinnya," ujarnya saat meninjau Proses Vaksinasi Industri Keuangan Non Bank untuk Lansia, Selasa (27/4/2021).

Dia menambahkan dengan ketersedian vaksin yang baru sekitar 120 juta tersebut tidak menutup kemungkinan akan berkurang. Bahkan perkiraannya, jumlah vaksin Covid-19 bisa turun jadi 60 juta saja pada tengah semester I 2021.

"Dengan segala dinamika terjadi sekarang mungkin nanti turun 60-100 juta sampai Juni itu vaksin yang kita miliki. Artinya sisanya untuk mengejar 363 juta itu akan masuk dari Juli sampai Desember," jelasnya.

Dengan ketersedian vaksin mencapai 363 juta dosis, maka jumlah suntikan per hari diperkirakan bisa mencapai 1,4 - 1,6 juta per orang. Sementara saat ini baru sekitar 500 ribu suntikan per hari.

"Bukan karena kita tidak mampu. Karena kita memang tidak ada barangnya. Tapi begitu barangnya datang kita musti suntikan 1,4 sampai 1,6 juta suntik per hari mulai bulan Juli di situ kesulitannya," jelasnya.

Menkes Budi melanjutkan, untuk mencapai target vaksinasi pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, peran besar dari industri keuangan juga diperlukan untuk membantu mencapai target vaksinasi.

"Tidak mungkin kita lakukan sendiri dan saya rasa yang bisa sangat membantu untuk menyelesaikan pandemi ini dengan suntikan sebanyak itu salah satunya adalah industri keuangan. Karena mereka itu cabangnya banyak, mereka stafnya banyak, dan juga customernya banyak banget," ujarnya.

"Kalau bisa mohon dukungannya kalau sekarang cuma 4 sentranya, begitu nanti bulan Juli kalau bisa masing-masing provinsi 4 jadi 34 provinsi dikali 4," tutupnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lansia yang Divaksin Baru 11 Persen, Masih Jauh dari Target

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 tahap kedua kepada warga lansia di di RPTA Gajah Tunggal, Jakarta Barat, Rabu (21/4/2021). Berdasarkan data hingga 19 April 2021, total 10.966.934 orang Indonesia telah menjalani vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/JohanTallo)
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 tahap kedua kepada warga lansia di di RPTA Gajah Tunggal, Jakarta Barat, Rabu (21/4/2021). Berdasarkan data hingga 19 April 2021, total 10.966.934 orang Indonesia telah menjalani vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/JohanTallo)

Sebelumnya, hingga Senin (26/4/2021) pencapaian vaksinasi COVID-19 kepada kelompok lansia masih jauh dari target. Dari 21,5 juta lansia yang ditargetkan ikut program vaksinasi, baru 11,22 persen atau sekitar 2,4 juta orang yang menerima vaksin dosis pertama.

Sementara itu, lansia yang sudah menerima vaksinasi dosis kedua baru sekitar 1,3 juta orang atau 6,18 persen. Padahal, lansia merupakan salah satu kelompok rentan terpapar COVID-19 sehingga diprioritaskan untuk mendapatkan suntikan vaksin terlebih dahulu.

Juru Bicara Penanganan COVID-19 dr. Reisa Broto Asmoro dalam konferensi pers virtual pada Senin (26/4/2021) siang mengungkapkan bahwa masih banyak lansia yang belum menerima haknya untuk divaksin.

“Bagi lansia yang masih ragu karena menderita penyakit komorbid, silakan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dokter akan memberikan tips khusus bagaimana tetap mengendalikan penyakit penyertanya sehingga dapat lolos screening pemeriksaan kesehatan sebelum divaksinasi,” kata Reisa.

Ia menambahkan, bagi lansia yang tidak nyaman pergi sendiri ke pos vaksinasi dapat meminta kesediaan anak dan sanak saudara untuk mengantar dan menemani. Selain sebagai bentuk bakti kepada orangtua, anak muda yang mengantar paling tidak dua lansia juga dapat divaksin di sentra vaksinasi yang disediakan pemerintah.

“Bantu daftarkan, antar, dan temani para orangtua kita,” ungkap Reisa.

Jakarta Paling Banyak Memvaksin Lansia

Petugas menyuntik vaksin Covid-19 kepada lansia saat kegiatan Sentra Vaksinasi Bersama COVID-19, Jakarta, Senin (15/3/2021). Sentra Vaksinasi Bersama COVID-19 bagi lansia untuk mendorong percepatan program vaksinasi nasional demi mencapai target satu juta vaksin per bulan. (Liputan6.com/Faizal Fanan
Petugas menyuntik vaksin Covid-19 kepada lansia saat kegiatan Sentra Vaksinasi Bersama COVID-19, Jakarta, Senin (15/3/2021). Sentra Vaksinasi Bersama COVID-19 bagi lansia untuk mendorong percepatan program vaksinasi nasional demi mencapai target satu juta vaksin per bulan. (Liputan6.com/Faizal Fanan

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Provinsi Bali paling banyak memberikan dosis pertama program vaksinasi COVID-19 tahap 1 dan 2 dengan persentase 97,3 persen, disusul DKI Jakarta 59,8 persen. Namun, DKI Jakarta justru paling banyak memberikan dosis pertama kepada lansia, dengan pencapaian 62,1 persen dari target sekitar 911 ribu lansia. Sementara Bali baru 30,6 persen dari target sekitar 340 ribu lansia.

Di sisi lain, DKI Jakarta jadi provinsi yang paling banyak memberikan suntikan dosis kedua dengan persentase 35,3 persen disusul Bali 30,3 persen. DKI Jakarta telah memvaksin 45,5 persen dari total target 911 ribu lansia. Sementara Bali tercatat sudah memvaksinasi dosis kedua kepada 10,4 persen dari total target 340 ribu lansia.

Reisa menambahkan bahwa vaksinasi dalam bulan Ramadan tidak membatalkan puasa. Menteri Kesehatan pun sudah mengingatkan semua pengelola program vaksinasi COVID-19 di Indonesia bahwa vaksinasi bagi lansia tetap terus berjalan.

“Vaksin COVID-19 akan mengurangi risiko fatal dari COVID-19 dan akhirnya akan menurunkan angka kasus yang harus dirawat di rumah sakit, angka kesembuhan akan tinggi, dan kasus akif akan rendah,” ujar Reisa.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: