Menkes Budi Gunadi: Testing COVID-19 di Atas 40 Ribu per Hari Buat Saya Happy

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Angka pemeriksaan (testing) COVID-19 nasional di atas 40.000 per hari rupanya membuat Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin senang (happy). Ini karena jumlah testing tersebut sesuai dengan target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per 14 Maret 2021, angka jumlah orang yang diperiksa terus meningkat, walau sempat mengalami penurunan pada pertengahan Februari 2021. Angka testing kembali naik akhir Februari 2021, bahkan mencapai di atas 100 persen.

"Memang kalau testing itu anjuran WHO sebesar 1 per 1.000 per minggu. Jadi, kita jumlah penduduknya 269 juta jiwa, artinya harus 269.000 per minggu atau 40.000 orang yang diperiksa per hari," ucap Budi saat Rapat Kerja Bersama Komisi IX DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, ditulis Rabu, 17 Maret 2021.

"Melihat angka testing kita sudah di atas 40.000 per hari buat Saya happy. Karena itu adalah targetnya WHO. Dan kita sudah sering (testing) di atas 40.000 orang per hari."

Adanya testing yang meningkat didukung kapasitas laboratorium pemeriksa spesimen COVID-19. Sejak kasus COVID-19 melanda Tanah Air, Pemerintah meningkatkan jumlah laboratorium pemeriksa spesimen. Kini, sudah ada 867 laboratorium jejaring.

"Kapasitas lab kita sekarang ada 867. Itu sudah lebih jauh dari cukup, karena kalau sehari saja ada lab yang memeriksa 100 spesimen, lalu ada juga yang periksa 300-400 spesimen per hari. Artinya, kapasitas lab kita bisa 70.000-80.00 spesimen per hari. Harusnya lebih dari cukup," imbuh Budi Gunadi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Mayoritas Laboratorium Pemeriksa Spesimen COVID-19 di Kota Besar

Dua peneliti IPB sedang meneliti spesimen berupa lendir dari pasien terindikasi terpapar Covid-19 di laboratorium milik IPB. (Istimewa)
Dua peneliti IPB sedang meneliti spesimen berupa lendir dari pasien terindikasi terpapar Covid-19 di laboratorium milik IPB. (Istimewa)

Yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) dalam testing COVID-19, menurut Budi Gunadi Sadikin adalah pemerataan laboratorium pemeriksa spesimen. Mayoritas lab berada di kota-kota besar.

"Sekarang tinggal pemerataannya, banyak lab terkonsentrasi di kota besar. Itu sebabnya kami menggunakan rapid test antigen untuk mendiagnosis," katanya.

"Karena rapid test antigen bisa digunakan lebih sederhana di kota kecil, tanpa harus tersedia lab standar bio-safety level 2. Bagusnya juga, rapid test antigen bisa cepat (keluar hasilnya). Prosesnya cepat di bawah 24 jam."

Budi pun mengakui bila ada laboratorium tersedia di suatu daerah, akses menuju ke lokasi tersebut jauh dari kota/kabupaten di sekitarnya.

"Saya mengakui masih banyak lab, terutama kalau jaraknya agak jauh atau satu lab melayani tiga kabupaten atau daerah. Itu jadi terlalu berat bebannya. Kami sedang atur kembali, bagaimana supaya masing-masing lab di assign (ditetapkan pemeriksaan spesimen) ke puskesmas tertentu," jelasnya.

"Ya, agar beban lab-nya tidak terlampau berat. Kami juga minta menggunakan rapid test antigen. Ini sudah diakui oleh WHO sebagai alat deteksi COVID-19. Mulai pekan lalu, angkanya tes antigen sudah masuk pada laporan hariannya kita (laporan harian COVID-19 nasional)."

Infografis 5 Tips Cegah Covid-19 Saat Beraktivitas dengan Orang Lain

Infografis 5 Tips Cegah Covid-19 Saat Beraktivitas dengan Orang Lain. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 5 Tips Cegah Covid-19 Saat Beraktivitas dengan Orang Lain. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: