Menkes Budi: Mohon Maaf Vaksinasi COVID-19 Tak Secepat Sebelumnya

Raden Jihad Akbar, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah menyampaikan dengan berat hati bahwa laju program vaksinasi di Indonesia bakal sedikit melambat. Sebab, sejumlah negara seperti di kawasan Eropa yang memproduksi antibodi bagi Virus Corona itu tengah mengamankan kebutuhan untuk dalam negerinya sendiri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, hal itu berdampak pada ketersediaan vaksin secara global. Khususnya yang dijual kepada negara-negara yang tidak memproduksi Vaksin COVID-19 tersebut, termasuk Indonesia.

Baca juga: Ketua Kadin Kalimantan, Sulawesi Hingga NTB Dukung Anindya Bakrie

"Sehingga jumlah vaksin yang tadinya tersedia untuk bulan Maret dan April masing-masing 15 juta dosis, atau totalnya 2 bulan adalah 30 juta dosis, kita hanya bisa dapat 20 juta dosis, atau dua pertiganya," kata di kantor Presiden, Jakarta, Senin 5 April 2021.

"Akibatnya laju vaksinasinya mohon maaf seluruh teman-teman media bisa sampaikan ke masyarakat, agak kita atur kembali. Sehingga kenaikan vaksinasi tidak secepat sebelumnya," tambahnya.

Sebelumnya juga disampaikan, rencana embargo vaksin sudah secara terbuka disampaikan India. Penyebabnya, di negara itu dan di negara-negara lainnya kasus harian COVID menigkat tajam atau terjadi gelombang ketiga.

"Kita harapkan kita sedang negosiasi dengan produsen-produsen vaksin dan negara-negara produsen vaksin mudah-mudahan di bulan Mei bisa kembali normal. Sehingga kita bisa melakukan vaksinasi dengan rate seperti sebelumnya yang terus meningkat," ujar Budi.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebetulnya Indonesia tergolong cepat menyuntikkan vaksin ke negara. Indonesia bukan sebagai produsen vaksin, tercatat berada di uruta 4 dan 8 dunia (secara keseluruhan), jika mengacu segi jumlah peserta vaksin yang sudah mengikuti imunisasi.

Hingga data terakhir, sudah 12 juta warga yang ikut program akbar pemerintah ini. Dalam waktu dekat, lanjut Budi, meski adanya pelambatan laju vaksin, maka Pemerintah saat ini mengutamakan penerima vaksin berdasarkan prioritas dan risiko, dalam hal ini lansia.

"Kita arahkan agar disuntikan terutama untuk para lansia, yang sebagian besar lansia. Kalau ada jatah sisanya kita suntikan ke guru, karena memang rencananya semua guru akan divaksinasi sampai Juni," ujarnya.