Menkes Budi Ungkap Alasan Pasien Kanker Pilih Berobat di Luar Negeri

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan pasien kanker di Indonesia memilih berobat di luar negeri. Menurutnya, karena dokter spesialis radio ongkologi di Indonesia sangat terbatas.

"Jadi kasian sekali memang kalau orang kena kanker di Indonesia. Itu sebabnya orang-orangnya mesti pergi keluar negeri dan antre di luar negeri," kata Budi saat konferensi pers, Kamis (2/6).

Budi menyebut, hanya ada satu perguruan tinggi dan rumah sakit di Indonesia yang memiliki spesialis radio ongkologi. Dia mengaku tak tahu mengapa perguruan tinggi dan rumah sakit lain di Tanah Air tidak bisa menciptakan spesialis radio ongkologi.

"Nanti saya akan minta harusnya ya kalau bisa banyak, kalau bisa 10. Kalau bisa di luar Jawa dan Jawa," ujarnya.

Selain kanker, lanjut Budi, Indonesia memiliki keterbatasan dokter spesialis jantung dan stroke. Khusus jantung, baru sekitar 28 provinsi yang dapat melakukan pemeriksaan non invasif jantung. Sementara untuk bedah jantung terbuka, baru dapat dilakukan di 22 provinsi.

"Kembali lagi, begitu dia harus bedah jantung terbuka, jumlah spesialisnya harus lebih banyak, itu kurang sekali," ucapnya.

"Jadi kasian sekali masyarakat kita. Itu baru jantungnya. Kalau kita turun ke stroke, itu kekurangannya lebih banyak lagi spesialis," sambung Budi.

Sebelumnya, Budi mengatakan Indonesia memiliki keterbatasan dokter spesialis. Standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, satu dokter melayani 1.000 penduduk.

Jika total penduduk Indonesia 270 juta jiwa, maka idealnya jumlah dokter di Indonesia sebanyak 270.000. Namun kenyataannya, dokter di Indonesia yang memiliki surat tanda register (STR) untuk praktik hanya 140.000.

"Jadi 140.000 kan kurangnya 130.000. Dokter produksinya setahun cuma 12.000. Butuh 10 tahun lebih untuk mengejar ketertinggalan kita," katanya. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel