Menkes Budi Ungkap Angka Kematian Ibu di Indonesia Lebih Tinggi dari Singapura

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan angka kematian ibu saat proses melahirkan anak di Indonesia tinggi, jika dibandingkan dengan Singapura. Penyebabnya lantaran banyaknya kasus pendarahan, hipertensi dan infeksi yang dialami perempuan.

"Angka kita yang terakhir 2015 surveinya, angka kematian ibu kita itu 305 (per) 100 ribu, bandingkan dengan Singapura, 8 (per) 100 ribu. Jadi tinggi sekali. Dan kita lihat kematian ibu di Indonesia, itu sebenarnya banyak karena pendarahan, hipertensi dan infeksi. Sebenarnya itu, bisa dicegah kalau misalnya pada saat melahirkan si ibu mendapat perawatan yang baik," kata Budi di Bali, Kamis (17/11).

Hal itu dia ungkapkan saat bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati serta Presiden Islamic Development Bank (IsDB) Muhammad Al Jasser, menghadiri pembangunan Gedung Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr IGNG Ngoerah, Denpasar, Bali, Kamis (17/11).

Budi mengatakan, bahwa groud breaking penguatan rumah sakit rujukan nasional dan unit teknis vertikal ini, penting karena penanganan angka kematian ibu di Indonesia masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN).

Maka dengan adanya hal itu, pembangunan enam rumah sakit ibu dan anak yang dibantu oleh investasi kesehatan pendanaan IsDB Group, dinilai bisa membantu mencegah kematian ibu di Indonesia.

Pembangunan enam rumah sakit ibu dan anak ini akan berada di dalam rumah sakit naungan Kemenkes RI. Yaitu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, RS dr Sardjito, Yogyakarta dan Prof Dr IGNG Ngoerah, Bali.

Proyek penguatan rumah sakit rujukan nasional dan unit teknis vertikal merupakan proyek yang dimulai pada tahun 2021 dan akan selesai pada tahun 2026. Proyek ini akan dilaksanakan di enam rumah sakit pelayanan terpadu yang tersebar di lima provinsi, dengan total pembiayaan proyek ini sebesar Rp4,2 triliun atau USD293 juta, dengan pendanaan dukungan isDB sebesar 89,3 persen dan pendanaan pemerintah Republik Indonesia sebesar 10,7 persen.

"Itu sebabnya kenapa kita fokus benar-benar, ibu pada saat melahirkan dan sebelum melahirkan mendapatkan akses perawatan yang baik," imbuhnya.

Ia juga menerangkan, untuk mencegah angka kematian ibu di public health center atau Puskesmas juga memberikan pelayanan ultrasonografi (USG) karena dulu puskesmas belum ada USG.

"Contohnya dulu, Puskemas kita tidak punya USG bayangkan dari 10 ribu (ibu hamil) cuma dua ribu (yang di USG). Jadi lebih banyak ibu-ibu kita yang lahir tidak pakai USG. Jadi kondisi anaknya tidak ketahuan, makannya pendarahannya tinggi sekali. Itu yang kita lakukan dan kita siapkan," ujarnya.

Ia juga menyebutkan, bahwa dengan adanya bantuan dari IsDB sebesar USD262 juta di sektor hilir, diharapkan mampu untuk menanggulangi angka kematian ibu di Indonesia. Sementara, untuk Sumber Daya Manusia (SDM) tentu juga disiapkan.

"Ini harus terintegrasi mulai dari hulu (Puskemas) sampai ke hilir di rumah sakit. Sekarang dibantu oleh IsDB adalah di hilirnya karena ini yang mahal 262 USD," ujarnya.

Di tempat sama, Muhammad Al Jasser menyampaikan, bahwa IsDB merasa terhormat menjadi mitra Indonesia dalam pelaksanaan agenda transformasi kesehatan yang menginspirasi ini.

"Dan hari ini menandai tanggal bersejarah yang menunjukkan dukungan abadi anda. Ini akan berlanjut dengan proyek Rumah Sakit Onkologi yang akan datang. Dan IsDB percaya ini hanyalah awal dari era baru di mana Indonesia bergandengan tangan dengan IsDB untuk menghadirkan solusi berkelanjutan," ujarnya. [cob]