Menkes Budi: Vaksinasi COVID-19 Lansia Tekan Kematian dan Kurangi Beban RS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, vaksinasi terhadap lansia bisa menekan kematian akibat COVID-19 dan mengurangi beban rumah sakit (RS). Ini karena kelompok lansia termasuk rentan terpapar virus Corona dan memiliki penyakit komorbid (jantung, diabetes, paru-paru, hipertensi).

Selain itu, kematian akibat COVID-19 lebih banyak terjadi pada lansia. Dari total populasi penduduk Indonesia, 10 persen diisi lansia. Lalu, diketahui 50 persen lansia meninggal akibat COVID-19.

"Kita melindungi teman-teman yang rentan. Usia di atas 60, mereka juga rentan untuk tertular COVID-19," ujar Budi saat temu media pada Minggu, 7 Februari 2021.

"Dengan adanya vaksinasi dapat menekan kematian, beban ke rumah sakit bisa dikurangi, beban tenaga kesehatan ikut berkurang. Sehingga sebagian besar lansia dapat dicegah dari paparan virus Corona."

Kementerian Kesehatan pun bersyukur, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah menyetujui penggunaan izin darurat (Emergency Use Authorization/EUA) vaksin Sinovac untuk lansia. Vaksinasi COVID-19 lansia dapat terlaksana.

"Lansia ini risikonya tinggi, jadi kita bersyukur setelah BPOM mengeluarkan Emergency Use Authorization untuk vaksin Sinovac bisa diberikan kepada orang di atas 60 tahun," imbuh Budi Gunadi.

"Ini juga berdasarkan uji klinis tahap ketiga di beberapa negara, sehingga Kemenkes bisa segera memberikan vaksinasi COVID-19 bagi orang yang usianya 60 tahun ke atas."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Vaksinasi COVID-19 Lansia Aman

Petugas medis mendata tenaga kesehatan sebelum disuntik vaksin COVID-19 Sinovac di Puskesmas Palmerah, Jakarta, Kamis (28/1/2021). Pemberian vaksin COVID-19 tahap kedua dilaksanakan terhadap tenaga kesehatan mulai hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas medis mendata tenaga kesehatan sebelum disuntik vaksin COVID-19 Sinovac di Puskesmas Palmerah, Jakarta, Kamis (28/1/2021). Pemberian vaksin COVID-19 tahap kedua dilaksanakan terhadap tenaga kesehatan mulai hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kepala BPOM Penny K Lukito mengungkapkan, hasil uji klinik vaksin COVID-19 Sinovac bernama CoronaVac untuk lansia di atas 60 tahun. Dari uji klinik fase 1 dan 2 di Tiongkok yang melibatkan subjek lansia sekitar 400 orang.

Vaksin CoronaVac yang diberikan dalam 2 dosis vaksin dengan jarak 28 hari memberi hasil imunogenisitas yang baik, yaitu seroconversion rate setelah 28 hari pemberian dosis kedua adalah 97,96 persen.

Kemudian keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik serta tidak ada efek samping serius yang dilaporkan usai pemberian vaksin.

Sementara itu, hasil uji klinik fase 3 di Brasil dengan subjek lansia 600 orang, pemberian vaksin CoronaVac pada kelompok usia 60 tahun ke atas aman, tidak ada kematian dan efek samping serius.

“Efek samping yang umum terjadi berdasarkan uji klinik yang dilakukan, antara lain nyeri pada tempat penyuntikkan, mual, demam, bengkak, kemerahan pada kulit sebesar 1,19 persen, dan sakit kepala 1,19 persen”, jelas Penny dalam keterangan resmi BPOM, Minggu (7/2/2021).

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: