Menkes: Intervensi spesifik stunting perlu sebelum-setelah kelahiran

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan intervensi spesifik stunting perlu dilakukan sebelum dan setelah kelahiran karena kondisi sebelum dan sesudah kelahiran merupakan faktor risiko yang paling besar penyebab stunting.

"Intervensi itu yang paling penting dilakukan sebelum ibu melahirkan karena itu adalah faktor risiko yang paling besar penyebab stunting. Intervensi kedua sesudah masa ASI eksklusif karena secara riset yang dilakukan para profesor, ini paling tinggi kontribusinya ke peningkatan stunting," kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI yang diikuti dalam jaringan di Jakarta, Senin.

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Menkes Budi menuturkan saat ini angka stunting Indonesia masih berada di 24,4 persen, dan Presiden Joko Widodo menginginkan agar angka stunting turun menjadi 14 persen.

Baca juga: Menkes: TTD dan pola hidup sehat harus mulai digalakkan sejak remaja

Baca juga: Menkes: Cuci tangan pakai sabun bagian terpenting tekan kematian bayi

Sekitar 23 persen anak lahir dengan kondisi sudah stunted akibat ibu hamil sejak masa remaja kurang gizi dan anemia. Kemudian, stunting meningkat signifikan pada usia 6-23 bulan akibat kurang protein hewani pada makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang mulai diberikan sejak usia enam bulan.

Oleh karena itu, intervensi sebelum dan setelah kelahiran menjadi prioritas Kementerian Kesehatan (Kemkes) dalam upaya percepatan penurunan stunting di Tanah Air.

Kementerian Kesehatan melakukan sejumlah program intervensi untuk percepatan penurunan stunting dengan memperhatikan faktor risiko paling besar penyebab stunting yakni di masa sebelum dan setelah kelahiran.

Program intervensi spesifik pada ibu sebelum melahirkan menyasar dua target yakni sebelum menikah atau masa remaja dan saat ibu hamil. Pada masa remaja, intervensi yang dilakukan meliputi skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri.

Remaja yang duduk di bangku kelas 7 SMP dan 10 SMA dilakukan skrining anemia untuk melihat kondisi apakah menderita anemia atau tidak. Untuk mencegah anemia, remaja diberikan tablet tambah darah.

Kemkes bekerja sama dengan puskesmas dan unit kesehatan sekolah untuk melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin pada remaja untuk melihat hasil penanganan anemia.

Sementara pada saat ibu hamil, program intervensi yang dilakukan meliputi pemeriksaan kehamilan, konsumsi tablet tambah darah, dan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronis.

Untuk mengetahui ibu hamil kekurangan gizi atau tidak, maka dilakukan program wajib USG dua kali dalam masa kehamilan pada K1 dan K5 untuk mengukur atau mengetahui panjang bayi, pertumbuhan bayi dan potensi stunting.

"Pada saat ibu hamil ini juga sama intervensinya, dia tidak boleh kekurangan gizi dan anemia," ujar Menkes Budi.

Sedangkan sesudah bayi lahir atau pada balita, sejumlah program intervensi yang dilakukan Kemkes mencakup pemantauan pertumbuhan balita, ASI eksklusif, pemberian MP-ASI kaya protein hewani bagi baduta, tata laksana balita dengan masalah gizi seperti weight faltering, gizi kurang, gizi buruk dan stunting.

"Intervensinya adalah memastikan gizinya baik tapi kita fokus juga ke penanganan kalau terjadi kasus kekurangan gizi," tuturnya.

Jika kasus bayi stunting, maka tindakan yang dilakukan adalah penanganan dari rumah sakit dan berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan perawatan dan makanan khusus penambah gizi.

"Kalau dia masih kasusnya weight faltering, under weight atau masih kurang gizi, itu intervensinya kita lakukan di puskesmas dengan pangan khusus," tuturnya.

Kemkes juga melakukan peningkatan cakupan dan perluasan imunisasi seperti vaksin PCV untuk mencegah pneumonia dan vaksin rotavirus untuk mencegah diare.

Pneumonia dan diare merupakan penyebab infeksi berulang atau berkepanjangan pada balita yang dapat mengganggu pertumbuhan.

"Kita memberikan vaksinasi dengan harapan bukan hanya memastikan gizi yang masuk cukup tapi juga memastikan gizi yang keluar itu juga tidak banyak karena terkena infeksi," kata Menkes Budi.*

Baca juga: Menkes: Imunisasi PCV untuk tekan Pneumonia sekaligus stunting

Baca juga: Menkes: Pemerintah intervensi stunting ke ibu dan balita