Menkes: Kasus Omicron di Indonesia seluruhnya berasal dari luar negeri

·Bacaan 2 menit

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan kasus positif COVID-19 akibat varian Omicron yang ada di Indonesia seluruhnya berasal dari orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Sudah terbukti bahwa semua kasus (Omicron) yang ada di Indonesia adalah imported case atau kasus yang masuk dari luar negeri,” kata Budi dalam konferensi pers PPKM yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Budi menyatakan bahwa pasien Omicron pertama yang terkonfirmasi pada Kamis (16/2) dengan inisial N yang merupakan petugas pembersih di Wisma Atlet Kemayoran itu, telah terpapar sejak 8 Desember 2021.

Baca juga: Menkes: Kasus Omicron di dunia berkembang delapan kali lebih cepat

Pasien tersebut telah tertular oleh seorang wanita Indonesia yang datang kembali ke Tanah Air pada tanggal 27 November 2021 dari Nigeria.

Dengan adanya temuan kasus tersebut, katanya, semua kasus yang terjadi pada masa karantina dapat ditangkap dan dilacak dengan cepat. Sehingga, sampai saat ini varian Omicron tersebut belum ada yang menyebar keluar tempat karantina.

“Oleh karena itu, perlu kita perketat kedatangan luar negeri dan karantina kita agar kasus-kasus yang datang dari Nigeria, London, Guyana di Amerika ini bisa terus kita jaga,” ucap dia.

Menurut Budi, meskipun Omicron belum tersebar luas di masyarakat, pemerintah perlu mulai memperketat kedatangan dari luar negeri. Sebab, dalam waktu seminggu terakhir telah terjadi peningkatan pelaku perjalanan luar negeri yang cukup tinggi di seluruh pintu masuk negara.

Sedangkan pada masyarakat, vaksinasi perlu lebih dipercepat. Karena selain dapat melindungi dari berbagai macam varian COVID-19, sedikit lagi Indonesia bisa mencapai target yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dengan rincian, vaksinasi per 20 Desember 2021, dari sekitar 260 juta dosis vaksinasi, sebanyak 152 juta warga sudah mendapatkan suntik vaksin dosis pertama. Sedangkan 107 juta warga sudah mendapatkan suntik dosis kedua.

Baca juga: Ahli Kesehatan: Tidak perlu khawatir berlebih atas Omicron

Baca juga: Mensos: Semangat HKSN bisa cegah penularan Omicron di Indonesia

Pada vaksinasi anak yang baru berjalan selama sepekan, Budi menyebutkan vaksinasi yang dilakukan sudah mencapai 542 ribu suntikan.

“Untuk mengejar target WHO yang 40 persen dari total populasi atau sekitar 108 juta, kami rasa dalam dua hari ke depan kita sudah bisa mencapai target WHO full 40 persen dari populasi dua kali suntik,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan ke depannya jenis vaksin yang akan banyak masuk ke Indonesia adalah merek Pfizer dan AstraZeneca. Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi dengan tidak memilih-milih jenis vaksin tertentu guna menghambat masuknya Omicron ke dalam komunitas lokal.

“Jadi, kedatangan luar negeri harus dihambat, tes WGS diperketat, vaksinasi dipercepat dan protokol kesehatan PeduliLindungi juga kita perketat,” tegas dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel