Menkes kemukakan kerangka kerja penanggulangan tuberkulosis

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan empat kerangka kerja penanggulangan penyakit tuberkulosis (TB) yang digagas dalam diplomasi Pertemuan Kedua Menteri Kesehatan (2nd HMM) G20 bidang kesehatan.

"TB adalah penyakit infeksius, kerangka kerjanya ada empat," kata Budi Gunadi Sadikin dalam agenda konferensi pers 2nd HMM di Bali, Kamis.

Pertama, menyesuaikan protokol kesehatan seperti penanggulangan COVID-19 melalui cara Menggunakan Masker, Menjaga Jarak, Mencuci tangan (3M).

Menurut Budi, penanggulangan TB perlu memastikan lingkungan yang sehat serta ventilasi udara yang bagus.

Kedua, perlunya memperkuat jaringan laboratorium deteksi penyakit dalam rangka memperkuat pengawasan TB. "Saat terdeteksi positif TB, segera bawa ke fasilitas pelayanan perawatan. Harus bisa pastikan kontak pasien dikenali dan diindentifikasi, ini sama seperti TB," katanya.

Baca juga: Indonesia dukung inisiatif WHO kembangkan vaksin terbaru TB

Baca juga: WHO dorong investasi G20 tanggulangi Tuberkulosis

Menurut Budi, peningkatan pengawasan TB perlu diintensifkan, sebab berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari sekitar 842 ribuan orang terindentifikasi TB, tapi hanya 200 ribuan saja yang teridentifikasi nama dan alamat yang jelas.

"Orang ini dapat menyebarkan TB. Kami tingkatkan pengawasan, tes PCR dilakukan di laboratorium harus digabungkan dengan rongent sehingga ada pengawasan berbeda," katanya.

Budi mengatakan, terapi TB menjadi kerangka kerja keempat penanggulangan pandemi melalui pengadaan vaksin hingga pembentukan jejaring 'orang tua asuh' bagi pasien.

"Indonesia diminta oleh sejumlah badan terkait untuk menjadi lokasi uji coba vaksin TB terbaru. Merawat pasien TB ada standarnya, harus rawat rutin enam bulan, harus bisa temukan mekanisme seperti orang tua asuh dalam mengingatkan minum obat," katanya.

TB adalah pembunuh menular tertinggi kedua di dunia setelah COVID-19, merenggut hampir 4.100 nyawa sehari. Ini adalah pembunuh utama orang dengan HIV dan kontributor utama kematian terkait resistensi antimikroba.

WHO mengestimasikan 10 juta orang sakit dengan TB setiap tahun dan 8 persen di antaranya adalah orang di Indonesia, dengan 824.000 angka kejadian (insidensi) TB setiap tahun.
Indonesia adalah negara dengan beban TB tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Cina.

Target mengentaskan TB pada 2030 sesuai arahan WHO memiliki implikasi biaya. Pemodelan terbaru memperkirakan, jika dunia tidak memenuhi TB secara global, akan terjadi 31,8 juta kematian TB dan kerugian 18,5 triliun dolar AS selama periode 2020-2050.

Baca juga: Wamenkes: Pendanaan global pengendalian TB bertambah empat kali lipat

Baca juga: Pakar: Penting bagi dunia untuk susun pendanaan bagi TBC