Menkes Sebut Libur Panjang Picu Naiknya Positivity Rate COVID-19

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Momen Imlek di akhir pekan dianggap menjadi salah satu pemicu utama angka positivity rate meningkat. Hal tersebut dituturkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang mengatakan pola kenaikan angka positivity rate itu kerap berulang tiap masa liburan.

Tak melulu saat Imlek, nyatanya kenaikan angka itu selalu tercatat saat liburan panjang di tengah Pandemi COVID-19. Alasannya, di hari libur jumlah testing tentu menurun yang membuat positivty rate menanjak tajam.

"Data positivity rate-nya selalu naik di saat liburan. Karena positivity rate itu adalah jumlah testing dengan perbandingan kasus, karena setiap hari libur jumlah testingnya turun, sehingga positivity ratenya naik. Kebetulan di 4 hari terakhir ini liburannya panjang terkait Imlek maka positivity ratenya naik," ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring, Rabu 17 Februari 2021.

Sebaliknya, kenaikan positivity rate itu tak ada kaitannya dengan tren peningkatan kasus COVID-19 di Tanah Air. Terlebih, laju penularan, kata Menkes Budi, sudah menurun sejak 4 pekan terakhir.

"Turunnya kasus konfirmasi dan turunnya pasien yang dirawat di RS, memang disebabkan karena laju penularannya berkurang dan kalau kita analisa memang itu disebabkan karena puncak dari laju penularan Nataru (Natal dan Tahun Baru) sudah dicapai," jelas Menkes Budi.

Kendati demikian, angka positiviry rate di hari biasa, memang masih cukup tinggi. Diakui Menkes Budi, diduga hal tersebut disebabkan banyaknya data angka negatif COVID-19 yang luput diinput.

"Kami mengamati bahwa banyak data mengenai hasil tes PCR kalau itu sifatnya negatif belum langsung dikirim ke pusat sehingga data yang kami terima lebih banyak data yang positif. Karena jumlahnya begitu banyak dan sistem memasukkannya datanya masih rumit sehingga banyak lab yang memasukkan data positif dulu," tegasnya.