Menkes Ungkap 2 Strategi Konkret TNI-Polri Gempur Wabah Corona

Ezra Sihite, Foe Peace Simbolon
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut diperlukan sistem pertahanan dan “persenjataan” dalam menghadapi pandemi COVID-19. Belum lagi kata dia, pandemi ini telah berdampak pada meninggalnya dua juta orang dari berbagai belahan dunia.

"Kami menyadari membutuhkan sistem pertahanan yang berbeda dan persenjataan yang berbeda untuk melawan musuh yang sudah membunuh jutaan manusia ini. Dan sistem persenjataan ini merupakan kombinasi dari Polri, TNI dan juga dari Kementerian Kesehatan bersama-sama," ucap Budi Sadikin di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta pada Kamis 11 Februari 2021.

Berbeda dengan perang pada umumnya, dalam perang melawan pandemi ini yang jadi target operasi kata Budi merupakan cara mengurangi laju penularan. Oleh karena itu mencapai target tersebut ada dua strategi yang dilakukan bersama dengan TNI dan Polri. Pertama adalah surveillance atau intel soal cara mengetahui di mana dan kemana musuh bergerak.

Kementerian Kesehatan sedikitnya butuh 30 orang tracer per-100 ribu penduduk yang harus tersebar di seluruh desa di Tanah Air. Sehingga dibutuhkan 80 ribu tracer di seluruh desa. Dia menambahkan, bila hanya mengandalkan Kemenkes, jumlah tracer yang dibutuh tidak akan tercapai. Untuk itu, dilibatkan TNI dan Polri yang punya personel di seluruh wilayah.

"Dulu dilacaknya pakai teknik interograsi. Sekarang pakai teknik testing dan tracing. Strategi surveillance atau strategi intelegensi ini untuk mengidentifikasi musuhnya di mana, dengan melibatkan minimal 80.000 tracer atau intel. Itu sebabnya kita dibantu, cuma intelnya bukan intel cari musuh manusia, intelnya cari musuh virus," kata dia.

Selanjutnya, strategi kedua yaitu bagaimana cara membunuh "musuh". Budi menjelaskan, dalam konteks pandemi COVID-19, musuh yang harus dibunuh adalah virus pada tubuh manusia. Musuh yang adalaha virus itu bisa dibunuh dengan cara memberi vaksin. Budi karena itu menyebut TNI dan perlu dilibatkan dalam proses vaksinasi sehingga bisa selesai sesuai target.

"Sekali lagi ini adalah perang di mana kita harus membunuh musuh, kita menggaet bapak-bapak dari Polri dan TNI. Cuma bunuhnya enggak pakai pistol tapi bunuhnya pakai jarum suntik," katanya lagi.