Menkes yakinkan lonjakan kasus COVID-19 bukan karena mobilitas

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meyakinkan bahwa lonjakan kasus COVID-19 bukan diakibatkan oleh mobilitas, melainkan varian virus baru.

Menkes Budi mengatakan terjadinya, lonjakan kasus karena adanya varian baru itu telah dibuktikan secara data saintifik.

“Buktinya apa? Buktinya Lebaran kemarin kita tidak naik, bola-bola, G20, kita tidak naik,” ujar dia ditemui di RSAB Harapan Kita Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan varian COVID-19 yang membuat kenaikan kasus yakni BQ.1 dan XBB. Indonesia, dikatakan, sudah melewati virus tersebut dan sudah ada yang terpapar.

Sementara di negara China lonjakan kasus COVID-19 yang banyak adalah varian BA.5, BA.275 dan BF.7.

“Yang BA.5 di kita udah lewat siklusnya, yang BA.275 sudah lewat, tinggal yan BF.7 ini sudah kita lihat di Indonesia sudah ada. Kenaikannya itu kecil sekali, 15 kasusnya,” ujar Budi.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan secara umum angka kasus COVID-19 di Indonesia terkendali dengan laju kasus yang rendah di bawah indikator positivity rate yang ditetapkan WHO sebesar lima persen.

Namun Wiku mengingatkan masyarakat tentang potensi importasi kasus dari sejumlah negara yang sedang mengalami lonjakan kasus, seperti di China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Jerman.

"Kementerian Kesehatan melakukan survailens genomik untuk mengamati varian maupun subvarian yang beredar di Indonesia. Bila ada introduksi varian baru dari luar negeri akan terdeteksi lebih dini," ujarnya.

Selain itu, pengawasan juga berlaku di bandara dan titik masuk negara melalui pemeriksaan suhu dan gejala COVID-19 pada pelaku perjalanan.

Pemerintah meminta masyarakat agar tetap disiplin menjalani protokol kesehatan agar terhindar dari paparan COVID-19, khususnya selama libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023.


Baca juga: Menkes: 12.500-15.000 bayi baru lahir alami penyakit jantung bawaan
Baca juga: Menkes: Perlu intervensi meninggal penyakit jantung dengan cath lab