Menkeu: Kesetaraan gender akan tambah PDB global 28 triliun dolar AS

·Bacaan 1 menit

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menuturkan kesetaraan gender akan menambahkan nilai perekonomian global sebesar 28 triliun dolar AS atau sebesar 26 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia pada tahun 2025.

"Ini adalah saat kita dengan penuh menyetarakan peran wanita dengan pria, khususnya di ekonomi dan pasar ketenagakerjaan," ungkap Menkeu Sri Mulyani dalam acara Kick-Off Ceremonial G20 Empower dan Women20 secara daring di Jakarta, Rabu.

Selain itu ia mengatakan dengan hanya mempercepat langkah kesetaraan wanita saja, ekonomi global berpotensi meningkat setidaknya 12 triliun dolar AS atau 11 persen dari PDB global di tahun 2025.

Karena itu, lanjut dia, keuntungan yang didapat sangatlah nyata, meskipun kesetaraan gender masih belum juga tercapai hingga saat ini.

Baca juga: Kementerian PPPA: Masih ada kesenjangan gender dalam dimensi ekonomi

Menurut Sri Mulyani, kajian World Economic Forum menunjukkan bahwa akan memakan waktu sekitar 100 tahun agar dunia bisa mencapai kesetaraan gender.

"Jadi ini adalah jalan yang sangat panjang bagi kita semua," ucap Menkeu Sri Mulyani.

Kendati demikian ia mengingatkan populasi perempuan di dunia sangat besar dan hampir separuh dari penduduk dunia, sehingga kesetaraan gender tidak hanya baik dari segi moral, tetapi sangat pintar dan benar dari sudut pandang strategi ekonomi.

Dari sudut pandang ekonomi, kata dia, investasi dalam sumber daya manusia jelas sangat penting bagi masa depan ekonomi atau bangsa mana pun.

"Peran seorang wanita adalah kunci dalam mempromosikan kesejahteraan bersama untuk semua, yang merupakan hal penting untuk kelangsungan, serta keberlanjutan bagi setiap bangsa atau negara," tegas Menkeu Sri Mulyani.

Baca juga: Menkeu: Negara yang dipimpin wanita cenderung lebih baik saat pandemi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel