Menko Airlangga Bocorkan Harga Komoditas yang Bakal Naik, Ini Daftarnya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan beberapa komoditas akan mengalami kenaikan harga yang cukup pesat beberapa waktu mendatang. Komoditas tersebut antara lain harganya diantaranya adalah minyak kelapa sawit (CPO), nikel, karet hingga tembaga dan emas.

Berdasarkan data proyeksi kementerian dari sumber Bank Dunia, CPO naik dari USD759 pada 2020 menjadi USD969 pada 2021, karet dari USD1,75 menjadi USD2,24, alumunium dari USD1,721 ke USD2,188, nikel dari USD13,928 ke USD16,406 dan batu bara USD77,6 ke USD61,4.

Dengan demikian data ini menunjukkan, harga-harga komoditas dunia mengalami peningkatan pesat pada tahun ini. Pihaknya pun mengimbau agar fenomena kenaikan harga-harga komoditas itu bisa dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk mempercepat hilirisasi.

"(Kenaikan) Ini seiring naiknya demand (permintaan). Dengan kenaikan ini Indonesia tentu diharapkan bisa memanfaatkan komoditas boom ini dengan hilirisasi agar lebih sustain," katanya, Jakarta, Rabu (19/5).

Menko Airlangga melanjutkan, untuk nikel, pemerintah telah menekankan kebijakan hilirisasi dengan menekan kebijakan ekspor dalam bentuk bahan baku diolah menjadi produk jati. Pengolahan ini setelah adanya industri smelter berbasis nikel dan baja.

"Ini jadi bagian dari kebijakan hilirisasi. Di mana sebelumnya kita hanya ekspor bahan baku. Dan 4 sampai 5 tahun ini kita bangun industri berbasis nikel dan baja ini sudah mampu ekspor diatas USD10 miliar tentu ini jadi capaian yang baik," jelasnya.

Untuk itu, hilirisasi nikel bisa diikuti dengan program hilirisasi untuk komoditas lain. Beberapa di antaranya seperti aluminium dan batu bara, dengan cara membangun industri pemurnian atau smelter yang lebih terintegrasi sehingga bisa memberikan nilai tambah produk.

"Bisa dengan dibangun smelter-smelter. Ini tentu memberi kita waktu recover ekonomi lebih cepat dan khusus sawit momentum ini akan didorong dari revitalisasi kebun rakyat dengan program replanting yang terintegrasi dananya dari BPDPKS dan KUR," tandas Menko Airlangga.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Harga 8 Komoditas Ekspor Ini Meroket Meski Ada Corona

Untuk memperkuat nilai tambah produk emas, Antam terus melakukan inovasi produk dan penjualan.
Untuk memperkuat nilai tambah produk emas, Antam terus melakukan inovasi produk dan penjualan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian global pada Mei 2020 masih mengalami kontraksi yang cukup dalam. Meski demikian, di tengah pandemi Virus Corona masih ada 8 komoditas yang mengalami kenaikan harga.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya perak, seng, tembaga, nikel, timah, cokelat, emas dan karet. Sementara dari sisi migas, minyak mentah turut mengalami kenaikan harga.

"Ada beberapa komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan harga dari April ke Mei 2020 di antaranya harga perak, seng, tembaga, nikel, timah, cokelat, emas dan juga karet," ujar Suhariyanto, Jakarta, Senin (15/6).

Suhariyanto melanjutkan, saat ini perkembangan perekonomian masih sangat buruk sekali. Perekonomian global mengalami kontraksi dan diberbagai negara terjadi pelemahan daya beli karena masih banyak menerapkan psysical distancing.

"Hal ini juga berpengaruh dari sisi produksi selama April-Mei terjadi berbagai perkembangan harga tapi umumnya mengarah kepada penurunan. Kalau kita lihat harga minyak mentah di dunia pada April 2020 adalah 20,66 USD per barel pada Mei ada kenaikan 25,67 USD per barel," jelasnya.

"Artinya harga minyak mentah mengalami peningkatan sebesar 24,25 pesen. Tetapi jika kita bandingkan dengan Mei 2019 terjadi penurunan signifikan yaitu 22,3 persen," sambungnya.

Dia menambahkan, ada juga barang dan komoditas yang mengalami penurunan harga pada bulan lalu. Penurunan tersebut terjadi, salah satunya karena pelemahan permintaan pasar.

"Beberapa komoditas mengalami penurunan harga di antaranya batubara, dari bulan April ke Mei turun 10,41 persen kemudian juga terjadi penurunan untuk minyak sawit. Minyak sawit dari April ke Mei mengalami penurunan 5,75 persen," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: