Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Mulai Bergerak

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ekonomi Indonesia sudah masuk fase perbaikan. Geliat ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda positif.

"Pertama, kami ingin meng-update situasi perekonomian kita relatif memberi tanda-tanda positif," ujar Airlangga dalam konferensi pers online, Jakarta, Jumat (23/4/2021).

Airlangga memproyeksi, perbaikan akan segera terjadi pada investasi, konsumsi, ekspor serta pengeluaran pemerintah. Hal ini juga tergambar dalam indeks keyakinan konsumen dan penjualan kendaraan bermotor.

"Proyeksi kita, arah recovery, kita berharap ada kenaikan dari investasi kemudian konsumsi, pengeluaran pemerintah maupun ekspor. Kita bisa melihat indeks keyakinan konsumen maupun penjualan kendaraan bermotor di Maret meningkat," jelasnya.

Airlangga merinci dari segi pengeluaran pemerintah, penyaluran anggaran sudah cukup baik dan sesuai peruntukkannya. Demikian juga, dalam 3 bulan ini neraca perdagangan positif kemudian ekspor juga tinggi.

"Demikian juga impor meningkat, ekonomi mulai bergerak. Peningkatan belanja mulai naik di April, kegiatan industri juga sudah naik," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

BI Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021, Ini Penyebabnya

Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 ini akan berada pada rentang 4,1-5,1 persen. Angka tersebut turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 4,3-5,3 persen.

Perry melihat, tingkat pertumbuhannya memang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Itu tidak terlepas dari masih terbatasnya mobilitas masyarakat lantaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro yang diperpanjang di berbagai daerah.

"Ini kan kemudian tentu saja berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat. Yang kita lihat ini terutama memang di triwulan I dan II kan meski terjadi vaksinasi, tentu saja ada pembatasan mengenai mobilitas manusia," ujarnya dalam sesi teleconference, Selasa (20/4/2021).

Menurut dia, terbatasnya pergerakan tersebut turut menyebabkan tingkat kenaikan konsumsi swasta yang belum setinggi yang telah diperkirakan sebelumnya.

"Sehingga penurunan proyeksi karena tingkat pertumbuhan konsumsi swasta itu tidak setinggi yang diperkirakan," kata Perry.

Kendati demikian, dia tetap mencermati adanya sejumlah perbaikan ekonomi memasuki kuartal kedua tahun ini. Itu didukung oleh kinerja ekspor yang lebih bagus hingga akselerasi kebijakan fiskal yang terus dilakukan guna mendukung pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lebih lanjut.

"Yang kita lihat konstruksi juga mengalami peningkatan, juga peningkatan dari berbagai indikator seperti ekspektasi konsumen, penjualan ritel, itu terus mengalami peningkatan," tuturnya.